Sakina dan Gilang saling berpandangan. Tak lama, Gilang pun berdiri. Hatinya tak dapat berbohong, ada rasa tak nyaman. “Gilang, aku ingin bicara....” Sakina menghalangi Gilang untuk pergi. Dulu, dia sering menghabiskan waktu bersama Gilang. Tapi, sejak Gilang menikah, pemuda selalu menghindar, bahkan pria yang diakui sebagai sahabatnya itu memblokir nomornya. Ditemui di kantornya pun menolak. Sakina sangat kehilangan. Separuh hatinya seolah pergi. Dulu, dia selalu memiliki teman berbagi. Tapi, kini teman itu telah pergi. Bahkan, di saat dia sangat membutuhkannya. Di saat dia sedang menghadapi keputusan besarnya, dia harus sendiri. Dan dia terlambat menyadari, bahwa perginya Gilang bersamaan dengan pengakuannya menerima perjodohan itu dengan senang hati. Dia baru menyadari bahwa s

