Seandainya aku tidak bertemu dengannya. Mungkin kisah kita tidak akan serumit sekarang.
****
Pagi ini Katria berdiri di halaman depannya, menunggu kedatangan Alvan ke rumahnya. Tadi Alvan sudah menelepon dan mengajak Katria untuk berangkat bersama.
Mobil Alvan sudah sampai, Katria segera masuk dan duduk di kursi di samping Alvan.
Selama perjalanan, keduanya memilih hening, menikmati lagu yang terputar. Lagu yang berjudul "Sebuah Rasa dari Agnez Monica", membuat pikiran Katria berpikir tentang hubungannya. Apakah kisahnya akan sama seperti lagu ini? Berkisah tentang seorang lelaki yang bermain di belakang.
"Kat, kita udah sampai. Kok malah bengong?" tanya Alvan.
Katria mengedarkan pandangannya ke luar jendela. Dan benar saja, mereka sudah sampai ke kampus sekarang. Kenapa terasa begitu cepat?
Katria turun setelah Alvan membukakan pintu untuknya.
"Nanti pulang aku jemput, ya." Alvan menyelipkan anak rambut Katria ke belakang telinganya.
"Iya."
Alvan kembali memasuki mobilnya, menuju ke Fakultas Ekonomi.
Katria berjalan di koridor, dia juga membalas senyuman beberapa senior. Di ujung koridor terlihat lima orang lelaki yang sedang sibuk menggoda Junior yang cantik.
Katria sebenarnya malas jika harus melewati mereka, namun bagaimana lagi. Tangga yang akan membawanya menuju lantai dua berada tepat di ujung koridor. Jadi, dia memang harus melewati para senior yang di cap playboy itu.
Katria merasakan jantungnya berdegub, ini bukan soal jatuh cinta. Tapi jujur dia agak risih dengan pandangan mereka yang sekarang menatapnya.
"Wih ini yang beneran cantik. Namanya siapa, Neng?" Goda satu orang di antara kumpulan itu.
"Kalau yang ini jangan diganggu, dia punya gue soalnya." Suara serak itu membuat Katria mendongakkan kepalanya, dan seperti dugaannya Liam berada di antara kumpulan itu.
"Cewek lo?"
"Bukan," jawab Liam.
"Terus siapa lo?"
"Calon masa depan gue," ujar Liam santai.
"Gila-gila. Pintar juga lo nyari cewek Li."
"Yoi."
Katria menatap Liam yang sekarang juga sedang menatapnya. Dia membuang muka, jujur Liam memang tipikal orang yang tidak tau malu.
Baru satu langkah Katria berjalan, Liam langsung mengenggam tangannya.
"Buru-buru amat."
"Gue ada kelas, Kak."
"Gue anterin sampe depan kelas lo,ya."
Katria tidak mau tapi dia juga tidak menolak, saat mereka berjalan bersama teman-teman Liam nampak bersiul menggoda.
"Nah udah sampai, sebagai ucapan terima kasih lo karena udah dianterin ke kelas. Gimana kalau nanti kita makan bareng?" usul Liam.
"Sorry, Kak. Tapi gue sama sekali gak minta buat dianterin, gue bisa ke kelas sendiri. Lagian gue nanti mau jalan sama pacar gue, jadi gak ada waktu."
"Oke deh. Gue tunggu besok, kita makan bareng."
Belum sempat Katria menjawab, Liam sudah terlebih dahulu berlari sambil melambaikan tangannya, tak lupa senyum jahil terukir di wajah lelaki itu yang memang tergolong tampan.
"Dasar cowok gila!"
****
Kelas sudah usai. Katria sekarang berdiri di depan gedung kampus karena sebentar lagi Alvan akan datang menjemputnya.
"Gue duluan, ya," ujar Zela.
"Oke Zel, hati-hati."
Selang beberapa saat setelah kepergian Zela, Alvan pun datang. Sebelum naik ke mobil Alvan, dia melihat Liam yang juga berada di parkiran bersama teman-temannya, lelaki itu tersenyum namun Katria mengabaikannya.
"Kita makan dulu ya, Kat," ajak Alvan.
"Iya."
Kemarin malam Katria memang menangis, tapi dia juga sudah memaafkan Alvan, mungkin dia sudah terlanjur berpikiran buruk pada hal yang tidak mungkin Alvan lakukan. Katria yakin bahwa Alvan tidak akan menduakannya.
Ponsel di saku celana nya bergetar, satu pesan dari nomor yang sudah Katria simpan.
Kak Liam
Besok kita jalan ya, sekalian gue ajak ketemu Michelle. Gue harap lo ada waktu, Kat.
Sebenarnya Katria ingin menolak, namun dia juga sangat ingin bertemu dengan Michelle. Sudah tiga tahun mereka tidak pernah bertatap muka.
Oke.
Balasan itu sudah keputusan Katria bahwa dia akan menemani Liam besok dan dia juga akan bertemu dengan Michelle.
******
Mobil Alvan berhenti di salah satu restoran yang terbilang mahal. Katria turun dan berjalan beriringan dengan Alvan.
"Mau makan apa?"
"Samain aja"
"Chicken steak Black pepper sama Jus Apel gimana?" usul Alvan.
"Jus Apel? Kamu lupa, Van. Aku alergi jus Apel."
"Oh iya maaf, mungkin ini karena udah lama kita gak makan bareng."
Katria hanya mengangguk, lama tidak makan bareng atau memang Alvan sudah lupa dengan alerginya? Atau bisa jadi itu minuman favorit seseorang? Ah, Katria segera mengenyahkan pikiran buruk itu.
Setelah menyerahkan bon pesanan kepada salah satu pelayan, Alvan kembali duduk.
"Gimana teman baru kamu, asik gak?" tanya Alvan.
"Lumayan asik sih, tapi gak seasik murid SMA Global."
"Gak asik gimana? Emang gak ada yang kamu kenal?"
"Aku cuma kenal Zela sama Rafka. Cuma mereka yang asik yang lainnya membosankan, kebanyakan juga terlalu ambisius sama nilai. Itu sih yang bisa aku amati selama aku kuliah."
"Oh mungkin karena baru kenal, nanti juga jadi asik kok."
"Kelas kamu gimana? Asik gak orangnya."
"Lumayan asik lah."
"Cewek-ceweknya cantik gak?"
"Cantik sih! Tapi masih cantikkan kamu. Kenapa nanya masalah cantik?"
"Gak apa-apa cuma pengen tau aja."
"Oh iya minggu depan BEM bukan pendaftaran lho. Kamu ikut gabung gak?" tanya Alvan
"Gak ah, Van. Aku masuk UKM-Sanggar seni aja. Aku gak cocok jadi anak BEM, kalau kamu emang pantes karena mantan ketua OSIS pasti bisa keterima."
"Oh iya ketua modern dance emang cocok di sanggar seni."
"Nah, itu kamu tau."
"Iya, Kat. Aku ke toilet bentar, ya."
"Iya."
Alvan berjalan menuju toilet, Katria melihat ponsel Alvan yang terletak di atas meja. Rasa penasaran mencuat dari dalam dirinya, Katria mengambil ponsel Alvan dan membuka salah satu aplikasi chattingan.
Katria tau dia sudah melanggar privasi seseorang, tetapi untuk menghilangkan pikiran buruknya selama ini dia memang harus mencari tau.
Awalnya tidak ada yang mencurigakan, karena semua hanya chat Alvan bersama temannya. Namun saat melihat ada satu chat yang di arsipkan, Katria penasaran dan membuka arsip itu. Disana ada satu pesan dengan nama "Queen". Katria penasaran dia pun membaca isi pesan itu.
Aku hari ini gak kuliah ya, soalnya lagi sakit. Jadi kamu gak usah jemput aku.
Iya, GWS ya.
Katria meletakkan kembali ponsel Alvan saat melihat Alvan sudah kembali dari toilet.
Pikirannya terus berkelana. Pesan itu dikirimkan tadi pagi, apa ini alasan Alvan mengajaknya berangkat bersama karena cewek itu sedang tidak ke kampus hari ini? Apa Katria hanya pelarian saja? Apa sekarang Alvan punya hubungan dengan kontak yang bernama Queen itu? Apa Alvan tidak menyayanginya lagi? Apa Alvan selingkuh? Apa Alvan berkhianat? Semua pikiran itu membuat setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
"Kamu kenapa Sayang? Kok nangis?" tanya Alvan.
"Aku cuma kelilipan. Soalnya bau lada hitamnya bikin mata aku agak perih." Katria sengaja berbohong.
"Oh, kita makan aja sekarang,ya."
Katria sama sekali tidak menikmati makanannya, dia masih memikirkan hal-hal yang mungkin akan terjadi ke depannya.
Setelah makan, Alvan mengantarnya pulang ke rumah. Katria tidak meminta Alvan untuk singgah, karena dia memang membutuhkan waktu untuk istirahat sekarang.
Setelah mandi, Katria merebahkan tubuhnya. Dia ingin melupakan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya, tetapi tidak bisa. Pikiran itu terus bercabang dan membuat kepala Katria hampir pecah.
Satu kalimat yang kembali tergiang.
Apa benar Alvan selingkuh?
Dering ponsel membuat Katria bangun dan mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.
Satu pesan dari nomor yang tidak ia ketahui.
+628536472828
Jangan tanya gue siapa, kalau lo emang mau tau apa yang sebenarnya Alvan lakuin. Coba besok lo cek loker ada satu petunjuk di sana.
Good night, Princess.
Katria ingin mengabaikan pesan itu, tetapi jika itu semua terjadi bagaimana? Jika Alvan benar selingkuh gimana?
Yang jelas Katria harus mengecek lokernya besok, meskipun dia curiga dari mana si pengirim pesan ini mendapatkan kunci cadangan lokernya.