(Oh maaf, apa ini Hanifah ya?) dia segera membalasku.
(Iya, aku istrinya, aku tidak tahu apa maksudmu tapi aku kaget melihat pesan-pesanmu pada suamiku. Kau kirimkan foto-fotomu yang cantik dengan maksud apa?)
(Tidak ada, hanya mengirimkan saja.)
(Menurutmu ini masuk akal dan wajar, menurutmu wajar seorang kakak ipar mengirimkan foto-foto ke adik iparnya?)
(Jika Itu menyakiti hatimu maka aku minta maaf, Aku tidak akan mengulanginya. Kau boleh menghapus pesannya.)
Ini bukan tentang menghapus pesan, aku ingin dia memberiku penjelasan kenapa ia seakan menggoda suamiku, jika aku bicara terang-terangan tentu wanita itu akan merasa tertantang dan semakin berusaha dekat pada suamiku, jadi, akan kuusahakan untuk bicara baik-baik, meski perasaanku terbakar.
(Tentu saja akan kuhapus, tapi, sebelum itu, Aku ingin tahu kenapa kau terlalu berani. Apa maksudmu?)
(Maafkan aku, aku tidak bermaksud apa-apa. Arman yang minta kami mengabarkannya kegiatan harian kami, dia bilang dia harus memantau kami, jadi aku melaporkannya melalui foto.)
(Benarkah, bahkan suamiku tidak seperti itu pada istrinya sendiri?)
(Ya mungkin dia percaya padamu... Dia yakin kau bisa mengurus dan menjaga dirimu sendiri.)
Sampai di situ tanganku sudah gemetar, andai aku dan dia berhadap-hadapan mungkin wajahnya sudah babak belur oleh pukulanku. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa Mas Arman meminta wanita itu mengabarkan kegiatan hariannya. Apakah harus seketat itu perlakuan dia pada janda kakaknya? Tapi untuk apa? Apa suamiku menaksir pada mantan kakak iparnya itu, ataukah ini memang murni satu-satunya cara untuk menjaga keluarga. Sungguh aku tidak mengerti.
Aku tidak lagi membalas pesan dengan wanita itu, sakit hatiku luar biasa tidak bisa terobati, pikiranku meradang, bahkan tenggorokanku sakit karena sensasi ingin meledak melampiaskan semua makian yang tertahan selama ini.
"Bangun Mas!" Sebenarnya aku tidak perlu membangunkan Arman tapi hatiku sakit, menundanya akan semakin membuatku meradang. Aku sudah tidak tahan lagi untuk segera bertanya dan membahasnya.
"Ada apa sih, aku ngantuk!" Lelaki itu terlihat kesal dan tidak peduli padaku, dia mengambil bantal lalu menutupi wajahnya untuk menghindari diriku.
"Mas, bangun aku mau bicara!"
"Apa ada kebakaran atau orang yang meninggal! Kalau tidak ada tolong jangan ganggu aku karena aku lelah sekali."
"Lelah apa? Lelah berjalan-jalan dengan gundikmu!"
"Apa?! Lelaki itu melempar bantal dengan kasar lalu bangun begitu saja. "Apa yang kau katakan?"
"Benarkah kau yang menyuruh wanita itu untuk sering mengirimkan kabar dan foto-fotonya?"
"Tidak!"
"Jangan bohong aku membaca percakapan kalian, aku melihat ada begitu banyak foto yang dikirimkan wanita itu ke ponselmu! bahkan, galerimu lebih banyak menyimpan fotonya daripada foto kami!" ujarku berapi api.
"Astaga untuk apa kau memeriksa ponselku?!" Lelaki itu menggerutu sambil mengacak rambutnya sendiri, mungkin kesel karena dia tidak punya jawaban atau argumen untuk melawan bukti yang telah kusodorkan.
"Apa kau menyukainya? Apa kau tergoda pada kecantikan wanita itu?!"
"Omong kosong!"
"Jika kau memang menjaga hati dan matamu, kau tidak akan memperdulikan meski dia mengirimkan foto dan tidak perlu foto-foto itu tersimpan di galeri."
"Aku terlalu sibuk dan lupa untuk menghapusnya, kau tahu sendiri betapa aku repot di proyek dan jarang sekali memeriksa ponsel!"
"Haruskah aku percaya dengan argumen yang penuh dengan kebohongan itu!"
"Tahu apa kau dengan hatiku? Apa kau tahu persis kalau sekarang aku sedang berbohong!" Dia tidak mau kalah denganku perkataannya tak kalah sengit dengan ucapanku bahkan dia menatapku dengan bola mata yang melotot.
Lantas setelahnya ... aku kehilangan kata-kata. Dengan tatapan suamiku yang tajam, aku bergidik, takut dan merasa terintimidasi. Dia mendekat ke arahku dan seakan mau menabrak diri ini.
"Jika kau keberatan aku membantu saudara-saudaraku maka katakan dengan jujur! Dan kau bisa memilih jalanmu sendiri," desisnya. Aku tercengang dan menatap matanya sementara Ia juga semakin menatap mataku dengan tajam.
"Kau boleh pergi dari rumah ini dan pulang ke rumah orang tuamu, bilamana kau tidak mau mendukung upayaku untuk membantu keluargaku."
"Aku tidak pernah keberatan kau membantu keluargamu, tapi jangan berlebihan, ingat, kau punya keluargamu sendiri dan sikapmu janganlah berlebihan pada seorang janda!"
"Apa aku terlihat menidurinya? Apa aku pernah membuka pakaiannya?!"
"Aku tidak tahu."
"Kalau begitu jangan bersikap seakan kau mengetahui segalanya!" Jawab suamiku sambil mendorong keningku dengan ujung jarinya. Aku terpanah dengan perlakuannya.
"Aku terlalu baik padamu sehingga kelancanganmu meningkat akhir akhir ini!" ujarnya dengan dingin, aku merinding seketika melihat suamiku yang tadinya sangat lembut hati dan penurut pada istrinya, kini terlihat menunjukkan senyum jahat dan tatapan mata yang picik.