bc

Rahasia Cinta Mr. CEO

book_age18+
6.5K
FOLLOW
41.1K
READ
billionaire
revenge
CEO
boss
others
asexual
passionate
selfish
seductive
victim
like
intro-logo
Blurb

Pengantin yang lain mungkin akan tersenyum bahagia ketika akan mengenakan gaun pengantin yang cantik, pengantin pria yang tampan dan kaya, apalagi ditambah dengan pesta perkawinan yang sangat megah, sehingga akan membuat wanita lain meneteskan air liur karena iri, tapi tidak dengan Sara.

Dihari yang seharusnya penuh kebahagiaan, ia menangis tersedu sedu karena menjadi pengantin seorang diri.

Jangankan keluarga, pengantin prianya saja ia tak mengenalnya. Ini semua gara gara perilaku sang ayah.

Jika sang Ayah tak berbisnis dengan keluarga Sugama, mungkin ceritanya akan lain. Jika sang Ayah tak terlalu rakus untuk mengambil keuntungan, Sara tak akan dijadikan sandera dan di ikat dengan pernikahan agar tak ikut melarikan diri seperti sang Ayah.

Sara sadar, setelah hari ini ia tak akan pernah bisa menikmati kebebasannya dan tak bisa seperti dulu lagi.

Sara hanya bisa berdoa agar mimpi buruknya segera berakhir dan semoga pria yang akan menjadi suaminya tak seburuk seperti yang ia dengar diluar sana.

***

Acara pernikahan pun dimulai dan berlangsung dengan megah. Sang pengantin pria yang tampan tampak begitu berwibawa dibalik sikapnya yang dingin.

Semua mata tertuju pada pasangan yang akan mengucapkan akad nikah.

Pengantin Pria itu bernama Robin. Dari bibirnya yang indah, tersungging senyum tipis disudut bibir saat melihat sang pengantin wanita masuk ke dalam ruangan dan melangkah kearahnya dengan wajah menunduk.

Perempuan itu, yang kemarin baru ia lihat dari jauh dan kini melangkah kearahnya untuk membayar hutang sang ayah dengan hidup dan tubuhnya.

Ada rasa benci juga senang dihati Robin saat melihat Sara. Ia merasa benci karena Ayah Sara telah menipu keluarganya, tapi ia juga sekaligus senang melihat kecantikan Sara.

Rasanya ia sudah tidak sabar untuk mempermainkan perempuan itu dibalik kedoknya sebagai suami.

Pesta Pernikahan itu berlangsung dengan amat meriah dan sukacita. Para tamu tampak mengelu elukan pasangan pengantin itu, tanpa menyadari betapa kikuknya Sara dan dinginnya Robin pada istri barunya.

Selama acara pernikahan, Robin seolah tak merasa Sara ada, ia sibuk dengan para tamunya dan tak sepatah katapun keluar dari mulut Robin untuk menyapa atau menanyakan keadaan Sara. Hanya sesekali Robil merangkul dan memeluk Sara untuk kebutuhan foto bersama tamu tanpa ada kata yang terucap.

chap-preview
Free preview
Pesta Pernikahan

Langit sore itu tampak indah, sinarnya yang keemasan membias ke sela sela kaca jendela disebuah kamar hotel, seolah menambah pesona kecantikan seorang calon pengantin yang tengah terduduk sambil menatap ke sudut ruangan. Calon Pengantin itu bernama Sara. Gadis itu tak kuasa menangis, ketika ia melihat gaun pengantin cantik yang terpajang di sebuah patung seolah ingin segera dikenakan.

Pengantin yang lain mungkin akan tersenyum bahagia ketika akan mengenakan gaun pengantin yang cantik, pengantin pria yang tampan dan kaya, apalagi ditambah dengan pesta perkawinan yang sangat megah, sehingga akan membuat wanita lain meneteskan air liur karena iri, tapi tidak dengan Sara.

Dihari yang seharusnya penuh kebahagiaan, ia menangis tersedu sedu karena menjadi pengantin seorang diri. Jangankan keluarga, pengantin prianya saja ia tak mengenalnya.

Ini semua gara gara perilaku sang ayah. Jika sang ayah tak berbisnis dengan keluarga Sugama, mungkin ceritanya akan lain. Jika sang ayah tak terlalu rakus untuk mengambil keuntungan, Sara tak akan dijadikan sandera dan diikat dengan pernikahan agar tak ikut melarikan diri seperti sang ayah.

Sara sadar, setelah hari ini ia tak akan pernah bisa menikmati kebebasannya dan tak bisa seperti dulu lagi.

Sara hanya bisa berdoa agar mimpi buruknya segera berakhir dan semoga pria yang akan menjadi suaminya tak seburuk seperti yang ia dengar diluar sana.

***

Acara pernikahan pun dimulai dan berlangsung dengan megah. Sang pengantin pria yang tampan tampak begitu berwibawa dibalik sikapnya yang dingin. Semua mata tertuju pada pasangan yang akan mengucapkan akad nikah.

Pengantin Pria itu bernama Robin. Dari bibirnya yang indah, tersungging senyum tipis disudut bibir saat melihat sang pengantin wanita masuk ke dalam ruangan dan melangkah kearahnya dengan wajah menunduk.

Perempuan itu, yang kemarin baru ia lihat dari jauh dan kini melangkah kearahnya untuk membayar hutang sang ayah dengan hidup dan tubuhnya.

Ada rasa benci juga senang dihati Robin saat melihat Sara. Ia merasa benci karena Ayah Sara telah menipu keluarganya, tapi ia juga sekaligus senang melihat kecantikan Sara.

Rasanya ia sudah tidak sabar untuk mempermainkan perempuan itu dibalik kedoknya sebagai suami.

Pesta Pernikahan itu berlangsung dengan amat meriah dan sukacita. Para tamu tampak mengelu elukan pasangan pengantin, tanpa menyadari betapa kikuknya Sara dan dinginnya Robin pada istri barunya. Selama acara pernikahan, Robin seolah tak merasa Sara ada, ia sibuk dengan para tamunya dan tak sepatah katapun keluar dari mulut Robin untuk menyapa atau menanyakan keadaan Sara. Hanya sesekali Robil merangkul dan memeluk Sara untuk kebutuhan foto bersama tamu tanpa ada kata yang terucap.

Akhirnya pesta pernikahan itu pun selesai.

Ada rasa lega saat Sara bisa kembali ke dalam kamar pengantin dan terlepas dari pandangan sinis sang mertua.

Tak ada satu pun dari keluarga inti Robin menyukainya. Mereka tak setuju Robin menikahi Sara, karena takut Sara akan bersikap sama dengan sang ayah yang menipu keluarga mereka.

Sara baru saja selesai membersihkan dirinya dan masih mengenakan bathrobe saat melihat beberapa asisten Robin bersama beberapa pelayan hotel mengemasi barang barangnya.

"Mau dibawa kemana? Itu, semua barang barang milikku!"tanya Sara panik melihat barang barang miliknya dibawa keluar ruangan.

"Silahkan berganti pakaian Nyonya, Pak Robin bilang, malam ini juga Nyonya dan bapak kembali kerumah," ucap salah satu asisten Robin sembari memberikan satu set pakaian.

Tanpa banyak bicara Sara menurut dan segera mengganti pakaiannya.

Tak lama kemudian mereka semua sudah ada di basement dimana sebuah mobil mewah sudah menunggu untuk mengantarkan Sara untuk pergi menuju kediaman barunya.

"Silahkan masuk nyonya, Pak Robin tidak ikut, karena ia masih punya pekerjaan lain yang harus diselesaikan," ucap seorang pria yang akhirnya Sara ketahui bahwa pria itu bernama Zen, asisten sekaligus pengawal pribadi Robin. Zen pun membukakan pintu mobil dan Sara masih sempat melihat ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu lalu menghembuskan nafas lega saat ia sadar benar benar tak ada Robin disana.

Entah mengapa ia merasa sangat lega, karena di dalam hatinya ia merasa canggung, takut juga bingung untuk menghadapi suami yang tak pernah dikenalnya itu. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap jika mereka bersama.

Sara hanya menghela nafas panjang dan menatap kearah luar jendela dengan pandangan kosong dan hatinya mulai berdoa, berharap bahwa semua kejadian hari ini hanya mimpi buruk belaka.

***

Sara terbangun dari tidurnya saat Zen membangunkannya perlahan dan memberitahu bahwa mereka sudah sampai. Sara keluar dari mobil dengan perasaan ragu dan takjub melihat pemandangan dihadapannya.

Rumah mewah itu terlihat indah.

Walau lampu dipasang temaran tetapi malah menambahkan keindahannya.

Dipintu depan ia sudah disambut oleh beberapa asisten rumah tangga dan Sara pun berjalan mengikuti salah satu asisten rumah tangga yang mengarahkannya kesebuah kamar.

"Silahkan masuk Nyonya, ini kamar utama dimana Nyonya dan Pak Robin beristirahat. Didalam ruangan itu sudah ada barang barang dan perlengkapan pribadi yang bisa Nyonya gunakan” ibu Ruth, sang kepala asisten rumah tangga mempersilahkan Sara untuk masuk dan mengajak Sara untuk berkeliling kamar untuk mengetahui dimana ruangan lain selain ruang tidur.

Sara hanya tersenyum dan mengangguk, lalu ibu Ruth pun berpamitan dan keluar dari kamar. Perlahan dengan rasa sungkan Sara duduk ditepi ranjang.

Ia pun tergiur untuk merebahkan tubuh dan jiwanya yang lelah di ranjang yang terasa empuk. Aroma rempah dan melati yang harum didalam ruangan kamar semakin membuai Sara untuk merasa lebih tenang dan relaks.Ranjang yang empuk dan besar itu seolah membuai Sara untuk kembali ke alam mimpi. Seharian menjadi pengantin melelahkan tubuh dan perasaannya.

Sara tak menyadari, jika tak lama kemudian seorang pria masuk kedalam kamarnya dan memperhatikan ia tidur.

Pria itu adalah Robin.

Robin hanya tersenyum sinis dengan pandangan mata yang begitu tajam saat melihat Sara tertidur dengan lelap sampai tak menyadari kehadirannya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhnya yang sedikit mabuk karena alkohol yang ia minum saat pesta.

Tak lama kemudian Robin keluar dengan mengenakan selembar handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.

Masih ada tetes air yg mengalir membasahi bahunya yang lebar dari rambutnya yang basah.

Dengan tenang ia menghampiri Sara yang masih tertidur seperti bayi dan duduk disisinya, perlahan ia mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Sara. Sara mulai tersadar saat merasakan seseorang mencoba membuka pakaian yang ia kenakan. Dengan pandangan yang masih mengantuk, samar samar melihat seseorang tengah duduk diatas tubuhnya sambil melucuti pakaiannya.

"Jangan!"Sara meronta saat Robin mulai meraba bagian belakang Branya. Dengan satu jentikan jari kaitan bra itu terlepas dan tangan Robin mendorong keatas sehingga isi didalam bra itu pun menyembul keluar. Sara meronta mencoba menutupi tubuhnya,tapi Robin cepat menangkap kedua tangan Sara dan menahannya di sisi kedua telinga Sara sehingga perempuan itu tak bisa bergerak.

Robin pun mulai menciumi telinga dan leher Sara.

"Jangan ...."Sara meminta dengan suara lemah dan di telinga Robin terdengar seperti suara desahan.

"Kenapa?Kamu istriku sekarang dan malam ini malam pertama kita. Masih berani untuk menolak setelah yang ayahmu lakukan?!" bisik Robin lalu melumat bibir Sara sampai perempuan itu kehabisan nafas.

"Tolong beri aku waktu...,"pinta Sara hampir menangis dan terengah engah karena kekurangan nafas saat melepaskan ciuman Robin.

"Waktu?! Untuk apa? Kamu tak punya waktu atau apapun untuk bernegosiasi denganku?!"Robin segera menegakkan tubuhnya dan menarik penutup terakhir dibagian bawah tubuh Sara.

Sara menjerit sesaat dan mencoba menarik tubuhnya saat melihat Robin melepaskan handuknya sendiri. Ia berhasil turun dari ranjang, tapi Robin bergerak lebih cepat dan dengan segera menyambar pinggang Sara dan menghempaskannya ke atas ranjang lalu menindihnya.

Robin mulai tak bisa mengendalikan hasrat dan pikirannyasendiri, apalagi sisa sisa alkohol masih memenuhi otaknya sehingga melihat tubuh Sara yang indah ia menjadi lupa status Sara yg merupakan anak dari orang yang menipu keluarganya. Sara berteriak kesakitan saat Robin hendak menembus tubuhnya.

Spontan Robin memeluk Sara dan berbisik ditelinganya.

"Peluk aku, percayalah padaku...," desah Robin sembari melingkarkan lengan Sara yang sedari tadi ia kunci ke lehernya.

Melihat tatapan Robin yang tiba tiba berubah lembut, membuat Sara spontan memeluknya erat. Robin pun tenggelam dalam hasratnya sedangkan Sara hanya bisa meneteskan airmata merasakan bagian tubuh bawahnya terasa sakit dan perih. Ia hanya bisa pasrah.

***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Tergoda Janda Kembang

read
33.9K
bc

Jadilah Mamaku

read
36.8K
bc

Menggoda Tuan L

read
257.6K
bc

Yes, I'm Sugar Baby

read
35.6K
bc

BELENGGU

read
55.2K
bc

Terpaksa Berjodoh

read
7.9K
bc

Mendadak Nikah

read
47.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play