Bab 9

1391 Words
Badanku terasa sangat capek karena baru tiba di Jakarta Hari Senin pagi. Seperti kebiasaanku sejak kerja di ibukota, setiap pulang dari kota kelahiranku, aku langsung masuk kerja. Aku sudah menyimpan peralatan mandi dan stok baju kerja di loker kantor. Sehingga, aku tak perlu repot pulang ke kosan dulu. Hari ini pun aku melakukan hal yang sama. Ada untungnya juga dengan kesepakatanku dengan Mas Gilang untuk tinggal di kosan masing-masing. Tidak terbayang kalau aku mesti pulang ke kosan Mas Gilang. Aku masih harus ngurusin dia juga. Lagi pula, aku pun belum tahu kosan Mas Gilang di mana. Hidupnya seperti apa. Membayangkan hidup bersamanya saja kadang aku masih tergidik ngeri. Meskipun dalam hati ingin juga. Ngeri karena dia sering marah-marah padaku. Apapun yang kulakukan, sepertinya salah di matanya. Apalagi, aku selalu terlihat b**o dimatanya, meski menurutku aku nggak b**o-b**o amat. Buktinya, di kantor aku bisa kerja dengan baik. Kalaupun aku ingin hidup bersamanya secepatnya, semata-mata karena hutangku padanya. Aku tak bisa membayangkan kalau aku harus menyetorkan semua gajiku padanya, terus aku bayar kos pakai apa? Makan, jajan, dan pengeluaran lain? Arghhhh! Sepulang kerja, sampai di kosan, aku segera membersihkan diri dan menunggu waktu isya. Mataku sudah lima watt, sangat lengket dan ingin segera terpejam. Mengingat semalam aku hanya tidur di kereta. Sebenarnya, aku ingat pesan yang ada di ponsel Mas Gilang kemaren. Tentang seseorang yang bernama SKN yang akan bertemu dengan Mas Gilang sore ini. Tapi rasa lelahku rupanya mengalahkan segalanya. Baiklah, aku istirahat saja. Masih ada waktu besok-besok untuk menyelidiki siapa SKN yang membuat cerah wajah Mas Gilang kemarin. Seingatku, dia sampai malam masih ngobrol melalui sambungan telpon. ****ETW*** Keesokan harinya.... [Sekar, aku tunggu di belakang kantormu!] Sebuah pesan masuk ke ponselku saat aku bersiap-siap pulang. Hatiku bersorak membaca pesan dari Mas Gilang. Aha! Ternyata dia tidak serius ingin menyembunyikan hubungan kami. Buktinya, dia menemuiku di belakang kantor. Memang, sejak kemaren sore aku sama sekali tidak mengontaknya. Tubuhku terasa sangat lelah. Untungnya, hari ini aku sudah merasa bugar kembali. Aku bergegas berjalan ke belakang kantor. Di sore hari, pulang kerja begini, biasanya banyak pedagang kaki lima di sana. Kusapukan pandangan ke segala penjuru. Tapi, nihil! Tak ada sosok dingin jutek tapi tampan, Mas Gilangku. Masak dia bohong? Aku memindai sekali lagi. Setiap sudut. Bahkan aku juga melihat di sekitar warung-warung tenda di sana. Mataku sampe menyipit untuk menajamkan pandanganku. “Sekar!” tiba-tiba namaku dipanggil oleh suara yang aku tidak asing. Segera aku menoleh ke sumber suara. Alamakkk! Sejak kapan dia bawa motor? Seseorang dari atas jok motor itu melambaikan tangan ke arahku. Aku sedikit tidak percaya. Bahkan sampai kutunjuk diriku sendiri untuk meyakinkan bahwa orang di atas jok motor itu yang memanggilku. Benarkah itu Mas Gilang? Hhhmmm sepertinya iya. Cuma memang sejak aku lulus SMA aku tidak pernah melihatnya mengendarai motor dengan gaya seperti itu. Jadi, aku sedikit tak mengenalinya dengan atribut yang dikenakannya. Kemarin-kemarin dia tidak menggunakan sepeda motor saat menemuiku. “Bengong, sih?” kata Mas Gilang saat aku sudah mendekatinya. Masih sama gayanya. Jutek! Aku hanya bisa mengigit bibir bawah sambil tersenyum malu-malu. “Ayo, naik,” titahnya sambil mengangsurkan helm padaku. "Dikancingin yang bener!" omelnya galak saat aku hendak naik, tanpa mengancingkan kaitan helm itu. Padahal sedari tadi aku kesulitan mencari kaitannya. Maklumlah aku jarang memakai helm dengan benar. Hiks! "Sini!" Muka juteknya membuat dia semakin tampan saja. Mas Gilang menarik kedua ujung kaitan helm itu ke dekatnya, hingga aku harus sedikit mendongak. Kupakai saja kesempatan ini untuk menatapnya lekat. Hmmm. Nggak percuma aku terpaksa menikah dengannya. "Buruan naik!" ujarnya setelah terdengar bunyi 'klek' pada kaitan helm itu. Aku tersenyum, senang. Jantungku berdebar-debar. Mirip orang mau diajak pacaran saja. “Mau kemana?” tanyaku saat aku sudah naik dijok belakang motornya. Untung aku memakai kulot. Sejak kemana-mana sering terpaksa memakai ojek online, memang aku terbiasa dengan kulot. “Pegangan! Nanti kamu jatuh aku tidak tanggung jawab!” perintahnya., tanpa menggubris pertanyaanku. Terserahlah, mau dibawa kemana. Sama suami sendiri ini, batinku. Tanpa aku sadari, tangan Mas Gilang diulurkan ke belakang mencari-cari tanganku. Lalu dilingkarkannya kedua tanganku ke pinggangnya. Ada rasa aneh di sana. Seumur-umur aku baru kali ini membonceng motor harus pegangan seperti ini. Biasanya kalau membonceng kakakku atau bapak, aku jarang pegangan juga. Soalnya jarang pergi jauh. Aku terbiasa pergi dengan naik angkutan umum kalau pergi jauh. Apalagi kalau saat membonceng babang ojek, jelas nggak perlu pakai pegangan. Sepanjang jalan, aku tak bisa menahan rasa senangku. Bagaimana tidak, aku yang tak pernah dekat dengan cowok, nggak pernah punya pacar, tiba-tiba boncengan motor berdua semesra ini. Ini seperti dalam mimpi. Seperti hidup dalam negeri dongeng. Tiba-tiba aku ingat kata-kata Mas Gilang saat kami masih SMA. "Nggak akan ada cewek yang boleh bonceng aku kecuali istriku!” Kata-kata itu doa. Buktinya, sekarang aku jadi istrinya. Makanya kalau disuruh mamanya nganterin orang, jangan suka ngedumel. Akhirnya jadian 'kan? Batinku seraya tersenyum, penuh kemenangan. Tak lama, motor Mas Gilang sudah berhenti di sebuah kos-kosan. Setelah memarkirnya, Mas Gilang mengajakku naik ke atas melalui tangga. Rupanya ada beberapa kamar di kosan ini. Aku sebenarnya agak canggung masuk ke kos- kosan bersama laki-laki. Bisa jadi ini memang kosan laki-laki. "Kamu santai aja. Di sini banyak pasutri juga, kok," ucapnya, seolah membaca keraguanku saat diajaknya masuk. Mas Gilang sudah paham betul kalau aku pemalu dan segan masuk ke sarang laki-laki. Bagaimanapun hampir 17 tahun kami dibesarkan di kampung yang sama. Sudah saling kenal jelek-jeleknya masing-masing. Kami melewati beberapa kamar sebelum akhirnya berhenti di kamar Mas Gilang. Berbeda dengan kosanku yang tanpa pendingin ruangan dalam kamar. Biasanya, pintu kamar kami biarkan terbuka, kecuali kalau sedang istirahat atau ganti baju saja. Karena kalau pintu kamar ditutup sepanjang hari, akan terasa pengap. Sementara, kosan Mas Gilang sepertinya banyak dihuni dari menengah ke atas. Tak heran jika semua pintu dan jendela tertutup rapat, agar udara berpendingin tidak memboroskan listrik. Kupindai kamar Mas Gilang. Kamar yang terkesan mewah dibanding kosanku. Pasti dia merogoh kocek yang mahal setiap bulannya untuk membayar kosan ini. Ada kamar mandi di dalam. Ada kulkas dan kitchen set mini. Mirip seperti studio apartemen. Mas Gilang juga sangat apik. Kamarnya pun bersih dan rapi. Jadi, dia bersih-bersih dulu sebelum berangkat kerja? Setahuku orang yang galak jutek macam dia, biasanya orangnya juga rapi dan bersih. Aku bisa melihat dari penampilannya yang selalu licin. “Mandi!” katanya sambil menyondorkan lipatan handuk ukuran besar. Kutaksir itu handuk bersih karena dia baru mengambilnya dari lemari. Aku sedikit bingung menerimanya. Kutatap wajah Mas Gilang bergantian dengan handuk yang ada di tangannya. “Sana mandi dulu, biar nggak bau!” katanya lagi. Dasar lelaki ngomong nggak disaring, rutukku. Seketika aku mengendus bahu dan lenganku sendiri. Memastikan bahwa aku tidak bau seperti kata-katanya. Kalau gerah dan lengket sih iya! Jakarta panas, Bung! “Tapi aku nggak bawa baju ganti, Mas,” jawabku beralasan. Aku tidak terbiasa memakai baju yang sudah berkeringat. Apalagi, habis pulang kerja dan naik motor melewati gang-gang seperti ini, gerahnya bukan main. Mungkin mas Gilang benar, badanku bau. Tapi? “Ck!” Mas Gilang mendecak. Lalu dia membuka lemari dan mengeluarkan sesuatu dari lemarinya lagi. “Pakai!” katanya sambil menyerahkan kaos dan celana training. Tentu saja, pasti ukurannya kegedean di badanku. Tapi, ya sudahlah. Menurut saja. Meski aku sendiri belum tahu apa maksudnya menyuruhku mandi. Tapi, dia paling tidak suka dibantah. Masuk kamar mandi, aku kembali takjub. Kamar mandinya bersih dan rapi untuk ukuran kamar mandi cowok! Aku jadi merasa insecure. Gimana aku hidup dengannya nanti. Aku kan paling malas bersih-bersih dan rapi-rapi. Hidup dinikmati. Yang penting masih bisa nafas, beberes kapan-kapan. Tepok jidat! Tak lama aku sudah selesai mandi, seperti biasa, kilat. Sebenarnya aku kurang nyaman. Aku harus memakai peralatan mandi punya Mas Gilang. Bayangin itu sampo dan sabun mandinya kan maskulin banget, belum pembersih wajahnya. Aroma cowok tentu saja jadi menguar dari tubuhku. Ah biar saja. Begitu aku keluar kamar mandi, dia pun bergantian masuk kamar mandi. Kesempatan aku kepo melihat-lihat kamarnya yang licin tanpa debu ini. Lima belas menit berselang, dia belum keluar. Ternyata mandi dia lebih lama dariku. Tiba-tiba ponsel milik Mas Gilang yang ada di atas ranjang berkedip-kedip. Segera kudekati ponsel itu. Mataku memicing melihat notifikasi itu. SKN lagi! [Lang, nanti jadi makan bareng kan? Aku selesai lembur jam 7.] Mereka akan ketemuan malam ini, jam tujuh? Siapa sebenarnya SKN ini? Apakah aku harus diam-diam mengikuti mereka seperti menyelidiki kasus perselingkuhan? Ya, Tuhan, baru juga dua hari umur pernikahanku. Ujian apa ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD