Usai makan makan malam di rumah mertua, kami berbincang santai di ruang keluarga. Aku sudah selesai membereskan perkakas makan malam karena tadi tidak membantu memasak. Mas Gilang belum pulang. Setelah lamaran Sakina, dia hanya pulang sebentar sambil marah-marah padaku, lalu balik lagi entah kemana. Malas juga bertanya padanya. “Ngurusin Masmu itu memang harus sabar. Anaknya semaunya sendiri. Tapi dia sebenarnya baik,” ujar mama mertua sambil mengusap bahuku. “Lagian, kalo Mas Gilang dari dulu nggak mau nikah sama Sekar, kenapa dipaksa sih, Ma?” Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang melatarbelakangi dia mendadak mau menggantikan Fajar. “Siapa yang terpaksa. Wong Gilang yang mau.” Mata mama mertua malah mengerling ke papa mertuaku. Keduany

