3. Lo lagi jalan sama Alvan?

1023 Words
"Perubahanmu menunjukkan bahwa rasa itu memang tak sama seperti dulu lagi." ***** Hari terakhir ospek universitas, semua mahasiswa baru akan dijemput oleh senior dari fakultas mereka masing-masing. Katria yang merupakan dari jurusan hukum berjalan bersama mahasiswa baru lainnya, dipandu oleh Liam yang merupakan senior dari jurusan tersebut. Gedung jurusan ilmu hukum terletak disebelah selatan kampus, sedangkan fakultas ekonomi berada di arah barat kampus. Katria merasa risih karena sedari tadi Liam menatapnya. Perlakuan Liam pasti menimbulkan tanda tanya dari beberapa mahasiswa yang melihat kejadian tersebut. Rafka, Zela, dan Katria berada di kelas yang sama yaitu di kelas 1A. Katria merasa sangat senang karena satu kelas dengan dua orang yang sudah ia kenali. Setelah tau di mana fakultas mereka berada, semua mahasiswa baru di perbolehkan pulang. Katria menunggu Alvan di parkiran karena tadi dia pergi bersama Alvan. "Kita pulang sekarang 'kan?" tanya Alvan. "Gak makan dulu?" tanya Katria, tidak biasanya Alvan langsung mengajaknya pulang. "Emang kamu lapar?" tanya Alvan. "Gak juga." "Ya udah kita pulang." Katria merasa kesal, kenapa dengan Alvan? Kenapa dia bertingkah secuek ini, seingatnya Katria sedang tidak berulang tahun sekarang, dan hari ini juga bukan hari jadian mereka. Lalu kenapa Alvan jadi aneh begini. "Kok malah bengong? Gak mau pulang?" "Kamu pulang aja." "Yakin? Ya udah deh kalau gitu. Aku duluan, ya," ujar Alvan. Baru saja Alvan hendak masuk ke mobilnya, sebuah tas berwarna pastel mendarat di kepalanya dengan sempurna. Alvan menatap Katria yang merupakan pelakunya, sedangkan Katria berdiri sambil menatap tajam Alvan. "Kamu kenapa sih?" ujar Alvan seraya menyerahkan kembali tas Katria. "Kamu yang kenapa?" Katria menepis tas itu, deru napasnya memburu karena emosi. Katria mengepalkan tangan kirinya. "Kat, ini di parkiran. Bisa gak sih suaranya di kecilin nanti kita malah jadi pusat perhatian. Kita ini masih mahasiswa baru, nanti malah dikira nyari sensasi." "Biarin! Kamu kenapa? Selama kuliah kamu jadi aneh, kamu selalu cuek, kamu gak pernah telpon aku, aku selalu nungguin telpon dari kamu. Tapi apa? Gak ada satu pun pesan dari kamu Van. Kamu selalu bilang kalau kamu sibuk. Sibuk apa emang? Sibuk selingkuh?" "Kat, kamu kok malah nuduh yang enggak-enggak tanpa bukti gini." "Aku gak nuduh, Van. Semalam di starbucks aku liat cowok mirip banget sama kamu lagi sama cewek. Itu kamu apa bukan?" "Aku udah bilang sama kamu, kalau aku di rumah semalam, Kat. Kamu gak percaya lagi sama aku?" "Tapi kenapa pas aku tanya sama tante Aleta. Dia bilang kalau kamu lagi keluar. Itu yang bikin aku overthinking sekaligus bertanya-tanya sekarang. Apa sebenarnya yang kamu sembunyiin dari aku. kamu punya selingkuhan?" "Aku keluar bentar, dan gak ada yang aku sembunyiin dari kamu termasuk punya selingkuhan seperti kamu bilang." "Keluar ke mana? Temuin cewek lain yang sekarang jadi selingkuhan kamu, iya?" "Kat, aku sama sekali gak seperti yang ada di pikiran kamu saat ini. Kenapa daritadi selingkuh aja yang kamu bahas!" Suara Alvan meninggi. Katria menatap Alvan dengan ekspresi kaget. "Bahkan sekarang kamu udah mulai bentak-bentak aku. Kamu emang udah berubah sekarang, kalau emang gak suka lagi bilang, kalau emang gak sayang lagi tunjukkin secara langsung. Jangan buat aku selalu berpikir bahwa cuma aku yang spesial di hati kamu. Padahal nyatanya hati kamu sudah di tempatkan oleh satu nama lagi selain aku, kalau emang udah gak ada rasa cinta lagi, kita bisa akhiri sekarang, dan kamu gak bakalan diganggu lagi oleh aku." "Aku gak mau kita selesai. Please ngertiin posisi aku." "Posisi mana yang harus aku ngertiin?. Kamu sekarang kayak lagi nutup-nutupin sesuatu dari aku. Terserah kamu! Aku capek, mau pulang." Katria mengambil tasnya dan berlalu dari hadapan Alvan. Alvan memandangi kepergian gadis berambut coklat itu. Dia merasa bersalah, karena belum bisa menjelaskan yang sebenarnya. **** Katria berjalan cepat, dia bahkan menabrak beberapa orang yang berjalan. Katria meminta maaf, meneruskan langkahnya hingga dia kembali menabrak seseorang. "Kat? Kamu kenapa?" "Aku gak kenapa-kenapa." Katria mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Kalau gak kenapa-kenapa. Kamu gak mungkin bakalan nangis. Coba bilang sama aku kamu kenapa?" "Aku emang gak kenapa-kenapa, Raga. Aku mau pulang, mau istirahat, aku capek banget hari ini." "Aku anterin, ya," ujar Raga. "Gak usah. Kamu anterin aja pacar kamu, dia pasti udah tungguin kamu," tolak Katria. "Aku bisa bilang sama dia. Pasti dia bisa ngertiin kok." "Gak usah, Ga. Aku gak mau bikin cewek kamu sakit hati. Walaupun cewek bilang gak kenapa-kenapa. Itu dia pasti lagi nyembunyiin sakit di hatinya. Aku pulang dulu, tenang aku baik-baik aja kok." Raga membiarkan Katria pergi, dia tau ada sesuatu yang sudah terjadi. **** Katria turun dari taksi dan masuk ke rumahnya, dia merebahkan dirinya di kasur untuk melepaskan penatnya. Ponselnya berdering, Katria membaca pesan itu dengan malas. Udah sampek rumah 'kan? Pesan dari Alvan membuatnya semakin badmood. Dia mengabaikan pesan itu, hingga sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama. Katria menolak panggilan itu, dia mematikan Ponselnya beralih mengambil laptopnya. Video Callnya tersambung, dari layar laptopnya terlihat wajah Rhea. "Rhe, gue rindu." "Kat, lo kenapa? Are you oke?" "Gue gak kenapa-kenapa, Rhe. Gue cuma rindu sama lo. Kapan lo pulang ke sini? Apa lo belum bisa lupain Raga juga? Ini udah hampir setahun lho. Gue pengen lo ada di sini. Gue pengen curhat sama lo, lo balik dong." Katria merengek. "Kuliah gue baru mulai, Kat. Gak mungkin gue langsung libur, 4 bulan lagi gue bakalan balik ke indonesia buat liburan." "Kelamaan." Katria mencebikkan bibirnya. "Dengar-dengar Raga udah punya pacar, ya?" "Iya. Cepat amat tau info soal Raga, ya. Gue aja baru tau kemarin karena dikasih tau Rayyan sama Alvian." "Sama cewek lain cepat banget jatuh cintanya dia. Kalau sama gue malah gak bisa-bisa." "Mungkin dia bukan jodoh lo." Rhea cemberut, sedangkan Katria tertawa lepas menatap wajah cemberut Rhea. Berjam-jam mereka habiskan untuk saling curhat. Setelah mandi dan shalat maghrib Katria kembali menyalakan ponselnya, 10 panggilan tidak terjawab dari Alvan dan juga ada beberapa pesan, Katria mengabaikan pesan dari Alvan dia lebih memilih membaca pesan dari Zela. Lo lagi jalan sama Alvan? Katria mengerutkan keningnya, jelas-jelas sedari tadi dia berada di rumah. Gue di rumah, kenapa Zel? Zela mengirimkan sebuah foto, nampak wajah Alvan dari samping sedangkan gadis yang sedang bersama Alvan tidak terlihat wajahnya karena melihat ke arah lain. Gue kira itu lo. Katria melemparkan ponselnya. "f**k," umpatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD