Tatapan wanita itu membuatku risih, sekalipun ia sangat cantik, wangi dan elegan, aku seperti melihat seorang musuh yang punya dendam kesumat di hadapanku. Aku bisa tahu kalau dia membenciku, Dia tidak setuju aku dekat dengan sepupunya yang kaya raya serta sukses itu. Dari gestur dan gaya pertanyaannya sejak tadi, jelas saja ia menghina diri ini secara tersirat bahwa aku adalah orang rendahan, miskin, jauh dari mereka yang seakan-akan tidak pantas bersanding dengan Mas Renaldi. Aku tersinggung, tapi aku mencoba bersikap tenang demi menghargai calon suamiku. "Oh ya, anak kamu berapa?" "Dua, Nyonya." "Tidak usah panggil aku nyonya. Panggil saja Lorena sebab aku dan suamimu adalah sepupu!" "Baik." Aku tetap menjawab dengan tenang. "Di SDN 12." "Oh sekolah negeri?" "Iya." "Kenapa

