Rencana Balas Dendam

1071 Words
“Nina saya mau ke luar negeri selama seminggu. Apakah saya bisa memastikan semuanya akan aman-aman saja?” Randi berkata sembari membelakangi Nina yang sedang mengelap lemari kaca yang penuh dengan barang pecah belah yang nilainya. Barang peninggalan Mama dan tentunya ada sedikit barang milik mantan istrinya bawa sebagai kenang-kenangan. Nina tersentak saat mendengar suara dingin Tuannya. Dia segera berdiri tegap dan menghadap kepada Tuannya. Keringat dingin mulai bercucuran setiap kali dirinya berinteraksi dengan lawan jenis. Ia selalu gugup, kepercayaan dirinya hilang entah ke mana hingga untuk berdiri pun dia harus berpegangan pada ujung lemari agar tak jatuh. “Um- saya tidak janji, namun akan saya usahakan-“ “Bicara yang jelas!” “I-iya, Tuan. Akan saya usahakan.” “Bagus. Jangan keluar dari apartemen ini bila tak ada keperluan yang penting, tetap diam di dalam sampai saya kembali pulang.” Nina mengangguk ragu. Bagaimana bisa dia harus berdiam diri di sini, sedangkan pasti ada saja yang mengharuskan dia keluar dari apartemen ini. “Oh ya, jangan menerima paket atau membuka pintu sembarangan. Ingat laporkan kepada saya setiap ada yang ke sini!” “Ba-baik, Tuan.” “Good. Sekarang kamu sudah masak apa untuk sarapan?” Randi melangkah menuju ruang makan, perutnya sudah meminta diisi. Nina bergerak cepat mengikuti Tuannya pergi. Dari tadi tangannya sudah saling meremas tanda dia sudah sangat gugup sekali. Pasalnya dia lupa untuk memasak sarapan. Astaga bagaimana ini! “Ma-maf Tuan. Saya belum memasak apa pun-“ “Apa?! Bukankah sudah saya bilang kamu harus memasak. Semua bahan makanan sudah tersedia di lemari es, alasan apa lagi yang akan kamu gunakan?” Randi berbalik, menatap Nina dengan mata tajamnya. Dia tidak suka jika perintahnya tidak dilakukan dengan baik. Nina semakin gugup. Dia berdiri dengan tubuh gemetar ketakutan. Kening dan rambutnya bahkan sudah basah oleh keringat. Kini dia harus bagaimana? “Ma-maaf Tuan. Saya belum mempelajari resep-resep makanannya. Bolehkan saya membuatkan Roti selai saja untuk Tuan?” Nina mencoba mencari peruntungan dengan menawarkan alternatif lain. Dia benar-benar lupa untuk mempelajari resep-resep makanan, selama dia menikah dia lebih sering membeli makanan yang sudah matang dan dihidangkan untuk suaminya. Namun ketika dia jatuh miskin, dia lebih banyak makan mie instan dibandingkan dengan makanan yang menyehatkan lainnya karena kondisi keuangan yang dipegang oleh ibu mertuanya. Waktu itu dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa pasrah memakan mie instan setiap hari meski dirinya sedang hamil pun. “Sudahlah, lupakan saja! Ini menjadi peringatan pertama untukmu. Jika kamu mengulangi hal yang sama, maka bisa dipastikan kamu tidak akan bertahan lebih lama di sini!” Randi pun pergi meninggalkan suara pintu yang berdebum keras, juga ketakutan yang luar biasa kini menyergap tubuh Nina. Dia jatuh terduduk dengan kaki lemas. Sungguh, dia baru tahu ternyata bekerja untuk orang kaya sangat membutuhkan mental yang tinggi. Namun bisa dia pastikan ini lebih baik dari pada harus kembali tinggal satu atap dengan mertuanya yang seperti iblis itu. Nina menyeka keringatnya yang sudah membanjiri kepala. Dia kembali menyemangati dirinya lagi agar mampu melewati fase terendah di dalam hidupnya. Dia tetap harus membuktikan pada mantan suaminya bahwa dia bisa bangkit kembali seperti dulu. Perlahan Nina bangkit, lalu kembali mengerjakan semua pekerjaannya. Tak lupa dia pun mempelajari beberapa resep simpel dan menguji cobanya agar masakannya layak di makan. Nina bukan orang kaya, namun berkat kesuksesannya dulu di dalam karirnya dia bisa hidup nyaman dengan fasilitas yang mampu dia sediakan sendiri. Namun karena terlalu terlena dengan cinta dia harus kehilangan semuanya, bahkan sampai aset yang paling berharga pun hilang karena begitu bodohnya dia mempertahankan cinta dan kesucian rumah tangganya. Ya, anaknya yang sudah meninggal menjadi mimpi yang paling buruk dalam hidupnya. Darah dagingnya yang susah payah dia jaga selama sembilan bulan harus menghembuskan napas terakhirnya di hari pertama dia keluar menatap dunia. Saat itu hidupnya sudah benar-benar hancur. “Duh, enak banget ya pagi-pagi sudah makan aja. Dasar gentong, menyusui juga kagak, tapi malah enak-enakan makan!” ujar Eva, adik iparnya. Nina menelan satu suapan terakhirnya dengan susah payah. Mengunyah makanan itu dengan pelan sembari menahan gelombang sesak di d**a. Air matanya seakan berlomba-lomba turun menghantam pipi yang tampak seperti buah apel ini. Selama mengandung, berat badannya memang melonjak naik tak terkira. Berat badan idealnya sebagai seorang model langsung sirna karena mengandung buah hati. “Jaga ucapan kamu Eva!” sentaknya dengan napas yang memburu. Dia mengusap air mata yang sudah menganak sungai di pipi. Sakit rasanya bila harus kembali diingatkan akan statusnya yang harusnya menjadi ibu menyusui, namun kenyataannya lain. “Kenapa, memang kamu ini banyak makan! Iya sih, memang benar kalau ibu menyusui itu sering lapar. Tapi helow ... kamu kan, bukan ibu menyusui anakmu sudah mati-“ Plak! Suara tamparan menggema di dapur yang terlalu luar di rumah orang tua Jovan. Adik iparnya itu menjerit kesakitan dengan begitu berlebihan. Nina menatapnya dengan mata tajam dan degup jantung yang menggila. Untuk pertama kalinya dia mampu melawan, namun ternyata keberaniannya adalah suatu kesalahan. “Ada apa ini? Eva kamu kenapa?” Jovan sang suami menghampirinya yang tersungkur di lantai. Membantu adiknya untuk berdiri dengan drama yang begitu memuakkan. “Kak, istrimu itu sangat kurang ajar! Lihat pipiku merah gara-gara ditampar dia!” Eva mengadu. “Tidak, Mas! Istrimu duluan yang memulai, dia terus mengungkit-ungkit kematian anak kita. Sebagai seorang ibu aku tidak terima!” “Kenapa tidak terima? Kenyataannya anak kita memang sudah tidak ada!” ujar Jovan. Bukannya membela malah semakin menyudutkannya. “Tapi dia sudah sangat keterlaluan-“ Plak! “Dasar tidak tahu diuntung, sudah ditampung gratis malah menyakiti tuan rumah!” hardik ibu mertua tiba-tiba. Tubuhnya yang tidak siap menerima pukulan langsung terhuyung ke belakang hingga membentur tembok. Nina meringis mengusap tangannya yang terbentur. Cukup nyeri, namun hatinya tak kalah sakit mendengar perkataan orang tua suaminya. Setelah semua harta yang dia punya habis, kini dia bagai keset yang tak punya harga diri. Habis diinjak-injak oleh keluarga suaminya. Awh! Darah mengucur dari jari telunjuknya yang teriris pisau. Segera dia mencucinya dengan air yang mengalir untuk menghentikan laju darahnya. Lagi, kenangan yang begitu menyakitkan itu kembali menyerang ingatannya hingga ia kembali menyakiti dirinya sendiri karena tak sadar. Air mengalir yang sudah berubah warna itu seakan menjadi saksi bila hatinya belum selesai dengan masa lalu yang kelam. Emosi juga tekat yang meletup-letup di d**a seakan menyuruhnya untuk cepat membuktikan pada semua orang yang telah mencaci maki dan menghinanya agar mereka membisu dengan perubahannya. Setelah itu dia akan membalaskan semua dendamnya satu persatu. Nina tersenyum miring dengan tatapan kosongnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD