Bab 10

1472 Words
Aku segera pura-pura sibuk membentangkan baju kotorku agar keringat yang menempel di sana mengering terkena AC, saat terdengar gemericik air di kamar mandi sudah terhenti. Baju ini masih akan kupakai saat pulang nanti. Aku tak suka memakai baju bekas keringat. Tapi, bagaimana lagi, Mas Gilang mengajakku kemari tanpa berkabar dulu. Padahal, di kantor aku masih punya stok baju bersih. Saat pintu kamar mandi dibuka, refleks aku melihat ke arah sana. Mas Gilang keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggang. Deg, aku baru kali ini melihatnya begitu di siang bolong. Aku langsung memalingkan pandanganku saat tak sengaja kulihat dia tersenyum mengejek padaku. Aishhh, dalam kondisi seperti ini dia masih saja begitu. Meski tetanggaan, aku nggak pernah melihatnya dalam kondisi seperti itu. Dia termasuk rapi dalam menutup aurat meskipun laki-laki. Bahkan, kalau pun main dengan tetanggaku yang lain, misal main air di kali, tetap saja dia masih pakai kaos lengkap. Huff, pikiran mendadak traveling kan, hanya dengan melihat wujud aslinya. Terpaksa aku mengusap d**a berkali-kali, menghilangkan perasaan tak nyaman akibat pemandangan yang m*****i mataku. Mas Gilang berjalan menuju ranjang tidurnya. Pertama yang dicarinya adalah ponsel! Dia langsung meraih ponsel itu, membuka dengan mengusapkan jemari di layarnya. Lalu, sedetik kemudian, bibirnya menyunggingkan senyum girang. Segera kubuang pandangan saat dia mencuri pandang ke arahku. Ada desiran aneh saat pandangan kami bertumbukan. “Sini, Sekar!” panggilnya sambil menepuk kasur di sebelahnya, memberi kodemenyuruhku duduk di sampingnya. Senyumnya berubah. Tidak seperti saat dia melihat ke layar ponselnya. Tapi, lebih pada senyum jahil padaku. “Mau apa?” tanyaku panik setelah duduk di sampingnya. Aku bahkan tak berani menatap wajahnya. Aku rasa dia sedang mengamatiku. Apa aku saja yang GR? Darahku tentu saja berdesir. Mana pernah aku berdekatan dengan lawan jenis, bahkan dia masih bertelanjang d**a seperti itu. Aroma khas badannya selesai mandi membuatku gugup. Tak perlu menunggu lama, detik selanjutnya dia sudah mengikis jarak. “Masih sore, Mas,” ujarku tertahan. Tapi dia tak mengindahkan apa-apa. Karena memang itu karakternya padaku. Ya, hanya padaku. Galak, mengintimidasi, memaksa dan sok paling benar! ***ETW*** Mas Gilang sudah rapi kembali setelah mandi. Memakai kaos berkerah warna hitam menambah ketampanannya naik seribu persen. Kaos itu dimasukkan dalam celana jins warna biru tua. Sebuah ikat pinggang warna coklat menambah kesan elegan. Tunggu! Ini seperti dandanan seseorang yang mau kencan! Seseorang yang sedang jatuh cinta. Sebentar, dia mau... apa ada hubungannya dengan pesan di ponsel yang tadi dibacanya? Lalu, yang barusan tadi, apa? Jadi, dia anggap aku ini apa? "Kenapa?" Suara Mas Gilang membuyarkan lamunanku. Tampaknya dia melihatku dari pantulan kaca lemari bajunya. Dia rupanya melihatku yang sedang mengamati setiap gerak-geriknya. "Mandi sana! Keburu maghrib!" ujarnya sambil menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya. Astaga! Dia mau ketemu siapa, sih? Siapanya? Sampai demikian rapi dan wangi? Aku berjalan malas ke kamar mandi. Ah! Percuma juga tadi sudah mandi kalau akhirnya mandi kembali. Bahkan, anak rambutku saja belum kering. Begitu adzan maghrib berkumandang terdengar jelas dari kamar Mas Gilang, Dia sudah menghilang. Dia selalu rajin sholat jamaah di masjid. Sementara aku? Dia kan nggak punya mukena. Terpaksa aku segera memakai jilbab agar bisa sholat juga. "Buruan, ya. Aku antar kamu. Aku ada janji." Lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu saat aku melipat sajadah. Ingin rasanya aku bertanya janjian dengan siapa. Tapi, urung. Meskipun aku sudah sah jadi istrinya, dia masih menghendaki hidup kita masing-masing. Mungkin, nanti kalau aku sudah sungguhan hidup satu atap dengannya. Dia harus mau aku korek-korek. Tak peduli jutek dan bakal ngamuk. Jangan sampai deh, aku sebagai istrinya tak tahu dia kemana dan ngapain aja. Mas Gilang memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju kosanku. Terlihat jelas, dia terburu-buru. Bisa jadi karena dia harus menemui seseorang jam tujuh malam, sedangkan kami baru menyelesaikan aktivitas berdua hampir jam enam sore. Belum lagi harus mandi, sholat magrib dan mengantarkanku kembali. Mas Gilang menurunkanku begitu saja di depan kosan. Bahkan dia tak mengulurkan tangannya agar aku bisa mencium punggung tangannya layaknya pasangan suami istri. Padahal, aku ingin sekali melakukannya. Mirip apa yang sering kulihat pada scene sinetron romantis. Ternyata, itu semua hanya mimpi. Tidak ada adegan romantis sedikitpun. Bahkan, dia sudah pergi meninggalkanku yang masih bengong di depan pintu kosan. Otakku masih dipenuhi rasa penasaran. Siapa sebenarnya yang hendak ditemuinya? Mengapa Mas Gilang memilih makan malam bersamanya? Bukannya sebelum ini, Mas Gilang sering tiba-tiba mengajakku makan malam di warung tenda. Haruskah aku penasaran dan mengikutinya, lalu memastikan bahwa yang ditemuinya bukan perempuan. Mataku membulat saat aku tiba-tiba bayangan pikiran tentang perempuan hinggap di benakku. Apakah yang ditemuinya adalah perempuan lain. Perempuan yang saat itu ingin dinikahi Mas Gilang? Dan perempuan itu bukan aku? Arghhhh! -- Hari ini tidak ada pesan dari Mas Gilang masuk ke ponselku. Aku pun tak menuntut banyak dia mengirimkan pesan. Mungkin karena aku sudah mengenalnya dari kecil, menjadi istrinya tidak membuatku berubah rasa terlalu berlebihan. Apalagi, kami belum tinggal serumah. Sore ini, Renita, teman satu devisiku, mengajak jalan-jalan. Tentu saja aku senang. Dia memang satu-satunya sahabatku di kantor ini karena sama-sama anak kos. Jadi, sejak kami sama-sama mulai kerja, kami sering jalan sepulang kerja untuk membunuh waktu. Tapi, tiba-tiba aku sedikit ragu, mesti ijinkah? Sekarang statusku sudah berubah. Meskipun Renita belum tahu status baruku. Seperti kesepakatan, aku hanya lapor dengan HRD dan atasanku saja. Lagi pula aku dan Mas Gilang juga tak tinggal serumah. Segera kuputuskan ijin saja dulu ke Mas Gilang. Bagaimanapun dia suamiku. Takut tiba-tiba dia mencariku. Apalagi, dia itu mirip jelangkung. Kadang-kadang tahu-tahu sudah berdiri di belakang kantor, area yang selalu kulewati saat pulang ke kosan. [Mas, aku mau jalan sama Renata, boleh?] [Boleh] Jawabnya hanya singkat. Tanpa bertanya aku mau kemana dan mau melakukan apa. Baiklah. Lega rasanya. Paling tidak, aku tidak menjadi istri yang durhaka. Aku dan Renata sengaja berjalan kaki, menyusuri salah satu jalan yang sering dikunjungi para pekerja dan pengunjung di sore hari selepas jam kantor. Tiba-tiba kakiku terhenti. “Kenapa, Sekar?” tanya Renata sambil menatapku. Tatapannya pun ikut berpindah ke tempat yang aku lihat. Ada rasa senang membuncah saat kulihat motor Mas Gilang berhenti di depan sebuah toko bunga. Ya, aku hafal motor itu. Plat nomornya. Dan juga helmnya. Jangan-jangan, dia akan memberiku kejutan dengan memberikanku buket bunga. Seperti kejutan kemarin sore, tiba-tiba menjemputku dan mengajakku ke kosannya. Ah, lelaki itu memang sulit ditebak. Meskipun tampangnya jutek dan suka marah. Buktinya, dia juga punya sisi lembut dan romantis. Aku jadi tersenyum sendiri mengingatnya. “Nggak papa, ayok!” Kutarik tangan Renita menjauh dari toko bunga itu dengan perasaan membuncah. Sekilas kulihat Renita sedikit heran menatapku. Tapi, biarlah. Semoga dia tidak mencecarku. Kami lalu minggir ke sebuah warung tenda untuk mengisi perut. Karena memang tujuan kami mencari makan malam. Sekedar wisata kuliner agar tidak makan warteg di dekat kosan setiap hari. Atau pecel lele yang kadang terasa sudah mewah. Di area ini, banyak sekali varian makanan. Ada sate, nasi goreng, seafood, soto lamongan, dan banyak lagi. Belum jajanan dan minuman. Aku tiba di kosan pukul delapan malam. Setelah mandi, kubuka ponsel, berharap ada pesan masuk dari Mas Gilang. Tanpa aku sadari, ternyata ada yang berubah pada diriku. Diam-diam aku merindukan pesan darinya. Sepertinya, dia mulai bertahta di hatiku. Ya, hanya dia. Tak ada lagi yang lain. Sayangnya, tidak ada pesan apa-apa di ponselku. Lalu, Mas Gilang membeli buket bunga untuk siapa? Apa mungkin diberikan padaku besok pagi? Semoga besok aku mendapatkan jawabannya. ***ETW*** “Sekar! Ada diskonan sepatu di toko ini. Kamu bukannya pengen banget beli sepatu ini?” tanya Renita menunjukkan sebuah brosur sepatu flat shoes yang sudah kuincar sejak lama. Sayangnya karena harganya hampir satu juta, aku selalu urung membelinya. Sepertinya akan ada ganti model baru, makanya toko itu memberikan diskon 50%. “Aku anter, kalau mau,” tawar Renita saat kami sudah siap hendak pulang. Aku dan Renita memang dekat. Kami sama-sama dari kampung pindah ke Jakarta. Kami pun punya karakter yang mirip, suka penasaran dengan ibukota. Jadilah kami berdua sering jalan untuk mengekspor kota ini. Segera kukirim ijin lagi ke Mas Gilang melalui pesan singkat. Jawabannya masih sama. Mengijinkan. Aku agak heran. Sudah dua hari dia tidak menemuiku. Tapi, biarkan saja. Toh, kalau ada yang penting pasti dia menghubungiku. Lalu buket bunga itu? Aku dan Renita segera bergegas ke mall yang terletak tak jauh dari kantor kami. Renita mengajakku langsung menuju konter sepatu. Aku tidak ingin pulang malam lagi hari ini. Kemarin sudah pulang malam. Jadi, hari ini aku berencana langsung pulang setelah mendapatkan sepatu yang kuincar. “Sebelah situ, Sekar!” kata Renita sambil menunjuk rak sepatu yang ada tulisan diskon 50%. Baru aku dan Renita mau berjalan ke arah sana, langkahku terhenti. “Mas Gilang!” gumanku. Mataku sontak tertuju pada seseorang yang ada di sebelah Mas Gilang. Sama siapa? Wanita? Sejak kapan Mas Gilang pergi sama perempuan selain aku? Apa dengan dia Mas Gilang sebenarnya akan menikah? Perasaanku jadi tidak karuan. Detak jantungku berpacu lebih cepat. Antara penasaran dan kesal bercampur menjadi satu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD