Sehari setelah kejadian elf atau peri yang menyerang apartemen itu, Amy mulai beraktifitas seperti biasa. Dia mulai menerima kekuatan dari Keno, sama sekali tak keberatan. Lagipula berkat keberadaan dewa itu, udara di dalam apartemennya sangat segar. Hutan kecil di ruang tengah pun tampak sangat teduh. Dimana lagi bisa menonton televisi ditemani pepohonan kerdil? Posisi karpet sudah digantikan oleh rumput alami.
Keno rajin menyemprotkan air ke semua tanamannya. Kuncup-kuncup bunga mawar mulai bermekaran. Aroma semerbak mulai menggantung di udara yang dingin ini. Kegiatannya saat di hutan maupun di kota memang tetap saja, memelihara tumbuhan.
Amy beberapa kali mengintip kegiatanya. Awalnya hanya penasaran dengan tumbuhan hidup itu, tapi lama-kelamaan malah fokus pada Keno.
Keno memakai kaos berbahan tipis yang ia belikan, warnanya hijau cerah, dipadu dengan celana jeans hitam ketat. Dia sudah seperti pria pada umumnya, hanya saja lebih menawan.
Amy sama sekali tak menyangka kalau dewa hutan itu memiliki bentuk tubuh yang bagus. Menurut pandangannya, Keno tidak lagi mirip model atau atlit olah raga, melainkan pangeran dari negeri dongeng. Ya, selama tinggal di U.S, dia tak pernah melihat ada makhluk seindah itu.
“Mungkin aku kurang tidur—” ucapnya memijat kening, masih tak ingin menyadari bahwa Keno memang menarik. “Yang ada juga pangeran katak.”
Keno memetik bunga mawar merah. “Sayang, ini untukmu—” Memberikannya pada Amy. Dia tahu kalau wanita itu mengintipnya dari tadi. “Ini.”
Amy menerimanya seperti tengah terbuai. Dia menghirup bau harum bunga itu, lalu tersenyum. Beberapa detik kemudian, senyumnya luntur karena menyadari sesuatu. “Apa barusan kau memanggilku Sayang?”
“Iya, kenapa?”
“Sudah kubilang aku tak mau menikah denganmu dan hidup di hutan denganmu. Kau sudah gila ya? Aku ini model, aku tak peduli sekaliun kau menerbangkan angin topan ke arahku, aku ingin berkarir.”
“Kita sarapan apa?” Keno menghiraukannya dengan berjalan ke ruang makan. “Aku ingin makan pasta, Amy.”
“Ayo makan pasta kalau begitu—” Amy setuju, lalu mengikutinya pergi. Setelah lima detik, dia tersadar, kenapa kesannya seperti dihipnotis? Apa yang terjadi barusan?
Hidup berdua dengan Keno selama beberapa hari membuat Amy merasa nyaman. Dia seperti berada di "rumah". Benar, entah apa yang terjadi Keno bagaikan pohon peneduh dimana dirinya dapat bernaung.
Keno tidak masalah makan apapun selama itu berasal dari tumbuhan. Dia adalah sosok vegetarian sejati. Karena itulah, Amy perlahan-lahan juga mengikuti pola makannya. Lagipula wanita itu tak terlalu suka daging.
Selepas sarapan, Amy berpamitan pergi untuk mengurus kontrak kerja dengan salah satu pemilik majalah. Walau diminta menjaga rumah, tapi Keno diam-diam mengirim burung merpati kecil untuk senantiasa mengawasi sang tunangan.
Tidak ada masalah yang terjadi.
Amy mulai merasa kalau Keno adalah jimat keberuntungan. Sejak bersama pria pohon itu, dia seperti diberikan kemudahan dan untuk pertama kalinya mendapatkan kontrak dengan jumlah honor tertinggi.
Demi merayakan ini, dia membelikan berbagai donat termahal di kota itu.
"Keno—lihatlah, aku membawakan donat untuk makan siang! Ya, khusus hari ini saja, karena aku model—tak boleh memakan semua yang berkalori tinggi," ucapnya begitu membuka pintu apartemen.
Akan tetapi Keno ternyata tak ada di rumah.
"Keno?" panggil Amy lagi, mulai penasaran, lalu pergi memeriksa semua tempat. Taman hidup yang ada di ruang tengah mulai mengering seolah tak terawat selama berminggu-minggu. Padahal tadi tidak ada masalah.
Aneh.
Amy khawatir karena Keno tak ada di manapun. "Cernunnos? Kau dimana?"
Seekor burung merpati kecil terkapar di depan pintu kamar Keno.
"Burung?" Amy menyentuh tubuh burung itu—yang ternyata telah mati. Dia menelan ludah, panik, tersadar kalau binatang ini tadi mengikutinya. "Ini perasaanku atau—"
Dia membuka pintu kamar Keno. Gelap gulita. Sesaat setelah lampu dinyalakan, kamar ini tak terdapat siapapun atau apapun. Semua masih sama dan rapi seperti sebelumnya. Bahkan ada patung berbentuk dewa hutan yang ada di atas ranjang. Patung pemujaan itu masih berada di tempat yang sama.
"Keno?" Amy tahu Keno tak pernah tidur di kamar. Dia memeriksa semua ruangan yang tersisa. "Kenoooo? Hei, aku bawa donat loh."
Caranya mengatakan itu seolah sedang merayu anak-anak untuk keluar dari tempat persembunyian.
Merasa tidak ada Keno, hatinya mulai cemas berat. Aneh. Ia yakin harusnya bahagia karena pengganggu karir modelnya lenyap, namun mengapa rasa kehilangannya besar sekali? Perasaan apa itu?
Jiwanya seakan meninggalkan tubuh.
Tidak punya pilihan lain, dia pergi ke rumah kakek.
_____
"Jadi Keno juga tidak kemari?" Amy putus asa. Dia merosot ke sofa ruang tengah bersama kakeknya. Kalau di rumah ini juga tidak ada, maka kemungkinan pria dewa itu kembali ke hutannya. "Apa jangan-jangan karena penggusuran di hutannya? Tapi kenapa dia tidak pamit dahulu?"
Kakeknya menyalakan televisi, lalu menyodorkan irisan buah kiwi. "Mulai khawatir? Jangan cemas, dia dewa hutan—hutan itu luas sekali, peru perlindungan, dia akan pulang sebelum malam."
"Dia baik, kuakui, kukira kita bisa jadi teman, mungkin—"
"Teman? Dia tunanganmu."
"Aku tidak bisa, Kek, Kakek tega melihat cucumu ini tinggal di hutan seperti kera?"
"Amy, tidak semua penghuni hutan itu kera, kau bisa mengikuti cara hidup rubah."
"Tidak lucu."
"Dimanapun itu bisa bahagia, asalkan bersama pasanganmu. Aku saja rela hidup di gurun pasir, kalau saja itu syarat untuk hidup lagi dengan nenekmu."
"Aku model."
"Aku mantan tentara."
"Kakek."
"Amy."
Amy menggoyangkan tubuh kakeknya agar dia mendapatkan perhatian. "Lihatlah aku, ini jaman modern, sejak kapan kakekku seperti ini? Kakek benci hal-hal yang bersifat pemaksaan, sebenarnya mengapa aku harus menikahi pertapa yang tinggal di hutan?"
Pria tua itu menatapnya serius. "Sekarang jawab pertanyaanku, kau mau menikah atau tidak? Kau pasti menyukainya'kan? Jangan bohong, semua wanita normal—jelas akan jatuh cinta pada Cernunnos, percayalah, kalau kakekmu ini wanita, aku akan sukarela menikahinya."
"Kek, sejak kapan selera humormu jadi begini? Mengerikan tahu."
"Amy~ ayolah tertawa, kau terlalu kaku. Apa salahnya menikahi pria tampan?"
"Tolong berikan aku alasan yang masuk akal, aku yakin Kakek menyembunyikan sesuatu tentang jati diri Keno. Siapa dia itu?"
"Baiklah, akan kuberitahu rahasia." Kakeknya mendehem, mulai mengingat masa lalu. "Kau tahu tidak kalau Cernunnos itu sebenarnya rusa."
"Hah?"
"Hutan tempatnya tinggal selama ini dekat denagan rumah ini bukan, dulu waktu kecil—kau pernah tersesat di hutannya saat orangtuamu mengisi bahan bakar di minimarket terdekat, dan dialah yang menuntunmu kembali keluar hutan."
"Aku—tidak ingat sama sekali." Amy yakin tak ada kepingan ingatan yang memperlihatkan ada Keno di dalamnya. Sekeras apapun mencoba, memang tidak ada. Akan tetapi dia merasa bahwa dewa itu memang Tuan Rusa.
"Apa Cernunnos tidak menceritakan apapun tentangnya?"
"Tidak."
"Jadi, sejak saat itu, setiap kali akan ke rumah ini, kau pasti mampir untuk bermain dengannya."
"Sungguh, aku sama sekali tak ingat."
"Karena dulu, waktu kau berusia enam tahunan, kau dan orangtuamu kecelakaan, mobil kalian hilang kendali dan masuk ke hutan itu—dan kau pikir siapa yang menyelamatkanmu dari kematian?"
Amy tertegun, tak mengerti apapun yang dikatakan kakeknya. Selama ini dia memang tahu orangtuanya meninggal dunia karena kecelakaan, sedangkan dia selamat karena ada di kursi belakang.
Ia menutup mata, mengingat kembali apa yang terjadi kala itu.
Kakeknya menambahkan, "Cernunnos hanya bisa menyelamatkanmu karena kau yang berhasil dia keluarkan sedetik sebelum mobil itu terbakar, tapi— Amy, kau sudah mati saat itu."
"Apa?"
_______