09. Kisah Anak dan Rusa

1057 Words
Mr. Williams menjelaskan semua kejadian mengerikan di hari itu. Tidak ada yang tertinggal, sedetail mungkin. Sebuah rahasia yang selama ini dia pendam karena tak ingin mengungkitnya. Dia tak menyangka dirinya sendiri yang malah menceritakan kisah ini pada sang cucu. Kisah Anak dan Rusa. Sebuah persahabatan yang manis tentang manusia dan hewan, tapi berakhir tragis. "Itu tidak mungkin, jika aku mati, lalu bagaimana aku bisa hidup dan tumbuh begini? Maksudnya apa? tolong jangan mengarang cerita, Kek, aku serius—ini tidak lucu." Amy merasa sesak napasnya akan kambuh. "Jangan membuat-buat kisah agar aku merasa bersalah pada Keno." "Aku serius, Amy, kau tewas saat itu—aku memeriksamu sendiri, dan Cernunnos menghidupkanmu lagi dengan dua tanduknya. Dia bilang itu bagian dari tubuh juga dan bisa memanggil orang mati, aku tidka tahu jelasnya, tapi saat dia menanamkan tanduk itu di tubuhmu, kau bernapas lagi." "Tidak mungkin." "Itu sungguhan. Aku tidak bohong. Tanduk itu juga yang membuatmu tumbuh tidak sakit-sakitan lagi, menurutmu, kenapa sesak napasmu tidak kambuh selama ini? Karena kau membawa bagian tubuh dari Cernunnos di tubuhmu—kau sadar, bukan? Dia itu sudah seperti memelihara kehidupan, kau seperti bunga yang dia rawat agar tetap hidup." "Tidak mungkin!" "Terserah kau percaya atau tidak, tapi, Amy—kuberitahu sesuatu, Cernunnos itu—makhluk abadi, namun bukan berarti tidak bisa mati." Amy melotot tak percaya. "Apa maksudnya itu?" "Begini—" Kakeknya bertambah serius. "Aku tahu kau tidak percaya beginian, aku juga tidak percaya, tapi ini serius, sudah 16 tahun berlalu, Cernunnos tidak menua sedikitpun. Dia mengakui sendiri kalaupun dia mati, dia akan lahir lagi. " "Kenapa—sekarang malah lebih horor—Kek, jangan—jangan bercanda begini." "Tapi karena tanduknya bersamamu, dia pasti mati kapan saja, artinya, jika dia mati, kau juga mati, bedanya kau takkan hidup lagi dan dia takkan mengingatmu setelah itu. Kalimat termudahnya, kau itu membawa jiwanya Cernunnos." "Lalu apa hubungannya dengan pernikahan?" "Sederhana, kalian akan bersatu dan hidup di hutan kembali." "Ini tidak mungkin." "Karena itulah aku langsung melakukan pertunangan kalian saat itu juga, dan kau harusnya berterima kasih padaku. Aku meminta usiamu dua puluh dua tahun agar bisa dinikahi, tadinya Cernunnos meminta saat usiamu lima belas tahun." "Ini neraka." "Amy, singkirkan sisi egoismu, dia sangat baik dan bertanggungjawab. Menurutmu, kenapa kau selama ini selalu aman dari bahaya? Karena dia sering mengawasimu—dan di saat dia butuh bantuan seperti ini, kau malah keras kepala." "Butuh bantuan apa?" "Sejak menukar tanduknya dengan hidupmu, dia jadi lemah, gampang jadi sasaran makhluk jahat di hutan." "Peri—" Amy mulai teringat ada serangan makhluk aneh ke apartemennya tempo hari. "Keno juga bilang begitu, ada yang ingin menyingkirkannya." "Sihir itu ada, dan walaupun Kakekmu ini penganut sains garis keras, hal-hal semacam ini ada di sekitar kita. Kau tak bisa menghindari ini, Amy, terimalah Cernunnos, aku masih tidak mengerti tujuan lain dari pernikahan kalian—tapi percayalah, dia itu sebenarnya baik, mungkin saja ada efek samping penggunaan kekuatan tanduknya jika kau tidak menikahinya setelah lewat masa perjanjian, usia dua puluh dua tahun." "Aku harus apa? dia tidak ada di manapun." "Pulanglah, siapa tahu dia sudah pulang." Amy tidak yakin. Dia mengerutkan dahi, membayangkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi saat dia keluar tadi. Mengapa taman ruang tengah mereka mendadak mengering, lalu ada burung mati? Wanita ini menunduk sembari memainkan telapak tangannya. Masih banyak rahasia yang belum dia ketahui. Ada apa dengan dewa hutan itu? apakah ada alasan mendesak sampai dia keras kepala ingin menikahinya? Apakah dia sungguh akan mati jika perjanjiannya tidak dilakukan? Lalu—mengenai sore itu, siapa para pria bersenjata yang mengejarnya? Karena orang-orang itulah dia akhirnya bertemu dengan Cernunnos, sang dewa hutan yang menuntut janji. "Ini tidak mungkin," ucapnya untuk yang kesekian kali. Kakeknya menggenggam telapak tangan Amy dengan erat. "Amy, aku sangat menyayangimu, kau tahu rasanya kehilangan anggota keluarga dala sekejab, ayahmu—ibumu—," Dia menundukkan wajahnya yang sedih. "Kenapa bukan aku saja yang mati. Mereka masih muda. Saat itu aku sudha memohon pada Cernunnos agar menukar nyawaku dengan mereka—" Senyuman pedih menghiasi bibir bergetarnya. "Dia bilang, ucapanku konyol sekali. Tentu saja, dia tidak bisa. Lagipula, mayat kedua orangtuamu sudah hancur terbakar." Amy terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka terbesit pemikiran semacam itu di benak sang kakek. Dia sontak memeluk pria tua itu dengan sangat erat. Sebuah pelukan penuh cinta yang tak pernah terjadi sebelumnya. "Jangan berpikir seperti itu." Terjadi keheningan selama beberapa saat. "Menurutmu aku mau kau hidup terasing di dalam hutan? Ambil sisi positifnya, hutan tempat dia tinggal dekat dengan rumah ini, dan mungkin ada rahasia yang lain yang masih disembunyikan olehnya," ucap sang kakek. "Mungkin." Amy tak tahu harus bagaimana lagi. Pria itu mengelus rambut cucunya dengan lembut, lalu tersenyum. "Kedewasaan itu selalu ditandai hilangnya ingatan masa kanak-kanak. Percayalah padaku, dulu kau sangat mencintai rusa itu, kau memanggilnya Tuan Rusa." "Aku ingin mengingatnya sekarang." Amy semakin jatuh dalam kesedihan. Perasaan hilang yang sedari tadi dirasakan ternyata berasal dari Keno. Dia melepaskan pelukan itu, lalu menyentuh dadanya. "Tanduknya ada padaku?" "Ya." "Kalau begitu, aku akan mencarinya—dan menanyakan sendiri apa yang terjadi, mengapa aku tak ingat segalanya, dan sebenarnya apa lagi yang dia sembunyikan." "Memangnya kau tahu dia dimana?" "Pasti di hutannya." "Tapi menurutku kau jangan berkeliaran, Amy, setelah mendengarmu dikejar orang misterius, aku jadi khawatir." "Tak perlu khawatir, dari pagi aku sendirian keluar rumah, tidak terjadi apapun, dan lagipula, seperti kata Kakek, bukankah aku selalu dilindungi Cernunnos, sang dewa hutan?" Amy tersenyum setelah mengatakan itu. walaupun dalam hatinya masih cemas, ada sesuatu yang membuat Keno tiba-tiba menghilang, bahkan merpatinya mati. Kakeknya berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kutemani? Lebih baik kutemani dahulu daripada tidak." "Jangan, Kakek di rumah saja dan berkebun, siapkan semangka untuk kami. Kami suka semangka, dan sepertinya dia yang sangat menyukai itu bukan?" "Kau yakin? Sepertinya aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri." ",Tidak masalah. itu bukanlah masalah." "Tapi ..." "Kek, dalam tubuhku ada tanduk dewa, memangnya ada yang bisa melukaiku? memangnya dipikir - pikir ada yang bisa melukaiku? coba dipikir kembali, apakah ada yang bisa melukaiku?" "Well ..." "Bukan masalah, lagipula semua ini kulakukan demi diriku sendiri." "Wah~ aku tak menyangka cucuku mulai percaya fantasi." Amy terpaksa tertawa, walau pelan sekali. Ada benarnya juga, untuk sementara—dia harus percaya fantasi dan mengakui Keno benar-benar seorang dewa. Tidak mungkin kakeknya berakting sampai nyaris menitikkan air mata, artinya semua itu—kebenaran. Cernunnos menghidupkannya kembali saat mengalami kecelakaan. ______
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD