Aku terguncang, hatiku mencelos menyusut seakan disiram minyak panas oleh perkataan Mas Arman. Dia bilang kalau belakangan ini kelancanganku meningkat sementara aku tidak pernah merasa melunjak. Bagiku dia suamiku, dan sebagai istri aku berkewajiban untuk melindungi keluarga serta menjaga batasan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Aku tidak bermaksud untuk lancang Mas, aku hanya mengingatkanmu agar kau menjaga jarak!"
"Emangnya aku terlalu dekat? Apakah aku pernah memeluk dan mencumbunya, ataukah kau mulai berpikir kalau aku dan aruni berselingkuh?"
"Aku tidak bilang begitu ya... Aku hanya...." dia segera meletakkan jari telunjuknya di bibirku sambil menggelengkan kepalanya, tawanya yang penuh misteri serta kelicikan itu membuatku tidak habis pikir.
"Tatapan dan caramu bicara seakan kau curiga. Aku berusaha memaklumi gelagatmu, diam dan mengalah pada istriku, tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Jangan keterlaluan ya," ujar suamiku dengan senyum sinis.
Sesudah mendorong kepalaku tadi, dia berbaring lagi, lalu memunggungi diri ini. Aku yang masih terpana dengan perlakuannya, terdiam, kehilangan kata-kata dan hanya bisa menahan gejolak hatiku lalu tak sanggup kubendung air mata. Aku beranjak meninggalkannya sendirian, dalam kekecewaan hatiku yang menumpuk-numpuk.
*
"Bu, Tolong carikan solusi terbaik untukku," ucapku yang kemudian berkunjung kepada ibu mertua. Tak tahan bahwa ini akan jadi konflik dalam waktu dekat, aku segera mengunjungi Mertuaku dan membicarakan Apa yang terjadi.
"Ada apa?"
"Suamiku sudah mulai membohongiku, dia sudah tidak punya waktu untuk kami karena lebih banyak mengantarkan aruni, waktunya habis untuk wanita itu dan anaknya sementara kami terabaikan."
"Apa Itu cuma perasaanmu saja ataukah ini seperti yang kau ceritakan?"
"Aku tak tahu mana orang yang akan Ibu percayai, tapi ... aku berkata jujur bahwa aku tidak nyaman dengan hubungan suamiku dan iparnya itu."
"Aku akan bicara."
"Bila Ibu hanya menegurnya mungkin mereka akan mengabaikannya seperti angin lalu, tapi bila ibu menegaskan batasannya, mungkin mereka akan berpikir."
"Aku mengerti," balas mertuaku tegas, "biar aku yang bicara."
Sulit sebenarnya hendak menegur wanita tidak tahu malu seperti aruni, bila aku bicara dengan lantang di hadapan mertua kalau dia sudah berlebihan, maka wanita itu akan menangis dan mencari cara untuk membela diri. Dia rela merendahkan dirinya demi mendapatkan pembelaan dan berpura-pura jadi korban. Ujungnya aku yang akan disalahkan keluarga karena terlalu egois, cemburuan dan penuh batasan.
Dan lagi, suamiku yang gila itu, entah kenapa akhir-akhir ini dia tidak mau diperingatkan. Dalih untuk bersikap baik pada saudara sendiri telah membuatnya bertindak terlalu jauh. Haruskah kuberi ia pelajaran dengan cara akrab juga pada laki-laki lain agar dia memahami perasaanku? Tapi dengan siapa akan kubuat hatinya terbakar cemburu?
*
Sepulangnya dari rumah ibu mertua, aku dan anak-anak sempat jalan-jalan sebentar untuk beli es krim dan kudapan. Lalu kami kembali ke rumah dan niatnya ingin istirahat dan nonton saja.
Usai mandi dan menyiapkan makanan aku dan anak-anakku menyetel film keluarga lalu menonton dengan santai. Suamiku... Entah dia kemana. Akhir-akhir ini ia jarang sekali memberitahuku ke mana tujuan dan kegiatannya.
Sebenarnya kalau bukan masalah pekerjaan pasti dia bersama aruni dan Gilang, dengan siapa lagi, kalau bukan dengan mereka!
*
Brak.
Suara tutupan pintu terdengar kencang, aku terkesiap dan segera bangkit dari posisiku rebahan.
"Mas, kamu dari mana?"
"Apa mulai sekarang aku harus melapor padamu aku akan ke mana dan dari mana?"
"Bukankah selalu begitu?"
"Heran ya, kaki baru masuk sebelah tapi kau sudah menyambutku dengan pertengkaran, bagaimana aku bisa betah."
"Lalu bagaimana aku menenangkan hati dan pikiranku jika aku tak tahu suamiku ke mana, pulang ke rumah hanya mampir seakan tempat ini hanya jembatan!"
"Oh, ya, Jadi kau merasa aku tidak pernah diam di rumah?"
"Kau darimana, Mas?"
"Haruskah aku membuktikan semua ucapanmu dengan tidak kembali lagi ke tempat ini, selain untuk mengganti pakaian dan mandi?"
Ucapan suamiku membuatku tercengang, dia tidak membalas pertanyaanku tapi dia malah mengatakan hal yang lebih menyakitkan dari itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Beritahu aku keinginanmu maka akan kubuktikan sekarang juga. Jika kau tak suka aku pulang dan rumah ini tak lagi jadi tempat yang tentram, maka aku akan mengontrak rumah untukku sendiri!"
"Jangan hanya melihat kesalahan dan seolah-olah kau membanting semua dosa ke arahku, ini semua terjadi gara gara aruni! Aku menegurmu dan sejak itu kau berubah kasar!"
"Itu karena teguranmu sangat menyinggung dan tidak masuk akal!"
"Jika kau memang tidak punya hubungan kenapa kau harus marah!"
"Dan aku yang tidak punya hubungan, kenapa harus kau tuduh?!" Lelaki itu membentakku, anak-anak yang sedang asyik menonton menjadi tegang dan duduk terdiam melihat orang tuanya saling bersidebat.
"Aku mungkin harus bersabar atas bukti-bukti yang akan terjadi kedepannya."
"Bukti apa! Aku ini dari kantor yaa...."
"Lalu kenapa pada pertanyaan pertama kau berkelit!"
"Itu karena kau terlalu curigaan!"
"Aku melakukan semua ini untuk melindungi keluarga."
"Tidak kau egois Hanifa, kau ingin duniaku hanya untukmu padahal aku juga punya keluarga dan kerabat!"
"Aku memintamu untuk tetap memprioritaskan kami dan jangan lalai."
Dia maju ke hadapanku dan menabrakku, aku nyaris terjatuh dan terjengkang andai tidak menyeimbangkan diri.
Dia menabrakkan wajahnya ke wajahku, dan mendesis sinis.
"Emangnya aku tidak memberimu makan? Apa aku tidak menidurimu! Apa kau cemburu karena kau ingin minta jatah, ayo, kulayani kau!" Ujarnya sambil menarik rambutku dan membawaku ke kamar.
"Lepaskan aku!"
"Aku yakin ini yang kau inginkan!"
Brak!
Mas Arman mendorong dan membanting diri ini hingga aku terjatuh dan pinggangku membentur sisi tempat tidur, aku terpana dan menggigil dengan sikapnya yang kasar, aku menangis gemetar dan ketakutan karena perlakuan kasar suamiku yang baru pertama kali ia lakukan selama kami menikah.