"Perlahan merubah dan pada akhirnya kembali meninggalkan. Jujur, aku muak dengan alur seperti ini."
****
Hari kedua, seluruh mahasiswa baru sudah dikumpulkan di lapangan yang terbilang sangat luas. Hari ini mereka memakai baju olahraga sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan kemarin, memakai celana training hitam dengan kaos berwarna putih.
Katria duduk sambil meluruskan kakinya, jujur dia merasa pegal karena pemanasan tadi. Seorang gadis yang duduk di sebelahnya menyodorkan minuman ke arah Katria.
Katria menatap gadis asing itu sedikit lama dan menerima pemberiannya. "Makasih, ya," ujar Katria.
"Sama-sama."
Katria meneguk minumanya, setelah itu dia kembali menatap gadis yang duduk di sebelahnya. Rambutnya sebatas bahu, memiliki pipi yang tirus, kulit putih tanpa jerawat dan hidung yang sedikit mancung, dia lumayan cantik.
"Gue Arinda, dari Fakultas Ekonomi, tepatnya dari jurusan Manajemen."
"Katria, gue jurusan Hukum." Ternyata gadis ini dari Fakultas Ekonomi, wajar saja terlihat cantik. Seperti kebanyakan orang tau bahwa memang di fakultas itulah terdapat banyak gadis-gadis cantik yang menjadi incaran mahasiswa fakultas lain.
"Oh, lo suka hukum?" tanya Arinda.
"Gak terlalu sih, cuma lumayan tertarik aja karena kebetulan papa gue juga setuju kalau gue masuk hukum," jawab Katria.
"Oh gitu, atau alasan lainnya jangan-jangan lo mau satu jurusan sama pacar?" Tebak gadis yang bernama Arinda.
"Gak lah, gue kuliah karena keinginan gue. Kebetulan pacar gue ngambil jurusan Manajemen."
"Sama dong, pacar gue juga manajemen," ujar Arinda.
"Lo pasti semangat banget kuliahnya 'kan?"
"Iya, lihat deh. Ini gelang pemberian cowok gue." Arinda menunjukkan gelang berwarna hitam di tangannya kepada Katria.
Katria menatap gelang gadis bernama Arinda itu, di sana terukir 2 huruf yaitu AP. Katria sangat mengenali inisial ini. Katria sering melihat inisial seperti itu di buku Alvan, lelaki itu menandakan bukunya dengan menggunakan inisial tersebut. Katria menghilangkan pikiran negatifnya. Nama dengan inisial seperti itu banyak bukan hanya Alvan.
"Lo kayaknya cinta banget sama dia."
"Iya, gue sebenernya baru pacaran 2 minggu. Tapi dia baik banget sama perhatian juga sama gue."
"Iya namanya aja pacaran pasti perhatian lah. Semoga langgeng, ya."
"Iya, lo sama pacar juga."
Meskipun Katria hendak mengenyahkan pikiran negatif, tetap tidak bisa. Dia masih terus memikirkan hal itu. Memikirkan beberapa tuduhan yang mungkin memang tepat sasaran.
Di depan sana, Liam tidak mengalihkan perhatiannya dari Katria, lelaki itu menatap Katria dengan intens, hingga pandangan mereka saling bertemu. Liam mengedipkan sebelah matanya sambil menyeringai.
"Cowok gila," dumel Katria.
"Cowok lo?" tanya Arinda yang tak sengaja melihat kejadian barusan.
"Bukan, gue sama pacar gue seangkatan," jawab Katria.
"Nama pacar lo siapa? Siapa tau nanti gue satu kelas sama dia."
"Alvan," jawab Katria.
"Nama pacar gue juga Alvan, kok bisa kebetulan gitu ya, Alvan apa lengkapnya?"
Pikiran Katria semakin menuju ke arah negatif, jantungnya juga ikut berdebar kencang. Apa bener lelaki yang Arinda maksud adalah Alvan pacarnya? Tapi tidak mungkin jika Alvan selingkuh darinya.
"Gue duluan," pamit Katria memilih pergi daripada semakin overthinking.
Katria tidak mau menjawab pertanyaan itu, dia segera berdiri meninggalkan lapangan karena kegiatan ospek hari ini sudah berakhir. Dia tidak mau jika harus menerima kenyataan lebih pahit. Apa bener itu Alvan? Arinda bilang pacarnya jurusan manajemen dan nama pacarnya juga Alvan. Tidak mungkin itu sebuah kebetulan.
Katria menunggu Alvan di parkiran, tak lama lelaki itu menghampirinya.
"Ada apa, Kat?"
"Kamu kenal Arinda?"
Ada keterkejutan di wajah tampan itu walaupun Alvan segera menutupinya dengan menunjukkan ekspresi bingung.
"Kenapa? Kok kayak kaget gitu?"
"Aku gak kenal. Siapa emang?"
"Dia satu kelompok sama aku, dia bilang dia punya pacar namanya Alvan dari jurusan manajemen, dan dia juga punya gelang berinsial AP. Bukannya kamu sering tandai barang kamu dengan inisial seperti itu?"
"Nama Alvan banyak, Kat. Kamu kok malah mikirin yang enggak-enggak."
"Aku gak mikirin yang enggak-enggak, Van. Aku cuma tanya aja, apa kamu kenal sama cewek yang namanya Arinda?"
"Aku gak kenal, Sayang. Aku duluan ya soalnya mama udah nungguin di rumah."
"Mama yang nungguin atau mau nganterin cewek lain?"
Alvan yang sudah berjalan beberapa langkah kembali menghadap ke arah Katria.
"Kamu kok malah berpikiran yang kayak gitu sih, aku gak kenal sama Arinda. Pacar aku cuma kamu, gak ada yang lain."
"Kalau sampek kamu emang selingkuh, jangan harap aku mau ketemu sama kamu lagi."
Katria masuk ke mobilnya segera meninggalkan Alvan yang masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
*****
Katria belum sampai ke rumahnya, dia masih berada di sebuah starbucks. Kebetulan papanya sedang ada tugas di luar kota, jadi tidak apa-apa walaupun dia tidak pulang sekarang, lagian di rumah pun yang ada dia akan bosan karena sendirian
"Katria? Ngapain lo?"
"Nyantai, lo berdua ngapain?" tanya Katria.
"Gue sama Alvian lagi mau nongkrong aja, bosan juga di rumah," jawab Rayyan.
"Alvan gak ikut?" tanya Katria.
"Dia 'kan sibuk sekarang."
"Sibuk apa?"
Rayyan yang semula anteng kini gugup, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Alvan sibuk apa?" ulang Katria.
"Gue gak tau, katanya sibuk gitu." Rayyan menjawab.
"Sibuk sama pacar barunya?" selidik Katria.
"Pacar baru? Ada-ada aja lo, kan cuma lo pacarnya." Rayyan menyengir kaku.
"Lo berdua gak lagi sembunyiin apa-apa dari gue 'kan?"
"Gak lah, kita kan teman. Jadi gak mungkin pakai rahasian segala," jawab Alvian.
"Awas aja kalau loh berdua bohong."
"Rhea apa kabar?" Rayyan mengalihkan topik obrolan.
"Dia baik."
"Syukur deh."
"Oh ya gue liat sekarang Raga kok jarang main sama kalian?"
"Lo gak tau? Dia kan udah punya pacar sekarang," jawab Alvian.
"Pacaran sama siapa? Kok gue gak tau."
"Clara, jurusan Kedokteran."
"Wih, syukur deh dia udah punya pacar. Tinggal lo Ray, kapan nih loh nembak Zela?" goda Katria.
"Lagi proses."
Katria dan Alvian hanya tertawa melihat wajah murung Rayyan, dia dan Zela sudah lama melakukan pendekatan namun sampai sekarang belum ada status diantara keduanya. Entah karena Rayyan yang tidak percaya diri, atau karena Zela yang tidak kunjung memberi jawaban dan semacam kode.
"Gue pulang dulu ya, gerah belum mandi soalnya."
"Yoi, hati-hati Kat bawa mobilnya."
Katria keluar dari starbucks, saat di parkiran dia melihat seorang lelaki memakai hoodie Navy bersama dengan seorang perempuan. Seperti Alvan.
Katria mengetikkan pesan kepada Alvan.
Kamu di mana?
Selang beberapa saat dia sudah mendapatkan balasannya.
Di rumah.
Lelaki itu di rumah? Tidak biasanya Alvan secuek ini, mungkin dia sedang kecapean. Katria masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan starbucks, tempat di mana seharusnya dia bisa menemui seseorang yang baru saja membohonginya.