54

1086 Words

Aku kembali ke meja dimana calon suami dan Mertuaku sedang menunggu diri ini untuk melanjutkan makan malam. Baru saja akan duduk tapi ponselku mulai berdiri, dia bergetar dengan intens dan memaksa diriku untuk mengangkatnya. "Siapa?" Tuan reinald menatap diri ini, sementara aku hanya tersenyum tipis dan memberikan isyarat bahwa si penelepon tidaklah lebih penting dari acara dan orang-orang yang sedang kuhadapi sekarang. "Bukan siapa siapa, akan kumatikan." "Oh." Pria itu mengangguk dan memberi ruang agar aku bisa kembali ke kursiku. "Kenapa lama sekali ke toilet? Apakah kau butuh banyak waktu untuk mencairkan ketegangan hatimu?" tanya Nyonya Siska sambil tertawa. "Uhm, jujur saja situasi yang saya hadapi sekarang adalah keadaan yang tidak pernah saya bayangkan, saya harus menyesua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD