80

1093 Words

Setelah ayah dan ibunya Arman menjauh dari rumah calon mertuaku, calon ibu mertua hanya mendesahkan napasnya lalu memberi isyarat kepada suaminya untuk masuk kembali ke dalam rumah sementara aku dan Mas Renaldi akan pulang. "Ayo masuk Pi, biar anak-anak pulang." "Iya, Mi." Pria yang hampir 60 tahun itu menepuk bahuku sambil tersenyum lalu dia mengikuti langkah istrinya. Aku agak tertegun dengan reaksi mereka, tidak menyangka kalau mereka akan diam saja, tidak memperpanjang perdebatan, bahkan mempertanyakan atau mengoceh lebih jauh lagi. Mungkin pikiran mereka sudah begitu terbuka, juga tak mau buang waktu padahal hal-hal yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Jadi, aku lega sekali. "Apa tadi kau takut?" tanya Mas Renaldi. "Sebenarnya iya. Aku tidak khawatir untuk hukuman pada di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD