7

1018 Words
"Kupikir kau cukup bijaksana untuk menentukan langkah dan sikapmu tapi kau benar-benar mengundang masalah," desis Mas Farid. "Apa maksudmu?" "Kau pikir istriku akan diam saja mengetahui ini, Kau pikir dia akan bisa melihat kau meletakkan celana dalammu ke dalam jasku! Akan ada keributan besar dan kehancuran dalam keluargaku, anak-anakku akan murka dan semuanya akan bergulir jadi masalah yang begitu besar, apa kau sengaja melakukan ini?" "Aku melakukannya agar kau merindukanku." "Jelas alasanmu tidak masuk akal, kau sengaja meletakkannya karena kau tahu istriku yang akan membersihkan jasku, kau sengaja ingin mengungkap perselingkuhan kita, iya kan." "Kalau iya terus kenapa? Sejauh ini aku menunggu kejelasan darimu kau bilang kita akan menikah dan bersama tapi buktinya belum ada sampai saat ini!" Wanita itu jadi berang dan menyingkirkan tangan mas Farid dari kedua lengannya, dia menepisnya dengan kasar dan berteriak. Untungnya koridor di sayap barat tidak terlalu ramai dengan pekerja karena difungsikan sebagai ruang rapat dalam skala besar. Jadi, tempat itu cukup lengang. "Apa kau tidak bisa bersabar?" "Lalu apa kau bersabar saat hasratmu untuk b******a timbul begitu saja apa pernah aku menunda dan menolak melayanimu, aku seperti istri kedua bagiku, tapi tak lebih dari seorang p*****r. Apa kau puas terserah memperlakukan diriku seperti ini. Apa kau merasa bahagia sekali membohongi dan terus mempermainkanku?" Aku terus menyimak pertengkaran dua sejoli itu, pertengkaran yang terjadi gara-gara celana dalam yang tertinggal di dalam jasnya. Lihatlah, aku hanya diam dan menyaksikan, tidak memberikan reaksi apa-apa, apalagi harus kebakaran jenggot. Lihatlah, justru mereka yang terus berkonflik dengan permainan yang mereka buat sendiri. "Nikahi aku secepatnya atau kalau tidak akan kuungkap hubungan kita kehadapan semua orang bukan cuma Istri dan anakmu aku akan mengumumkan semua itu di kantor ini." Mas farid tiba-tiba mendekat dan mencekik wanita itu lalu mendorongnya ke dinding. "Apa kau sedang bermain-main denganku!" tanya suamiku dengan tatapan tajam. Aku terkesiap dan kaget sekali dengan perbuatannya karena selama 20 tahun kami bersama, pria itu sama sekali tidak kasar,dia tidak pernah melontarkan kalimat yang kasar. Jangankan memukul, hendak mengangkat tangan pun tidak pernah ia lakukan pada diriku. Aku cukup kaget dengan perbuatan itu. Niken terbatuk-batuk dan berusaha melepaskan tangan Mas Farid dari lehernya. "Lepaskan a-aku." "Apa kau ingin mati dengan mengancamku!" "Ti-tidak." "Apa kau lupa kau berada di posisi sukses sebagai arsitek, karena rekomendasi dan ajakan kerja dariku. Tanpaku, kau masih hanya perancang magang di sebuah kantor yang kumuh." "Hanya karena kau berjasa dalam hidupku jadi kau anggap itu sebagai hutang yang harus kubayar dengan tubuhku!" Brak! Mas Farid menyetak wanita itu dengan kasar sehingga dia tersungkur dan menabrak meja, wanita itu terbelalak. Dia menatap mas Farid dengan bola mata berkaca-kaca dan memegangi perutnya yang sakit. Aku sendiri... Kalau aku dapat perlakuan tidak manusiawi seperti itu maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk meminta berpisah. Buat apa hidup tanpa harga diri, dipakai hanya untuk melampiaskan nafsu dan tidak dihargai pendapatku. Meski tidak ada pilihan lain dalam hidup ini Di mana aku harus melakukan pekerjaan di bawah tekanan dan Kendari orang lain tapi aku tidak akan menjual kehormatanku apalagi hanya demi sebuah rayuan yang belum tentu kejelasannya. Aku hanya merasa miris melihat bagaimana Niken diperlakukan oleh Mas Farid, kupikir, sebagai wanita kedua, dia akan begitu dicintai dan dimanjakan, tapi ternyata dia juga dipukuli. "Mas ...." Wanita itu menangis sambil memandang Mas Farid seakan dia kucing kecil yang ditinggalkan induknya, bola matanya berkaca-kaca dan penuh kepikunan, ia menangis tapi suaranya tertahan di tenggorokan, tidak banyak yang bisa dia lakukan selain menggigil menahan isakan agar tidak pecah dan terdengar banyak orang. Konyol sekali, miris dan menyedihkan. "Aku peringatkan padamu ... Aku memberimu cinta uang dan posisi yang kau inginkan. Aku membanggakan karyamu dan memuji-mujimu di hadapan semua orang jadi jangan kau cabut simpati dan kasih sayangku dengan perbuatan yang ceroboh." "Aku hanya menuntut kejelasan dan aku harus bertindak agar kau segera menikahiku, aku bisa apa?" Suara wanita itu terserak, dia terduduk di sudut dinding sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sebenarnya aku sedikit gelisah mewakili dua orang manusia yang tidak punya akal itu, Apakah mereka sama sekali tidak takut saat berbicara dengan leluasa seperti ini, tidak khawatir tiba-tiba seseorang akan lewat dan menguping pembicaraan. Apa seorang cukup nyaman dengan aibnya sendiri? Sungguh, aku tak mengerti. "Baiklah, maafkan aku." Kini nada suara mas Farid cukup merendah, dia berjongkok di hadapan kekasih gelapnya lalu merentangkan tangan untuk merangkulnya. "Maafkan aku, dan tolong beri aku waktu." "Sampai kapan. Sampai aku babak belur dan mati kau pukul?" "Tidak, aku harus menyiapkan mentalku untuk bicara dengan jujur kepada Hafsah, Jika dia menyetujui pernikahan aku maka kita bisa melangsungkannya dengan resmi tanpa harus sembunyi-sembunyi jadi tolong tenanglah sedikit dan tunggu waktunya." "Bukannya kau bilang kau akan meninggalkannya dan satu-satunya orang yang kau inginkan dalam hidupmu hanya aku?" Mas Farid jadi gusar dengan tuntutan Niken, dia meremas rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku bilang ini tidak semudah yang kita rencanakan, kau tahu kan aku ada anak yang sudah cukup dewasa. Dia bisa menghancurkan hidupku kalau dia marah." "Apa kau takut pada anaknya sendiri?" "Hidup itu bukan tentang cinta saja tapi tentang bisnis dan strategi, Kita harus pandai mengatur situasi sebelum semuanya jadi kacau dan rencana kita berantakan. Aku mohon bersabarlah sedikit." Mungkin hanya terdiam dan menatap Mas Farid sambil menggelengkan kepala, wanita itu kembali menangis. "Sayang maafkan aku?" ujarnya sambil kembali menenangkan wanita itu. Wanita yang di keningnya masih ada strap karena bekas benjol kuhantamkan kemarin di atas kap mobil. Sepertinya wanita itu punya obsesi khusus untuk cari masalah, tidak ada jera atau kapok-kapoknya. Belum selesai masalah satu sudah timbulkan masalah lain. Sepertinya wanita bernapas Niken itu suka cari perhatian dengan sengaja bikin masalah, lalu bermain peran seakan dia korban utama. Ah, miris sekali perilaku para pelakor yang ada di dunia ini. "Tenangkan dirimu ya, Sayang. Kembalilah ke lokasi proyek dan awasi pola pekerja. Kita harus membangun hotel sesuai dengan target yang sudah direncanakan dan apik seperti desain yang kau ciptakan." Mas Farid mengecup kening wanita itu lalu membantu membenahi rambutnya yang tadi berantakan. Aku bersembunyi di belakang pintu saat wanita itu meninggalkan ruangan, saat Mas Farid akan keluar, aku menghadang di hadapannya. Aku berdiri dengan senyum sementara lelaki itu langsung terguncang melihat kehadiranku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD