10

880 Words
Melihatku menangis sambil memeluk lututku sendiri lelaki itu hanya menatap dengan senyum sinis dan berkacak pinggang. "Aku peringatkan padamu, meski kau istriku dan ibu anak-anakku tapi jangan bersikap kurang ajar, aku adalah suamimu dan kepala keluarga ini." "Lantas pikirkanlah! jika aku lebih dekat dengan iparku dan selalu mengandalkan mereka tanpa menjaga hatimu, Apa yang akan kau lakukan?!" "Biasa saja," jawabnya sambil mengendikkan bahu. Aku tak sanggup lagi menahan air mata, rasanya pupus sudah harapan untuk mempertahankan keluarga begitu melihat tindakan dan perkataannya Mas Arman yang masuk akal. Kupikir dia telah mengindahkan peringatanku, dia berjanji akan menjaga sikapnya tapi ternyata lelaki itu bersikuku ingin tetap bersama dengan aruni, dia tetap ingin memberinya nafkah, perhatian dan waktu. Jika sudah begini, sama saja dengan suamiku menanggung dua keluarga, sama saja seakan dia punya istri dua. Karena sebagian besar penghasilan dan waktu untuk aruni, maka secara tidak langsung kami terabaikan. Aku dengan kedua anakku seakan tak dianggap lagi oleh Mas Arman. "Jika aku tak lagi lebih penting di matamu, maka kita cerai saja!" "Jangan mengancamku!" "Aku sudah berusaha untuk menjaga batasanmu dan melindungi hubungan kita, tapi percuma jika usaha dan komitmen itu hanya aku yang lakukan!" "Kau terlalu cemburuan pada hal-hal yang seharusnya tidak kau curigai!" "Tetap aku yang kau salahkan, Mas." "Iya, karena kau tidak menjaga mulutmu." "Hanya aku yang harus menjaga tindakan dan mulutku senangkan kau tidak menjaga perbuatanmu?" "Memangnya apa yang kulakukan!" "Sudahlah, jika menurutmu aruni lebih penting daripada Istri dan anakmu maka silakan saja! Pergi dan nikahi wanita itu!" balasku dengan sengit. Aku berdiri untuk meninggalkannya tapi dia malah menarik dan hendak memukulku. "Kau!" Pria itu nyaris menamparku tapi dia mencegah dirinya sendiri, sehingga tangan itu hanya mengambang di udara dan tidak sampai ke wajahku. "Ayo pukul, hanya pukulan yang bisa kau berikan untuk membuktikan kekuatanmu! Ayo pukul saja!" "Kau yaaa...!" Dia mencengkeram wajahku menekan rahangku hingga aku kesakitan, aku menjerit sambil memukul-mukul tangannya, lalu dia melepaskanku dengan kasar. Tanpa bicara apa-apa dia langsung pergi dari kamar kami. "Sudah bicara sama kamu!" Brak! Pintu berdentam dengan kencang, jantungku nyaris tercerabut dari rongga d**a karena kaget dengan teriakan dan sikapnya. Tak lama kemudian anak-anakku masuk ke kamar, dengan wajah ketakutan mereka mendekat padaku mendapati ini tergugu sedih di lantai, anak-anak langsung memeluk diri ini. "Bunda.... Kenapa Bunda...." "Ga apa apa Nak." "Kenapa ayah dan bunda terus bertengkar?" "Tidak apa, hanya bicara saja," balasku sambil memeluk mereka. Sedih hatiku, karena anak-anak harus menyaksikan pertengkaran kami. Aku khawatir ini akan mengganggu mental dan perasaan mereka tapi ini benar-benar tidak bisa dihindari. "Bunda janji, bunda tidak akan bertengkar lagi," ujarku sambil membingkai wajah anakku dengan kedua tangan. "Apa bunda janji?" "Iya." Kemudian kuciumi kening mereka sambil memaksakan senyum, meskipun sakit dan pedih hati ini tapi aku berusaha tetap tegar dan tidak membagi beban itu ke anak-anakku. ** Keesokan harinya. Secara mengejutkan ibu mertua datang berkunjung bersama aruni. Mereka berdiri di ambang pintu dan membuatku yang sedang menyapu cukup terkejut dengan kehadiran mereka. "Assalamualaikum Hani," sapa ibu. Beliau menyalamiku, kemudian mencium pipi kanan dan kiriku. "Apa kabar Nak." "Baik, Bu." Wanita yang berdiri di belakangnya itu hanya tersenyum tipis padaku Dia terlihat ragu untuk menyalami diri ini sementara aku pun tidak mau beramah-tamah dengan sumber petaka dalam keluargaku. Aku malas menyapa apalagi pura-pura baik pada wanita itu, aku muak, benci dan kesal sekali. Setelah kuambilkan dua cangkir teh dan kuletakkan di atas meja, wanita paruh baya berkerudung biru itu langsung bicara padaku. "Keluhanmu telah sampai pada ibu. Arman juga mengadu tentang apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian karena Aruni. Dari sini, Ibu ingin menjernihkan keadaan dan meminta aruni agar menemuimu dan minta maaf." Aku terdiam mendengar percakapan ibu, sebenarnya jengkel dalam hatiku untuk apa juga ibu mertua meminta aruni menemuiku, itu tidak akan memperbaiki keadaan kami. "Aku minta maaf karena kebaikan Arman padaku telah membuatku terbiasa mengandalkannya. Akhirnya, aku lebih banyak minta tolong dengannya dan itu membuatmu kesal," ujar aruni. Kosakata yang dia pilih di hadapan ibu mertua benar-benar penuh siasat picik, ibaratnya dia ingin menyamakan permintaan tolong dengan sebuah dosa, dia mengandalkan suamiku dengan dalih terbiasa, lalu aku seakan tidak mengizinkan suamiku untuk menolong w***********g itu. Dia benar-benar ular yang berbisa. "Aku selalu mendukung suamiku untuk menjaga keluarganya, tapi satu kali, kami pun butuh waktu untuk bersama. Sepanjang waktu kau terus menelepon dan memintanya datang, lalu dia habiskan banyak waktu untuk kau dan anakmu, sementara aku dan anakku terabaikan." "Aku bisa apa Ibu... Suamiku sudah meninggal dunia dan dan tidak meninggalkan apapun selain ipar yang baik hati, aku benar-benar malu atas perkataan Hanifah, dia menyadarkan kesalahan dan membuatku merasa sangat malu," ujar wanita itu sambil menangis, dia mengusap air mata sambil melirik padaku, kelopak matanya yang memicing membuatku sadar bahwa ia sedang berpura-pura dan mencari simpati mertua. Dia memang menangis tapi sebenarnya dia sedang tertawa mengejekku. "Jangan bilang begitu, Mba... Adik-adikmu sangat bersimpati dan sayang padamu. Ibu yakin, Hani juga peduli padamu." "Kebaikan Arman telah membuatnya cemburu ibu, aku bisa apa! Hanya dia ipar baik hati dan paling mudah kumintai pertolongan. Jika Ibu memutuskan agar aku tidak bicara pada Arman lagi, lalu akan ke mana kubawa kesusahan dan kesulitanku ibu!?!" Ingin sekali kujawab kalau itu adalah urusannya bukan urusan kami, tapi aku masih menghargai ibu mertua. w***********g itu bermain peran di hadapan kami dan pura-pura menangis padahal sebenarnya dia hendak mengalahkanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD