Kepergian bosnya ke luar negeri membuat Nina dengan leluasa memanfaatkan semua fasiltas yang ada di apartemen bosnya ini. Termasuk ruang olahraga yang memang sengaja di buat oleh bosnya.
Di sana banyak alat-alat olahraga yang sangat berguna baginya untuk menghempaskan kembali lemak-lemak membandel yang menggelayut di seluruh badannya. Beruntung sebelumnya dia sering menggunakan alat-alat olahraga ini sebelum menikah. Alhasil dia tidak terlalu bingung lagi bagaimana cara menggunakannya.
Nina tersenyum menghadap cermin yang sudah selesai dia lap sampai kinclong. Menatap tubuhnya yang basah oleh keringat dari balik pantulan cermin besar di hadapannya. Sudah tiga hari dia memberanikan diri untuk berolahraga di sini.
Terkesan lancang, namun dia sudah bertekad untuk berubah. Sebisa mungkin dia pun tak meninggalkan jejak pada tempat yang sudah dia pakai untuk berolahraga.
“Untuk hari ini cukup lumayan,” gumamnya. Matanya melirik jam dinding, ternyata dia sudah satu jam berolahraga. Pantas dia sudah tidak kuat lagi.
Baru saja hendak membuka pintu, suara pintu unit apartemen terdengar terbuka dari luar. Mata Nina langsung membulat lebar. Jantungnya berdegup kencang, dengan keringat yang kini kembali timbul. Kakinya tiba-tiba terpaku tidak bisa bergerak. Dia merasa sudah menjadi patung.
Apakah bosnya sudah kembali dari luar negeri? Tapi ini belum ada satu minggu.
Riuh suara hati dan kepalanya meminta dia untuk segera keluar dari ruang olahraga ini. Namun bagai dipaku, dia tetap tidak bisa melangkahkan kakinya barang sedikit pun. Padahal dadanya sudah berdentum-dentum keras, menyuruhnya untuk segera mencari aman.
Ya Tuhan bagaimana ini? Batin Nina menjerit keras.
Dia belum siap kalau harus di pecat sekarang juga, dia masih membutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang dietnya ini.
Nina, ayo cepat keluar! Sentak batinnya cepat saat langkah kaki mulai terdengar memasuki dapur. Ruang olahraga tempatnya berada di samping dapur, sehingga akan sangat aneh bila dia ketahuan berdiri terpaku di sini tanpa gerakan apa pun, ya seperti sedang mengelap atau yang lainnya.
Ruang olahraga yang di desain terbuka dengan kaca bening di sekelilingnya membuat dia akan otomatis ketahuan bila tak segera beranjak.
Keringat sebesar biji jagung mulai keluar dari keningnya, dengan tangan gemetar dia membuka pintu kaca ini dengan perlahan.
“Siapa kamu?” sentak suara anak laki-laki yang sepertinya sudah menginjak masa remaja itu.
Gerakan tangan Nina langsung membeku. Pelan dia menelan salivanya susah payah, lantas menoleh dengan sangat hati-hati. Ia tidak melihat Bos besarnya di sini, melainkan hanya seorang anak remaja yang sedang menatapnya tajam.
Apakah ini yang dimaksud anak Bosnya itu? tanya hatinya.
Namun bila melihat ketampanan yang dimiliki oleh anak ini, sepertinya dia tidak akan salah menduga. Segera dia mengangguk hormat, dan keluar dari balik ruang kaca itu.
Dia menghadap Bos mudanya lalu menunduk di hadapan anak laki-laki itu.
“Maaf Tuan Muda, saya pembantu baru di unit apartemen ini,” ucap Nina dengan suara yang jelas.
Bukankah dia tidak perlu terlalu gugup? Di hadapannya hanya Bos Mudanya, bukan Bos Besarnya. Sedikit hati ini merasakan kelegaan. Baru saja dia hendak tersenyum dalam diamnya, bentakan tuan muda itu langsung menyentak dirinya saat itu juga.
“Kenapa aku tidak tahu akan ada pembantu baru?! Mana Papa, aku tidak terima ada sembarang orang masuk apartemen ini?!” bentaknya yang langsung membuat Nina bergetar hebat.
Suara anak muda itu menggelegar dengan wajah yang memerah karena kulitnya yang terlalu putih. Tuan mudanya itu seperti sangat marah karena kehadirannya di rumah ini.
“Maaf Tuan Muda, saya tidak tahu maksud Anda. Sedangkan Tuan sedang pergi ke luar negeri sejak lima hari yang lalu.” Tidak seperti beberapa menit yang lalu yang suaranya terdengar stabil dan penuh keyakinan. Melainkan kini suaranya terdengar bergetar karena perasaan takuk yang berkecamuk.
Sejak kecil dia paling anti di bentak. Namun setelah menikah ternyata dia paling sering mendapatkan suara bernada tinggi dibandingkan dengan kelembutan. Untuk itu dia merasa trauma berat terhadap suara-suara yang bernada tinggi. Tubuhnya bisa langsung lemas, bergemetar dan mata yang sudah perih hendak menangis.
“Kenapa masih ada di hadapanku! Cepat pergi!” sentak Tuan muda dengan luapan amarah yang sama.
Nina yang tengah menunduk dalam mengangguk cepat. lalu bergerak panik untuk pergi menghindari tuan muda di rumah ini. setelah itu terdengar suara-suara barang pecah belah yang di lempar.
Nina yang sudah berada di balik tembok kamarnya menutup telinga kuat-kuat. Rasanya dia merasa seperti berada pada waktu itu. Waktu di mana suaminya marah habis-habisan karena dia selalu mengungkit-ungkit hartanya yang habis digunakan oleh mantan suami. Bukannya penjelasan yang dia dengar, melainkan kemarahan yang keluar dari mulut mantan suaminya yang durjana ini.
Sungguh dia merasa dijebak oleh waktu. Dia merasa sangat bodoh dengan hidupnya yang semakin tak berguna ini. Andai dia tak pernah mengagumi Jovan maka dia tidak akan pernah mengalami kejadian yang membuat dia setrauma ini.
Suara benda-benda yang dibanting sudah tidak terdengar lagi. Dia mengusap air matanya yang mengalir deras, bahkan hanya karena bentakan dari seorang anak kecil dia bisa menangis sehebat tadi.
Dengan terisak-isak dia membuka pintu pelan, kedua matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan pecahan beling dan kaca berserak di depan kamarnya. Entah mengapa anak itu terlihat marah sekali saat melihatnya. Apa dirinya yang gendut ini sangat terlihat menyebalkan? Seperti kata mantan suami dan keluarganya dulu?
Ah, kenapa lagi-lagi dia harus teringat ucapan-ucapan tidak menyenangkan itu!
Setelah memastikan anak majikannya itu tidak ada di ruangan yang sama, ia segera mengambil sapu juga peralatan yang lain untuk membersihkan kekacauan ini. Tak lupa satu persatu benda-benda yang berukuran besar di pungut terlebih dahulu, kemudian mengumpulkan semuanya setelah di sapu.
Lelehan air mata terus membasahi pipi. Dia merasa sangat rendah sekali. Dulu dia bisa menyewa lebih dari dua pembantu kini dia sendiri yang menjadi pembantu di rumah besar ini. Sungguh takdir tak ada yang tahu, tak dapat etrbayang sekalipun dia di benaknya bila dia akan menjadi seorang pegawai rumah tangga karena orang yang dulu sangat dia kagumi.
Dulu dia memang dia terlalu berlebihan dalam mengagumi seorang Jovan. Bahkan saat itu dia hanya melihat laki-laki b******n itu ari luarnya saja, dia tidak berpikir jauh bila laki-laki itu mempunyai kekurangan juga.
Nina tersenyum pahit. Tiga tahun bersamanya sudah banyak memberikan dia pelajaran dan pengalaman. Kini dia tidak akan sembarang lagi dalam mengagumi seorang laki-laki apalagi secara berlebihan, karena efeknya sangat tidak baik bagi diri sendiri.
Nina terkejut saat suara pintu yang dibanting keras kembali terdengar. Untuk beberapa detik pandangannya bertabrakan dengan anak majikannya itu. Wajah muda itu masih menundukkan ekspresi yang sama saat melihatnya. Dia kembali masuk ke dalam kamarnya dengan sebuah paper bag berlogo resto terkenal.
Seolah tersadar, Nina segera menunduk dan kembali membereskan semua kekacauan ini. karena sepertinya anak remaja itu tidak menyukai kehadirannya sama sekali.
“Dibanyakin lagi Nin, sabarnya. Dia masih kecil, tidak boleh diambil hati,” bisik Nina sembari mengurut d**a. Lalu suara pintu berdebum kembali ia dengar, suara-suara keras itu selalu sukses membuatnya terperanjat hendak meloloskan jantungnya dari rongga d**a.