4. Jangan Salah Paham dulu

1095 Words
Hari pertama Katria resmi menjadi seorang mahasiswa, hari di mana akan dimulai banyak tugas yang menanti, bertemu dengan dosen killer, dan betapa susahnya untuk mendapatkan nilai A. Kehidupan dunia perkuliahan pasti akan sangat jauh berbeda dengan SMA dulu. Katria harus menyiapkan mentalnya untuk itu. Katria sudah berada di ruangan kelasnya. Kelas yang berada di lantai dua, difasilitaskan oleh dua AC sekaligus. Suhu ruangan yang dingin menggoda Katria untuk memejamkan mata, tetapi diurungkan kala seorang dosen sudah memasuki kelasnya. "Selamat pagi." "Pagi, Pak." Ini adalah hari pertama kalian menjadi mahasiswa, kalian pasti tau 'kan? Bahwa tidak ada kata malas-malasan di kampus? Kalian sudah dewasa, bukan lagi murid SMA yang masih bisa bermalas-malasan. Karena di sini rajinnya kamu yang akan menentukan IPK yang bakalan kamu dapatkan nantinya. Kalau kamu malas nilai C siap menghampirimu atau bisa saja D, atau yang lebih parah lagi adalah E. Itu semua tergantung kamu." "Oke, sebelumnya perkenalkan nama saya Arsen Bagaskara. Kalian bisa panggil saya Pak Arsen. Saya lulusan S1 Ilmu Hukum di Universitas Indonesia, dan melanjutkan S2 di Cambridge University. Umur saya masih 25 tahun. Apa ada yang ingin di tanyakan? Sebelum kita memulai kelas hari ini?" "Statusnya?" tanya seorang gadis yang menggunakan make-up sedikit menor. "Saya sudah bertunangan, ada lagi yang mau bertanya?" "Tidak, Pak." "Baiklah, saya yang akan bertanya sekarang." Suasana menjadi hening, Arsen mengedarkan pandangannya. "Kamu yang memakai kemeja kotak-kotak." Seluruh mata mahasiswa di kelas itu terfokus pada gadis yang duduk di samping jendela. "Saya, Pak?" "Iya, kenapa kamu melamun? Apa sedang ada masalah dengan pacar kamu?" "Tidak, Pak." "Siapa nama kamu?" "Katria Eveline." "Nama yang bagus. Saya ingin menyampaikan juga kepada kalian. Seberat apapun masalah kalian, atau sedang memiliki masalah dengan keluarga ataupun pacar. Sebisa mungkin jangan sampai menganggu proses pembelajaran, atau membuat kalian tidak fokus. Saat ke kampus, kamu bisa melupakan sejenak masalah dan mencoba fokus pada materi. Bisa dipahami 'kan?" "Paham, Pak." "Sebelumnya, hari ini kita tidak akan langsung fokus sama materi. Mungkin hanya akan membahas tentang poin-poin yang akan kita pelajari selama satu semester ke depan. Seperti yang sudah kalian lihat dijadwal, saya di sini akan mengajar mata kuliah "Pengantar ilmu hukum" Sebelumnya apa kalian sudah tau? Apa itu ilmu hukum?" tanya Arsen. "Belum, Pak." "Ilmu hukum adalah mata pelajaran yang berpusat pada praktek hukum. Ilmu Hukum mencakup bidang yang luas meliputi hak asasi manusia, hukum kepemilikan hingga hukum perdagangan. Hukum mengatur ketertiban hidup bermasyarakat dengan memberikan peraturan jelas mengenai apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Coba kalian sebutkan beberapa kasus yang melanggar hukum." "Pembunuhan." "Pemerkosaan." "Penganiayaan." "Pem-bully-an." "Perselingkuhan, Pak?" celetuk seseorang yang membuat seisi kelas tertawa. "Perselingkuhan bukan pelanggaran hukum, mungkin dia sudah bosan saja dengan kamu," ujar Arsen lalu tertawa. Materi kembali di lanjutkan, gaya bicara Arsen yang menarik dan tidak membosankan membuat jam sangat cepat berlalu. Istirahat Katria bersama Zela ke kantin, kuliah memang beda rasanya. Selain gedung yang berjauhan, juga kantin yang terpisah-pisah membuat Katria tidak suka dengan suasana seperti ini. Tidak seperti saat SMA mereka selalu bisa berkumpul saat jam istirahat meskipun berbeda kelas. "Mau makan apa lo?" tanya Zela. "Samain aja." Zela memesan makanan, Katria menunggu Zela. Tanpa Katria duga Rayyan dan Alvian menghampirinya. "Kok loh berdua ada di sini? Emang di fakultas lo berdua gak ada kantin apa?" "Ada. Cuma gue pengen di sini aja, biar kayak SMA. Kebetulan jam kelas kita sama," jawab Alvian. "Kalau Alvan sama Raga mah jauh ke sini, kalau jurusan kita kan deketan Fakultas hukum sama Fakultas Fisip." Rayyan menambahkan. "Ini, Kat." Zela memberikan piring yang berisikan mie ayam kepada Katria. "Makasih, Zel." "Lo berdua gak pesan?" tanya Zela. "Iya, kita berdua pesan makanan dulu, ya. Titip tasnya bentar." Rayyan dan Alvian berjalan ke stan makanan untuk memesan. "Gue mau tanya? Emang yang lo lihat semalam beneran Alvan? Lo gak salah lihat 'kan, Zel?" tanya Katria. "Emang siapa lagi? Foto yang gue kirim kurang jelas, Kat?" "Jelas banget, tapi dia sama siapa coba?" "Mungkin sepupunya kali. Jangan salah paham dulu, kalau bisa lo tanya dulu kebenarannya sama Alvan. Gue kasih lihat foto semalam bukan berharap supaya lo berantem sama Alvan, cuma gue gak mau ada kebohongan aja diantara kalian berdua." "Bisa jadi emang sepupunya. Gue bakalan coba tanyain sama Alvan nanti, makasih banyak Zela." ***** Jam satu siang kelas Katria sudah usai, dia berjalan malas ke parkiran. Cuaca hari ini sangat panas, sinar matahari terasa menyengat kulitnya, Katria buru-buru masuk kedalam mobilnya tidak tahan dengan cuaca yang panas seperti ini. Di dalam mobil Katria mengecek ponselnya. Tidak ada satupun pesan yang dikirimkan oleh Alvan padahal lelaki itu sedang online sekarang. Katria melemparkan ponselnya ke dashboard, dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan kampus. Katria memberhentikan mobilnya di lampu merah, sambil menunggu lampu menjadi warna hijau. Katria melihat ke samping dan menemukan mobil Alvan di sebelah mobilnya. Katria mencoba menerawang ke dalam mobil Alvan. Lelaki itu tidak sendiri, melainkan bersama dengan seorang perempuan. Apa itu perempuan yang sama? Yang bersama dengan Alvan tadi malam? Suara klakson dari belakang menyadarkan Katria bahwa lampu sudah berwarna hijau. Katria segera melajukan mobilnya mengikuti mobil Alvan dari belakang. Sampai di persimpangan tiga Katria kehilangan jejak, dia tidak tau ke mana arah mobil Alvan berbelok. Katria kesal dia mengambil ponselnya. Pantesan gak ingat nge-chat. Rupanya lagi sama cewek lain. Pesan itu terkirim, Katria kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Dia sudah sangat lelah, lelah dengan jam kuliah dan ditambah lagi rumitnya kisah percintaannya. Katria melepaskan penat dengan berbaring di ranjang empuknya. Ponselnya berdering, Katria melirik nama penelpon. Seperti dugaannya itu dari Alvan. "Halo, kamu udah di rumah 'kan?" "Udah, kenapa tanya-tanya?" ketus Katria. "Aku pacar kamu wajar lah kalau aku tanya, Kat." "Oh masih ingat ya kalau kita pacaran." Katria terkekeh "Kirain udah lupa, soalnya sibuk terus." "Kamu kenapa, Kat? Kok jadi aneh?" "Jadi aneh? Oh, iya aku baru ingat aku jadi gini karena sekarang pacar aku gak jelas, dia sering sibuk, sibuk sama cewek lain tepatnya." "Kamu kenapa lagi sih?" "Kemarin malam Zela lihat kamu sama cewek lain, itu siapa kalau aku boleh tau?" "Itu teman satu kampus," jawab Alvan. "Hebat, ya. Baru kenal beberapa hari udah langsung ajak jalan aja. Gimana kalau beberapa bulan lagi ya, aku jadi penasaran." "Aku gak tau kamu lagi bahas soal apa, Kat. Yang jelas aku gak selingkuh ataupun dekat sama cewek lain. Aku matiin dulu ya soalnya mau ngerjain tugas." "Oke deh. Palingan bentar lagi nomor kamu juga bakalan sibuk. Sibuk telponan sama cewek lain yang pastinya bukan aku." Katria memutuskan sambungan telepon, hatinya terasa nyeri, dia meredam tangisnya dengan menyembunyikan wajahnya di bantal. Sunyi malam menemaninya menangis, dia tertidur setelah lelah menangisi seseorang yang sekarang mungkin sedang sibuk menemani orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD