75

1053 Words

"Aku harus bagaimana Hanifah?!" Wanita itu kembali berteriak sebelum aku sempat menutup pintu, dia menangis di depan pintu teras dan meluncur jatuh, tergugu dengan tangisan lemah di hadapanku. "Bagaimana apanya?" "Hidupku dan anakku! Aku mungkin bisa bertahan kelaparan tapi bagaimana dengan anakku. Gara-gara kau aku tidak dapatkan pekerjaan dan kami kesulitan!" "Kau bisa gunakan kecantikanmu!" "Kau ingin aku jadi p*****r?" "Bukankah selama ini itulah profesimu?" "Hanifah! Ucapanmu keterlaluan!" bentaknya. "Aku heran dua orang penghianat datang mengadu padaku dan minta solusi untuk kehidupan mereka. Bukankah yang hancur ke hidup kalian berdua adalah diri kalian sendiri? Kenapa harus aku yang bertanggung jawab." "Semua ini bermula darimu dan kau pula yang harus memperbaikinya!"

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD