Akhirnya, Bertemu Denganmu

1546 Words
Udara pagi Milan yang hangat, menyelinap lembut di antara pepohonan pinus yang berjajar di sepanjang gerbang sekolah St. Louis. Cahaya matahari menembus dedaunan, memantul di permukaan mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di sisi kanan jalan. Sebuah sedan hitam berhenti perlahan di depan lobi utama. Seorang wanita turun dengan anggun. Kacamata hitam menutupi separuh wajahnya. Rok panjang berwarna krem jatuh lembut hingga mata kaki, langkahnya ringan tapi teratur, membawa aroma elegan yang tak berlebihan. Beberapa orang yang melihat kedatangannya langsung menoleh. Bisik-bisik kecil pun mulai terdengar di sepanjang lorong. Nama Vallen Losa rupanya telah lebih dulu beredar sebelum kedatangannya. Di ujung lorong utama, Kepala Sekolah Miguel menyambut dengan senyum ramah. “Signorina Losa, kehormatan besar bagi kami. Saya hampir tidak percaya ketika menerima email dari Anda.” Vallen hanya membalas dengan senyum tipis, melepas kacamata dan menyapanya dengan sopan. “Justru saya berterima kasih karena diizinkan mengajar balet di tempat seindah ini. Rasanya … saya membuat pilihan yang tepat.” Kepala Sekolah mengangguk bersemangat, seolah tak ingin menunjukkan betapa bangganya ia memiliki seseorang yang punya nama besar di institusinya. “Kami mendengar, Anda pernah bekerja sama dengan Akademi Nasional di Chicago. Anak-anak kami akan sangat beruntung.” Vallen menatap ke arah jendela besar di ujung lorong. Cahaya pagi menembus kaca, membentuk siluet lembut di lantai kayu. “Saya harap begitu,” ujarnya pelan. “Tapi saya tidak datang untuk membuat nama ini mendapat banyak perhatian. Saya, hanya ingin memastikan, jika tubuh ini masih bisa berdansa tanpa menyimpan amarah.” Kepala sekolah terkekeh kecil, mengira kalimat itu hanya kiasan. Tapi senyum Vallen tidak sampai ke matanya. Hanya senyum formalitas yang tipis dan nyaris tidak bernyawa. “Anda ingin melihat-lihat ruang balet, Signora?” tawar Kepala Sekolah. Vallen menoleh perlahan, menatap Miguel dengan sopan. “Jika tidak mengganggu waktu kepala sekolah, saya berterima kasih. Sejak di jalan tadi, saya penasaran dengan ruang balet St. Louis. Kata orang, tempatnya sangat besar.” “Itu hanya gosip, Signora. Jika dibanding tempat Anda di Amerika, tempat kami tidak begitu besar,” jawab Miguel. Keduanya pun melangkah, menyusuri lorong panjang yang dipenuhi cahaya matahari. Miguel berbicara penuh semangat, menjelaskan fasilitas dengan detail. Ruang musik, aula pertunjukan kecil, ruang teori, hingga studio drama, seolah menunjukkan kebanggaan yang sudah lama ia simpan. “Tahun ini kami mencoba memperluas program seni,” ujar wanita berusia empat puluh tahunan itu. “Anak-anak di sini punya potensi besar. Mereka hanya butuh bimbingan yang tepat.” Vallen hanya mengangguk. Sekolah St.Louis memang cukup terkenal di Italia. Selain bidang akademiknya yang menjadi unggulan, bidang seninya juga tidak kalah. Tidak heran, sekolah ini diminati para kalangan elit yang ingin membangun kualitas putra-putri mereka. “Ini ruang latihan kami, Signorina Losa,” ucapnya sambil memutar knop dan mendorong pintu. Ruangan luas dengan dinding kaca menyambut mereka. “Masih kosong. Rencananya akan dipakai setelah komite membuka program balet secara resmi di acara seminar bulan depan.” Vallen berdiri di ambang pintu. Untuk sesaat, sorot matanya berubah. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, seperti kilau memori yang ditutup rapat. Ia melangkah masuk perlahan, ujung sepatunya menyentuh lantai kayu dengan bunyi halus. Tangannya menyusuri permukaan kaca seakan mengenali teksturnya. “Bolehkah saya memakainya, Kepala Sekolah?” “Tentu. Gunakan sesuka Anda, Signora,” jawab Miguel. “Ruangan ini sudah kedap suara, jadi Anda tidak perlu cemas.” “Terima kasih, Kepala Sekolah.” Pintu di belakangnya ditutup dengan pelan, keheningan perlahan menyeruak mengisi segala penjuru. Vallen melepaskan blazer dan meletakkannya di sudut ruangan. Rambutnya terurai, jatuh lembut di bahunya. Ia duduk di tengah ruangan, menatap ponselnya lama. Layar itu menyala, redup, lalu menyala lagi, entah apa yang ditunggu. Waktu berlalu perlahan. Lorong di luar mulai sepi, jam pulang sekolah telah lewat. Saat dirasa pas, musik klasik pun mengalir lembut dari ponselnya, memenuhi ruangan dengan melodi indah. Vallen berdiri. Lalu mulai mengangkat kedua tangan setinggi bahu, ia bergerak perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak menggebu. Gerakannya mengalir pelan, seirama musik. Hingga tiba-tiba, terdengar suara kecil dari arah pintu. “You’re so beautiful,” lirih seorang anak perempuan, disertai tepuk tangan pelan. Vallen berhenti. Bahunya sedikit naik sebelum ia menoleh dengan senyum kecil yang hangat. “Thank you.” Pintu studio terbuka lebih lebar lagi. Seorang guru muda tampak terkejut, langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang ada di dalam ruangan. “A–Ah! Nona Losa! Maaf, saya tidak tahu Anda sedang menggunakan studio.” Vallen hanya tersenyum ramah, menggeleng pelan, sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal. Anak kecil tadi menyelinap maju, matanya berbinar. “Apa Anda ballerina, Miss?” Vallen berjongkok agar sejajar dengannya. Suara lembutnya terdengar sedikit serak. “Wah, tebakanmu tepat sekali. Siapa namamu, Nak?” “Elliah, Miss,” jawabnya riang. “Elliah Hazel Harper.” Garis senyum anak itu begitu manis, memamerkan dua gigi kelinci yang putih. Wajahnya bersih, rambutnya rapi, tipikal anak yang dibesarkan dengan disiplin penuh perhatian. Senyum Vallen terpampang lebih lebar, mengusap lembut rambutnya. “Elliah … nama yang cantik. Siapa yang memberimu nama ini? Mom or Dad?” “Hmm … aku tidak tahu,” gumam Elliah polos. “Aku tidak pernah menanyakannya. Mungkin ibuku.” Vallen masih tersenyum, tapi ada sesuatu di sudut matanya yang bergerak samar di dalamnya. Seolah rasa bangga yang baru saja ditujukan untuknya. “Apa sekolah ini akan punya kelas tari?” tanya Elliah, masih penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana menurutmu?” Vallen membalas dengan lembut. “Apa Elliah tertarik?” Anak itu mengangguk cepat, semangat memenuhi wajahnya. “Ya, tentu! Aku sangat suka menari!” “Benar, kan?” Vallen tersenyum lembut. “Aku juga suka.” “Bisakah Anda mengajariku sekarang?” pinta Elliah, matanya berbinar-binar. “Aku ingin menunjukkannya pada ayah dan ibu nanti!” Vallen menghela napas pelan, bukan keberatan, hanya butuh sekejap untuk membaca situasinya. Ia melirik pada guru muda yang berdiri di sebelah Elliah, tatapannya halus tapi jelas menanyakan keberadaan seorang murid di luar jam belajar. Guru itu menangkap arah pandang Vallen dan langsung memberi penjelasan cepat, “Ah, orang tuanya belum datang menjemput,” jelasnya cepat. “Saya sudah menghubungi mereka. Katanya … sekitar setengah jam lagi.” Vallen mengangguk perlahan. Ia kembali menatap Elliah, senyumnya masih selembut sebelumnya, senyum yang berbeda, yang menyimpan kasih sayang dan kerinduan. “Hari ini aku belum bisa mengajarimu,” ucapnya tenang. Sekejap, semangat di mata Elliah meredup. “Tapi ….” Vallen menyentuh pundak mungil itu, “bagaimana kalau aku menari untukmu? Hanya satu tarian. Kita tunggu orang tuamu sambil melihat sesuatu yang indah.” Cahaya di mata Elliah seketika kembali menyala. Ia mengangguk dengan penuh semangat. Sementara guru muda di samping Elliah juga terlihat penasaran. Vallen kembali berdiri di tengah ruangan. Namun kali ini, ia tak berdiri dengan tenang seperti sebelumnya. Jari-jarinya meremas ujung rok sebentar. Napasnya ditarik pelan, seperti penari yang bersiap membuka sisi dirinya yang jauh lebih liar dan jujur. Musik berikutnya mengalun. Bukan piano lembut. Melainkan komposisi klasik yang lebih cepat, ritmenya terukur tapi penuh ledakan halus. Musik yang tidak cocok dengan penari pemula, tetapi sangat cocok untuk seseorang yang ingin membuktikan sesuatu. Vallen bergerak. Tidak dengan langkah ringan, melainkan tegas, terarah, menuntut perhatian. Ia melompat kecil ke depan, melakukan jeté yang rapat dan bersih, lalu mendarat tanpa suara. Rok cream-nya berkibar, memantulkan cahaya sore yang jatuh dari jendela, membuatnya tampak seperti titik pusat panggung meski ruangan itu kosong. Putarannya meningkat, bukan pirouette lembut, tetapi serangkaian chaînés cepat, berpindah sisi dengan presisi memukau. Rambutnya terurai mengikuti gerakan, menciptakan bayangan liar di dinding kaca. Lengan Vallen terangkat tinggi lalu turun dalam gerakan tajam, seolah memotong udara. Ada amarah yang ditahan. Ada keluhan lama yang berubah menjadi kekuatan. Ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan, ia lemparkan, ia hantamkan, tanpa menyentuh siapapun. Wajahnya tidak lagi lembut. Sorot matanya tajam. Menembus sosok yang berdiri di ambang pintu. Damien Harper. Pria itu berdiri di ambang pintu. Setelan kemeja putih dan jas hitamnya tampak kontras dengan tatapan tercengangnya. Dadanya sedikit membusung, seperti menahan napas. Sementara tatapannya tak bergeming dari sosok perempuan yang menari di tengah ruangan. Dan Vallen tahu itu. Ia bukan tidak menyadari jika dipelototi. Tentu Vallen melihatnya dengan jelas. Dari pantulan kaca, dari tiap putaran yang sengaja ia buat sedikit lebih panjang, ia bisa melihat dengan jelas seberapa lekat pria itu menatapnya. “Akhirnya kau datang,” batin Vallen puas. Ia terus menari, langkahnya teratur, gerakannya tajam, sementara matanya terkunci pada Damien. “Lihat aku. Lihat aku baik-baik.” Ia berputar sekali, menghentak lantai ringan, lalu membelakangi pintu. Seolah sengaja mempertontonkan pundaknya yang tegar. “Kau bersumpah tak ingin melihatku lagi … tapi sekarang? Matamu bahkan tidak bisa lepas dariku, Damien Harper.” Musik mati dalam sekejap. Gerakan Vallen ikut berhenti, membeku dalam pose terakhir yang kuat dan penuh tantangan. Sunyi menggantung sesaat sebelum Elliah dan guru muda itu memberi tepuk tangan meriah, memecah udara yang menegang. Vallen menoleh perlahan, bibirnya terangkat tipis. Namun percayalah, itu bukan senyum puas atas tepuk tangan mereka, melainkan senyum licik menatap sosok pria di ambang pintu. Mantan suami yang diketahui telah menikah lagi setelah setahun Hera Rhodes dinyatakan meninggal dengan segala fitnah. “Dulu semua mencemoohku sebagai w************n,” batinnya, seperti menyeret kenangan pahit ke permukaan. “Sekarang, aku tidak peduli dijuluki seperti itu. Aku akan menjadi penggoda diantara kalian. Antagonis yang menggoda suami orang. Aku akan menjadi racun yang manis, membalas semuanya dan merebut milikku!” “Tunggu, dan lihat saja!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD