A REASON

1603 Words
Sejak kecil Anastasia sudah merasa berbeda dengan kakak perempuannya, Amestya Moreno. Dia diberikan kamar berukuran kecil dibandingkan dengan kamar Amestya yang luas. Kakaknya seringkali diberikan mainan dan pakaian yang bagus-bagus sementara dia tidak. Perlakuan tidak adil ayahnya sudah dia rasakan sejak masih memakai diaper. Dia juga bisa merasakan bahwa David itu hanya bangga memiliki anak perempuan bernama Amestya Moreno, bukan Anastasia Moreno. Bahkan memang hampir semua orang mengakui bahwa kakak perempuannya itu seolah tidak memiliki kekurangan apa pun dalam hidupnya. Amestya bisa dikatakan sebagai jelmaan malaikat. Sempurna secara fisik, karena dia mempunyai wajah cantik dengan tubuh ideal dan proporsional. Sempurna secara akademik, karena Amestya adalah wanita yang sangat cerdas dan pintar. Sempurna secara karakter, karena dia merupakan anak penurut, tidak pernah membantah dan juga sangat sayang pada adiknya, Anastasia. Bukan hanya sekali dia kali Amestya berdiri sebagai perisai buat Amestya dalam menghadapi kemarahan ayahnya dan Anastasia sangat bersyukur memilikinya sebagai kakak. Tapi ketika Amestya sekarang berada jauh darinya, Anastasia merasa sendiri dan tidak punya siapa-siapa. David Moreno tidak memedulikan ikatan batin kakak beradik itu, karena yang dia lihat kebaikan hanya ada pada anak pertamanya, Amestya, sedangkan keburukan ada pada anak keduanya, Anastasia. Maka yang terbaik adalah memisahkan keduanya, dengan alasan demi menjaga agar Amestya tidak terkontaminasi oleh perangai buruk adiknya iu. Anastasia meletakkan bingkai foto dirinya dan kakaknya sambil menghela napas panjang. Dia membayangkan kakak perempuannya yang berada jauh di negeri orang. Kemudian Anastasia duduk di tepi tempat tidur dan meraih kotak oranye pemberian Aiden tadi. Dia membolak-balikkan benda yang ada di tangannya sambil berpikir alasan apa yang membuat Aiden memberi hadiah semahal itu padanya. Anastasia mengeluarkan gelang coklat itu dari kotaknya dan mengamatinya. Ini adalah sebuah gelang mahal yang tidak sembarang pelajar mampu untuk membelinya. Memang berapa uang jajan Aiden sehingga cukup untuk membeli hadiah semahal ini untuknya? Anastasia berpikir dalam hati. Seketika dia teringat ekspresi wajah Aiden tadi di sekolah. Cowok itu terlihat sangat kecewa ketika Anastasia hampir saja menolak hadiahnya. Selain tidak tega melihat raut wajah Aiden yang berubah, pada akhirnya dia menerima dan memasukkan gelang pemberian Aiden tersebut ke dalam tasnya. Daripada Alleen yang membawanya? Pikir Anastasia tidak rela. Apalagi ini pertama kalinya dia mendapat hadiah mahal. Justin sekalipun yang sudah lama berpacaran dengannya tidak pernah memberikan benda mahal seperti itu padanya. Berbicara tentang Justin, Anastasia jadi teringat kembali saat pertama kali dia tertarik dengan cowok paling tampan si sekolah itu. Dan Justin adalah laki-lakiyang sadar akan pesonanya yang memikat dan dia memanfaatkan hal itu untuk mengambil hati semua gadis cantik yang diinginkannya. Ketika Justin menginginkan Anastasia untuk menjadi pacarnya, gadis itu bahkan tidak harus berpikir dua kali untuk langsung bilang, “Oke aku mau jadi pacar kamu….” Anastasia menjawab dengan senang ajakan Justin saat itu untuk menjadi pacarnya. Menjadi pacar Justin yang popular di sekolah sangat menguntungkannya. Selain menaikkan derajat Anastasia, juga meningkatkan pamor dan popularitas Anastasia di sekolah. Karena Anastasia memang sangat membutuhkan orang yang bisa memberikan perhatian padanya, dan juga menyayanginya. Dan saat itu Anastasia merasa Justin adalah cowok yang tepat, dia keren, jago basket, anak orang kaya dan sangat supel, bergaul dengan siapa saja. Tujuh bulan Anastasia dan Justin pacaran diam-diam dari orang tua Anastasia. Mereka menjadi partner in crime di sekolah, sudah dua kali Anastasia kepergok merokok di sekolah dan pihak sekolah hanya memberi hukuman peringatan karena gadis itu adalah siswi berprestasi di sekolahnya. Sementara Justin? Dia adalah anak salah satu penyokong dana sekolah, karena itu tidak ada hukuman berarti bagi anak tersebut. Sampai suatu saat, ketika Anastasia mendapati cowok itu tengah bergandengan dan berpelukan mesra dengan gadis cantik lain di sebuah café. Di mana saat itu Anastasia dan teman-temannya tengah merayakan ulang tahun Alleen, sahabat Anastasia. Yang membuat Anastasia naik pitam saat itu adalah, dia baru saja saling berkirim pesan dengan Justin, di mana Justin mengatakan bahwa dia sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa menemani Anastasia untuk datang ke acara ulang tahun Alleen. Dari kejauhan Anastasia dan teman-temannya bisa melihat kemesraan yang ditunjukkan Justin dan gadis selingkuhannya itu. Posisi mereka saat itu sedang berdiri sambil berpelukan dan menikmati irama musik yang pelan. “Bukan anak sekolah kita deh kayaknya… aku enggak pernah liat tu cewek,” sela Alleen di sebelah Anastasia. “Iya bukan. Aku juga enggak kenal,” sambar yang lain. Anastasia mengembuskan napas keras dan berjalan cepat menuju lokasi berdirinya Justin dan selingkuhannya itu. Alleen dan teman-temannya menahan napasnya melihat tindakan Anastasia yang gusar itu. “Waduh, perang dunia deh….” Alleen berkomentar sambil ikut menyeruak ke arah Anastasia berjalan. Tangan Anastasia terangkat untuk menyentuh bahu Justin dari belakang. Si empunya bahu menoleh dan sangat terkejut sampai hampir mendorong gadis dalam pelukannya ke depan. Mata Justin melotot menatap ke arah mata Anastasia yang menyala. Lampu café yang temaram bahkan kalah terang dari sorotan tajam gadis itu. “A-anna??” “Bukannya kamu enggak enak badan ya?” sindir Anastasia. “Eh… aku… kok kamu bisa ada di sini??” Justin menjawab dengan tergagap “Siapa si sayang?” tanya selingkuhan Justin sambil memandang Anastasia atas bawah. Justin terlihat gugup menghadapi gadis bawaannya itu. Dalam hati Anastasia bersyukur Alleen memindahkan tempat ulang tahunnya ke tempat ini, sehingga dia bisa menemukan kebejatan Justin. Anastasia tidak melepaskan pandangannya dari Justin sedetik pun, dia malah berjalan mendekat sambil tersenyum menyindir setelah sekilas menatap selingkuhan pacarnya yang tidak sebanding dengannya itu. “Sayang? Dia panggil kamu sayang?” sarkasnya sambil melirik sinis ke arah gadis yang mengerutkan alis ke arahnya itu. “Sayang! Dia siapa?!” Gadis yang di belakang Justin menuntut penjelasan lebih lagi dengan suara yang lebih tinggi. Alih-alih menjawabnya, Justin menyambar tangan gadisnya itu dan seperti ingin membawanya menjauh dari Anastasia. “Anna… aku bisa jelasin nanti….” Justin berusaha melewati Anastasia. “Aku enggak perlu penjelasan!! Kita putus detik ini juga!” tegasnya sambil menunjuk ke arah lantai. Mata Justin membelalak sambil menelan ludahnya. Sementara gadis yang tangannya ada dalam genggamannya itu semakin menuntut penjelasannya. Tajamnya mata Anastasia menembus ke dalam jantung Justin. Dia tidak bisa menjelaskan sekarang kondisinya, karena itu Justin memilih pergi meninggalkan Anastasia yang sedang terbakar amarah itu. Alleen dan beberapa temannya yang lain menghampiri Anastasia dan memeluk gadis itu. Besoknya Justin langsung mencari Anastasia di sekolah dan berniat untuk menjelaskan duduk persoalannya. “Kalau kamu mau maki-maki aku, silakan. Mau pukul aku silakan juga…,” katanya. Namun, Anastasia tersenyum sinis, “Sorry, tapi kamu enggak terlalu berharga untuk itu Justin. Marah sama peselingkuh macam kamu cuma akan buang-buang energi. Tapi aku ingin menegaskan sekali lagi, bahwa mulai kemarin itu, aku sama kamu udah S E L E S A I! Jadi please, Enggak usah minta maaf, jangan minta balikan atau pun deketin aku lagi!” Gadis itu mendekatkan kepalanya ke arah Justin, “aku yakin kamu tau aku kan?! Kalau aku itu bukan tipe yang akan balikan lagi sama mantan, tolong itu dicatat di kepala kamu yang enggak ada otaknya itu,” tandas Anastasia tidak memedulikan ekspresi Justin yang syok memandangnya. “Anna….” Justin berusaha meraih tangan Anastasia kembali. “Jangan coba-coba Justin. Kamu tahu aku bisa melakukan apa kan?” Justin mundur selangkah mendengar ancaman Anastasia. Tentu saja dia tahu gadis itu sebenarnya bisa saja memukulinya sampai babak belur. Namun, tadinya dia bermaksud menjelaskan bahwa dugaannya salah, karena gadis yang sedang bersamanya itu bukanlah selingkuhannya, akan tetapi Anastasia-lah yang menjadi selingkuhannya selama ini. Tapi… gadis itu bahkan tidak mau mendengarnya sedikitpun. Dia berpikir akan mendekatinya lagi jika amarahnya sudah mereda—mungkin dalam beberapa hari. Anastasia berdecak kesal mengingat semua kejadian bersama Justin tersebut. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini ternyata dialah yang menjadi ‘wanita lain’ dalam hubungannya dengan Justin. Alleen yang memberitahu Anastasia tentang hal tersebut karena Justin menjelaskan masalah itu padanya. Yang aneh, sudah satu bulan berlalu, cowok itu masih saja berusaha untuk mendekatinya lagi dan ingin kembali padanya. Emang cowok enggak ada otaknya, batin Anastasia kesal. Dia menarik napasnya panjang sambil menarik laci meja dan bermaksud menyimpan benda pemberian Aiden itu ke dalamnya. Saat membuka laci tersebut gadis itu melihat sebuah bingkai dengan foto seorang wanita di dalamnya—yang dia ketahui adalah ibunya. Ibu yang tidak pernah dia lihat dan dia kenal, ibu yang merelakan nyawanya agar dia tetap hidup di dunia ini. Matanya berkaca-kaca tipis, “Kalau tahu ayah akan sebenci ini padaku, harusnya ibu memilih nyawa ibu saja yang diselamatkan bukan aku…,” gumamnya sambil mencium foto tersebut dengan lembut. Anastasia menyeka genangan air di matanya sambil mengembuskan napas ringan. Seharusnya dia memang tidak dilahirkan jika harus membuat ibunya kehilangan nyawa. Jika saja kematiannya bisa mengembalikan ibunya ke dunia ini, Anastasia rela bertukar nyawa dengan ibunya. Gadis itu menyeka air matanya sekali lagi. Jika memang ayahnya tidak pernah menyayanginya sedikitpun, lalu untuk apa dia tetap ada di rumah ini? David dan Zeesy tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya sedikitpun padanya. Mereka tidak pernah puas dengan apa pun yang dilakukannya. Tidak ada yang benar di mata David dan Zeesy jika hal itu menyangkut dirinya. Ponsel Anastasia berbunyi notifikasi, gadis itu melirik ke arah ponselnya di tempat tidur dan meraihnya. Dugaannya tidak salah, Aidenlah yang mengirim pesan malam-malam begini. [Selamat malam Anna.] [Malam.] [Kamu sudah tidur Anna?] Anastasia menjawabnya, [Belum.] [Maaf kalau kamu enggak suka hadiahnya ya. Aku pikir semua cewek akan menyukai hadiah seperti itu] Anastasia terdiam sambil memandangi pesan balasan dari Aiden. Dia bukan tidak suka, hanya tidak habis pikir kenapa cowok itu memberinya hadiah padahal baru saja mengenalnya. [Kenapa kamu kasih hadiah segala sih?] [Karena kamu udah baik banget sama aku dan karena kamu kan pacar aku sekarang.] Anastasia berdecak sambil menahan ludahnya. [Enggak usah ngasih-ngasih hadiah lagi.] [Iya Anna, aku enggak akan kasih hadiah lagi selama kamu enggak minta] [Bagus.] [Sampai ketemu besok, Anna] [Ya.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD