FIRST LOVE

1805 Words
Mobil Alleen berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan pagar warna hitam setinggi kurang lebih dua meter. Alleen masih terheran-heran melihat sahabatnya bisa dengan mudah melewati pagar tinggi tersebut dengan cara meloncatinya. Alasannya melakukan itu hanya karena dia malas menekan bel rumahnya dan mengganggu penghuninya. Terlebih sekarang sudah sangat larut dan Anastasia berasumsi semua orang sudah terlelap di kamarnya masing-masing. Tanpa diduga pintu rumah Anastasia terbuka tepat ketika gadis itu baru saja selesai memasukkan kode kunci rumahnya dan akan memegang gagang pintunya. Muncul wajah keras dari seorang pria yang berusia empat puluhan untuk menyambut kepulangannya. Pria itu adalahnya ayahnya sendiri, David Moreno. Dengan kasar dia menarik tangan Anastasia masuk ke dalam rumah dan memerintahkan gadis itu untuk duduk di sofa dengan suaranya yang keras. Di seberang sofanya sudah duduk wanita berambut panjang yang memakai piyama berwarna pink bercorak kotak kotak. Wanita itu malah memasang wajah yang lebih keras. Dia melipat kedua tangan di depan dadanya dan menumpukkan satu kakinya di atas kakinya yang lain. Dan dia adalah ibu tiri Anastasia, Zeesy Moreno. “Dari mana kamu, Anna?! Kamu tahu sekarang ini jam berapa? ” tanya David. “Kerja kelompok, ” jawab Anastasia singkat. Wanita dengan piyama kotak-kotak tadi berdiri. “Mana ada kerja kelompok sampai tengah malam begini?! Kamu jadi pembohong juga sekarang, Anna?” tanyanya tidak kalah keras. “Terus kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi sama sekali, huh?” Dia bertanya sekaligus menghampiri anak tirinya itu dan merebut tas yang sedang Anastasia pegang. , Tangannya merogoh ke dalam tas tersebut untuk mencari ponsel Anastasia. “Kamu itu benar-benar sudah keterlaluan Anna!” imbuh David, "kamu sadar tidak sih kalau kamu itu tidak berguna sama sekali!" Ibunya menemukan ponsel Anastasia dan langsung menekan tombol untuk menyalakan benda tersebut. Sedetik kemudian dari ponselnya berbunyi beberapa notifikasi masuk, ibu tirinya menunjukkan benda tersebut kepada suaminya. “Lihat saja batereinya bahkan masih lebih dari setengah! Itu artinya dia memang sengaja mematikannya, David,” adunya memprovokasi. David Moreno menggeleng geram dan menghampiri Anastasia, dia mengayunkan tangannya ke atas dan bersiap untuk memukul gadis malang itu. Tapi Anastasia dengan sigap menahan tangan ayahnya itu dan menghindar. Pria itu malah semakin emosi dan mengayunkan kakinya sehingga mengenai pinggul Anastasia. “Lihat anak kamu itu, David! Pasti sifat pembangkangnya itu menurun dari ibunya, siapa lagi kalau bukan?” tuding ibu tiri Anastasia. “Padahal biasanya anak perempuan itu menuruni sifat dari ayahnya. Apa mungkin dia ternyata bukan anakmu, David?” Zeesy malah menyiram bensin di api yang menyala. Mata David membesar, dia tidak terima istrinya itu menjelekkan mendiang ibu Anastaaia. “Aku tidak minta pendapatmu, Zeesy! Jadi sebaiknya tutup mulutmu itu atau kau akan mendapatkan ganjarannya!” sanggahnya dengan marah. Mata Anastasia memanas, dia memang tidak pernah bertemu ibu kandungnya sama sekali, tapi dia benar-benar tidak rela ibu tirinya mengungkit tentang mendiang ibunya. “Ck, kau pasti juga sadar bahwa anak ini memang selalu menyusahkan saja dari dulu. Dia terus membawa kesulitan untuk keluarga kita, David!” lontar Zeesy pada David, tapi menatap Anastasia dengan sinis dan penuh kebencian. Entah apa yang menyebabkan si ibu tiri itu begitu membencinya. “Dan kamu lihat apa yang kamu lakukan ini, Anna? Kaulah penyebab satu-satunya kenapa aku dan ayahmu selalu bertengkar!” tambahnya. Mata Anastasia semakin panas, tapi dia tidak bisa menangis lagi atas setiap kata pedas yang kerap dia terima dari mulut orang tuanya sendiri. Zeesy memang bukan ibu biologisnya, tapi wanita itu sudah bersamanya sejak dia masih kecil. Ayahnya dan Zeesy belum dikaruniai anak sampai sekarang. Dan lagi-lagi mereka menyalahkan Anastasia sebagai penyebabnya. Mata Zeesy terarah pada Anastasia. Penuh murka dan amarah. “Aku menyerah! Aku menyerah menganggap anak ini ada, David!" Lalu dia melihat ke arah David Moreno, "kau pilih, anak itu yang pergi atau aku!" ancam nya sambil melenggang pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah yang gusar. David menyusul wanita itu sambil menggerutu sekaligus memanggil-manggil namanya. Bahkan Anastasia masih bisa mendengar suara teriakan mereka dari lantai dua. "JANGAN BERANI MENGANCAMKU, ZEES!" Suara David terdengar sangat keras, lalu suara pintu yang tertutup dengan begitu kuat juga terdengar menggelegar. Pertengkaran tengah malam yang disebabkan oleh Anastaaia itu masih berlanjut sampai beberapa menit ke depan. Dan Anastasia bisa mendengarnya dengan jelas apa yang menjadi percekcokan mereka. Kehadirannya di tengah-tengah mereka sangat tidak diharapkan. Kemuraman yang selalu tercipta di rumah besar itu adalah karenanya. Perihnya hati Anastaaia mendengar itu semua tidak lagi tergambarkan. Dia semakin terbiasa mendengar celaan dan makian semacam itu setiap harinya. Tapi satu hal yang mengganggunya, apakah benar dia bukan anak David Moreno? Karena itukah dia memperlakukannya sangat buruk sejak kelahirannya? Ketika pertengkaran itu tidak terdengar lagi, Anastasia tetap menggunakan earphone-nya agar suara yang terngiang di telinganya tergantikan dengan lagu-lagu kesukaannya. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Tanpa dia sadari benteng pertahanannya runtuh juga. Namun, dia yakin bisa melewati semua ini tanpa berpikir harus bunuh diri. Anastasia memeluk guling dan meringkuk di atas tempat tidurnya. Dia mengucapkan terima kasih pada tubuhnya hari ini, karena sudah kuat dan selalu bersamanya. Anastasia mengusap pinggulnya yang terkena tendangan ayahnya tadi. Anastasia baru akan memejamkan mata ketika dari ponselnya berbunyi suara notifikasi pesan masuk. Keningnya berkerut ketika melihat waktu yang sudah lewat jam satu malam. Nama Aiden muncul pada layar ponselnya sebagai pengirim pesan tersebut. Lalu dia membuka pesan itu dan membacanya. [Selamat tidur Anna. Mimpi yang indah ya—icon love] Ternyata ini adalah pesan yang terlambat, karena ponsel Anastasia tadi sempat tidak aktif, maka pesan dari Aiden ini baru terkirim. Tanpa sadar Anastasia tersenyum membaca pesan dari pacar barunya itu. Dasar anak cupu, batinnya geli. Alih-alih membalas pesan dari Aiden tadi, dia malah meletakkan lagi ponsel miliknya di tempat tidur dan memejamkan matanya saat itu juga. Anastasia malah bermimpi tentang Aiden yang berubah jadi laki-laki tangguh dan diidolakan oleh semua wanita. Senyum Anastasia terbawa sampai pagi. Dia kembali membaca pesan Aiden dan tersenyum lagi. Tidak ada yang melakukan hal manis seperti ini sebelumnya. Terlebih Justin, mantannya terdahulu, isi pesannya selalu saja tentang keindahan fisik. Kamu seksi banget hari ini, rambut kamu kalau digerai lebih menggairahkan, b****g kamu kalau pakai rok pendek itu terlihat penuh Beib, dan sebagainya. Sementara Aiden adalah tipe cowok baik-baik yang menggemaskan sekaligus manis. Anastasia kembali tersenyum memikirkan Aiden-cowo lugu yang baru dilantik menjadi pacar barunya itu. *** Beberapa jam sebelumnya, Aiden meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu meraihnya lagi, diletakkan lagi dan diraihnya lagi. Dia melakukan hal itu berulang kali sejak satu jam yang lalu, sejak dia mengirimkan pesan selamat tidur pada Anastasia. Saat ini dia sedang menunggu balasan pesan dari pacar dadakannya itu. Aiden juga sedang merasa penasaran karena dia tidak kunjung menemukan akun i********: dengan nama Anastasia Moreno atau Anastasia saja. Mana mungkin gadis secantik Anna tidak punya akun i********:, pikirnya. Sudah satu jam berlalu gadis itu belum juga membalas pesannya. Jangankan membalas, bahkan pesannya juga belum dibaca sampai sekarang. Dia melihat jam dan sudah pukul 11 malam. Malam ini Aiden benar-benar kesulitan untuk memejamkan matanya. Bayangan ketika Anastasia dengan spontan mencium bibirnya tidak bisa pergi dari kepala Aiden. Peristiwa itu adalah suatu yang langka terjadi dan tidak pernah dibayangkan oleh Aiden. Terlebih ini adalah pertama kali untuknya. Dia sudah pasti tidak akan pernah melupakan kejadian tadi siang selama hidupnya. Anastasia adalah wanita pertama yang sudi menyentuh bibir Aiden dengan bibirnya. Pukul satu satu malam Aiden sekali lagi memeriksa ponselnya dan pesan yang dikirimnya sudah terbaca, tapi lagi-lagi tidak ada balasan apa pun setelah itu. Sampai pukul tiga dini hari barulah mata Aiden bisa terpejam dan pukul tujuh dia sudah harus bangun lagi untuk bersiap-siap ke sekolah. Aiden sudah rapi dengan pakaian sekolahnya, dia kemudian menarik laci kecil di meja nakasnya. Tangannya meraih sebuah kotak berukuran sedang dan memasukkan kotak tersebut ke dalam tasnya. Dia bergumam dalam hati, Semoga Anna suka dengan hadiah ini. Mobil yang akan mengantarkan Aiden sudah siap di depan lobi rumahnya, pintu mobil sudah terbuka dan sang supir mempersilakan Aiden untuk masuk. Kemudian mobil melaju menuju ke sekolah dengan kecepatan sedang. Aiden tersenyum melihat tasnya, dia tidak mau dibawakan bekal makan siang hanya karena ingin merasakan makan siang di kantin sekolah untuk pertama kalinya. Bersama Anastasia. Dia sedang berjalan menuju kelasnya ketika bahunya ditabrak oleh seseorang. Namun, orang yang menabrak justru malah menatapnya dengan ekspresi marah, “Hey! Punya mata enggak?! Buta?!” “M-maaf….” Aiden merasa lebih baik dia meminta maaf lebih dulu. “Dipake matanya dong!” hardik si penabrak lagi sambil pergi dengan marah. Aiden memegangi bahunya yang terasa sakit sampai ke kelas. Betapa senang hatinya ketika melihat kursi Anastasia sudah ada isinya. Gadis itu terlihat sedang merebahkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangannya sebagai tumpuan. Sepertinya Anastasia sedang tertidur pulas. Aiden tersenyum sambil duduk di tempat duduknya dan mengeluarkan ponsel. Dia mengambil gambar Anastasia yang tengah tertidur pulas dengan diam-diam. Tapi aksinya harus berhenti karena kepergok sahabat Anastasia. “Nah… lagi foto Anna diam-diam yaa... bahaya kalau ketahuan Anna lho,” pergok Alleen. Aiden terkejut dan terlihat gugup, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sementara Anastasia terbangun karena suara Alleen yang cempreng dan keras “Berisik banget sih!” keluh Anastasia sambil mengusap matanya dan melihat Alleen di sebelahnya. Sedangkan Aiden sudah kembali ke kursinya. “Enggak tidur semaleman? Sampai tidur di kelas…,” lontar Alleen. “Ngantuk ah!” Anastasia kembali merebahkan kepalanya di meja. “Ehm… Anna.” Tiba-tiba Aiden sudah berdiri di depan Anastasia dan Alleen. “Ini untuk kamu,” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak berbentuk segiempat berukuran sedang pada Anastasia. Anastasia dan Alleen melongo melihat kotak berwarna oranye di tangan Aiden. Tangan Anastasia terangkat untuk meraih kotak tersebut, “Apa ini?” “Kayaknya kotak jam,” sahut Alleen, padahal bukan dia yang seharusnya menjawab. “Buka aja,” ujar Aiden sambil tersenyum. Anastasia membuka kotak oranye tersebut dan tercengang melihat isinya, yang bisa dibilang bukan benda murahan. Dia melihat ke arah Aiden dengan ekspresi aneh. Laki-laki itu baru saja mengenalnya dan dia sudah memberikan barang mahal seperti ini, batinnya heran. “Wow! Aiden kamu enggak salah ngasih gelang begitu ke Anna?” Alleen histeris melihat gelang kulit berwarna coklat itu. Tentu saja dia tahu gelang itu dari merk ternama. “Itu kan mahal?” “Itu Nigel Bracelet dari Hermes. Semoga kamu suka ya,” ujar Aiden santai. Anastasia masih bergeming memandangi benda di tangannya. Dia belum pernah menerima hadiah mahal secara tiba-tiba seperti ini. Gadis itu berdecak sambil menutup kotaknya lagi dan menyodorkan kembali pada Aiden. “Aku enggak suka ini,” ujarnya, “ambil lagi!” “Eeeh….” Alleen merebut kotak itu dari tangan Anastasia, “enggak baik menolak pemberian orang Anna.” Dia melihat ke Aiden. “Aiden, Anna suka gengsi terima hadiah dari orang. Tapi pasti nanti dia terima dan dia pakai kok,” katanya. “Hh? I-iya. Simpan aja. Kalau enggak suka, terserah kamu aja nanti mau diapakan gelangnya,” ujar Aiden. Ekspresinya berubah, walau senyum tipis terukir di wajah Aiden.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD