“Sekar! Aku ingin bicara,” ujar Mas Gilang usai pulang dari tempat Mba Sakina. Sepertinya sangat serius. Aku yang tadi sedang ngobrol dengan Mbak Ratih, kakaknya Mas Gilang, segera beranjak mengikutinya masuk ke kamarnya. Aku duduk di sisi ranjang, sedang dia duduk di kursi belajarnya menghadap ke arahku. Wajahnya terlihat tak baik-baik saja. Ada sendu, gelisah dan was-was bercampur menjadi satu. “Ada apa?” tanyaku saat kulihat dia seperti ragu ingin mengucapkan sesuatu. “Ternyata, pria yang melamar Sakina adalah Fajar,” ujar Mas Gilang sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Terlihat seperti orang frustasi. Aku tersentak kaget. Antara percaya tidak percaya. Bukankah Mas Fajar sudah memiliki pacar. Lalu, mengapa dia justru menikah dengan Sakina. Oh iya, aku ingat, Bude Nurul, o

