Mungkin ucapanku tadi telah membuat lelaki itu kesal. Jadi saat aku kembali dan membawakan segelas kopi hadiah nampak cemberut dan menatap diri ini serta cangkir kopi secara bergantian. "Apa ini?" "Kopi?" "Apa Saya minta americano?" "Uhm, sa-saya pikir anda hanya ingin kopi hitam." "Kau tidak bertanya dulu kopi apa yang saya inginkan dan bagaimana kau akan meletakkan gulanya." "Kebetulan saya bawakan gula terpisah, untuk persiapan jangan-jangan kurang gula," ucapku sambil mengeluarkan dua bungkus kecil gula dari kantung blazerku. Lelaki itu tertawa melihat gula yang kupegang di tangan. "Kau cerdik sekali, tapi aku tidak ingin minum kopi hitam." "Jadi, mau kopi apa Pak?" Untungnya ada mesin pembuat kopi yang tidak jauh dari ruangan direktur jadi aku tidak perlu repot-repot mer

