Janji
Kayla berhenti tepat di depan pintu ballroom, hak sepatunya mengetuk pelan lantai marmer yang licin. Pantulan lampu gantung di atas kepalanya berkilauan, terlalu terang sampai membuat matanya sedikit menyipit.
Tangannya masih menggenggam clutch kecil dengan jemarinya yang tanpa sadar mengetuk-ngetuk permukaannya—kebiasaan yang selalu muncul setiap dia merasa tidak nyaman.
“Anj ir, Bel,” gumamnya pelan tanpa nengok. “Ini reuni apa red carpet sih?”
Di sebelahnya, Abel berdiri santai dengan tangan masuk ke saku celana. Dia cuma menyengir dengan matanya yang ikut menyapu pintu besar di depan mereka.
“Ya lo kira gue bakal ngajak lo ke tempat receh?” jawabnya ringan. “Sekali-sekali lah kita keliatan classy.”
Kayla mendengus pelan, bahunya sedikit turun naik. “Gue masih bisa cabut sekarang gak yah..”
Abel langsung nyenggol lengannya. “Eh, jangan sok. Lo tuh yang gue tungguin dari tadi.”
Kayla akhirnya menoleh, alisnya naik. “Kenapa harus gue? Lo aja masuk duluan sana.”
“Karena lo Kay,” jawab Abel enteng. “Dan karena semua orang bakal dateng gara-gara lo.”
Kayla langsung ngelirik tajam. “I hate that.”
“I know,” Abel ketawa kecil. “Makanya nikmatin aja.”
Belum sempet Kayla protes lagi, Abel sudah mendorong pintu ballroom.
Beberapa kepala langsung menoleh.
Dan seperti yang dia takutkan—
Tatapan itu datang.
Bukan cuma satu dua orang. Tapi banyak. Mata yang mencari, yang memastikan, yang kemudian saling berbisik.
“Itu Kayla, kan?”
“Iya… asli dia dateng…”
“Gila, beda banget di real life…”
Kayla langsung memasang senyuman tipis. Bahunya ditegakkan, dagunya sedikit terangkat—pose yang udah otomatis dia lakukan tanpa berpikir.
“See?” bisik Abel sambil nahan ketawa. “Five seconds.”
“Shut up,” balas Kayla pelan, masih dengan senyum yang sama.
Beberapa orang mulai mendekatinya. Satu, dua, lalu jadi kelompok kecil. satu persatu pertanyaan mengalir tanpa jeda, tentang film, tentang hidupnya sekarang, tentang hal-hal yang bahkan Kayla sendiri tidak suka membahasnya.
Meski tetap ia jawabdengan ramah, matanya terus bergerak. Mencari celah.
Sampai akhirnya dia berhasil menarik Abel menjauh ke sisi ruangan, deket dengan meja minuman. Kayla langsung bersandar sedikit, menghembuskan napas panjang yang dia tahan dari tadi.
“Asli capek gue,” gumamnya.
Abel mengambil satu gelas, lalu menyodorkannya “Biasalah artis, nih minum dulu.”
Mata Kayla memutar lagi, lebih santai kali ini. Menyapu wajah-wajah lama yang sebagian masih dia kenal, dan sebagian lagi sudah asing.
Dan tanpa sadar—
Dia bertanya.
“Aksa dateng nggak?”
Abel yang sedang minum langsung berhenti di tengah tegukan. Dia menoleh ke arah Kayla, “Lah, lo masih inget dia?”
Kayla mengangkat bahu, pura-pura santai. “Ya inget lah. Cuma nanya doang.”
Abel tidak langsung jawab. Dia malah nyender ke meja, dengan mata sedikit menyipit ke arah Kayla.
“Lo inget nggak sih… dulu lo tuh sering banget godain dia?”
Kayla langsung mengernyit. “Godain apaan deh?”
Abel ketawa kecil. “Nggak usah pura-pura lupa deh, dulu bahkan fans-fans lo aja kaget."
Kayla diem. Sedikit menyesal mambahas laki-laki itu.
“Dia kan dulu kayak… invisible,” lanjut Abel. “Duduk belakang, diem, selalu jadi bahan ketawaan.”
Kayla menunduk dikit, jemarinya mulai memainkan ujung clutch-nya lagi.
“Dan lo,” Abel nunjuk dia, “tiba-tiba duduk di sebelah dia, ngajak ngobrol, becanda… bahkan—”
“Bahkan apa?”
Abel nyengir. “Lo pernah bilang mau jadi pacarnya.”
Kayla langsung mengangkat kepala. “Hah? Nggak—”
“‘Kalau nggak ada yang mau sama lo, yaudah gue aja,’” Abel menirukan dengan nada santai.
Kayla menghela napas pelan. “Gue cuman mau nolongin dia kali, semenjak gue deketin nggak ada lagi tuh orang yang ngejekin dia."
“Iya, lo nolong,” Abel ngangguk. “Tapi buat dia? Belum tentu.”
Kayla belum sempat jawab.
Karena tiba-tiba—
Suasana berubah.
“Eh…”
“Itu dia?”
Kayla ikut menoleh.
Dan waktu seperti berhenti setengah detik.
Pintu terbuka, dan seorang pria masuk.
Langkahnya santai. Jas hitamnya jatuh pas di bahu dengan rambut yang di tata rapi.
Orang-orang langsung berbisik.
“Itu Aksa?”
“Serius?”
“Gila… dia sekarang—”
Kayla bahkan tidak bisa berkedip.
Matanya mengikuti tiap langkah pria itu. Dan perlahan jantung Kayla mulai berdetak kencang.
“Bel…” suaranya hampir bisik.
“Hm?”
“Itu… Aksa?”
Abel cuma bisa ketawa kering. “Gue juga lagi mikir itu orang yang sama apa bukan.”
Aksa berhenti di tengah ruangan, ngobrol singkat sama panitia. Bisik-bisik terdengar bahwa dia adalah donatur utama, dan beberapa orang langsung terpana.
Begitupun Kayla.
Hingga—
“Kay.”
Suara itu muncul di dekatnya. Dan Aksa ternyata sudah berdiri di depan dia.
Lebih tinggi dari yang dia inget.
“Long time no see,” katanya santai, sudut bibirnya naik sedikit.
Kayla butuh satu detik buat menjawab. “Aksa…”
Matanya menyapu wajah Aksa, seperti mencari sisa-sisa orang yang dulu dia kenal.
“Masih inget gue?” tanya Aksa, matanya langsung ngunci ke dia.
“Ya… lumayan lah.” jawab Kayla canggung.
Aksa senyum tipis. “Good.”
Abel yang dari tadi merhatiin langsung nyela, “Bro, sumpah deh… lo glow up-nya nggak masuk akal.”
Aksa nengok sekilas, alisnya naik dikit. “Lo masih berisik yah.”
“Anjir, jutek banget,” Abel ngakak.
Tapi Kayla tidak fokus ke situ.
Karena Aksa—
Belum berhenti ngeliatin dia.
“Lo cantik,” katanya tiba-tiba.
Kayla sedikit kaget, tapi langsung menutupnya dengan senyum kecil. “Thanks.”
Aksa miringin kepala. “Tapi udah dari dulu sih." Lalu maju satu langkah.
Jarak mereka jadi lebih dekat. Kayla bisa melihat jelas garis rahang Aksa, cara matanya sedikit menyipit, bahkan napasnya yang stabil.
“Gue udah dateng,” kata Aksa pelan, “dan belum ada yang mau sama gue."
Kayla mengernyit. “Apa?”
Aksa senyum tipis. “Janji lo.”
Kayla langsung bengong. “Janji apa?”
Aksa ketawa kecil, napasnya keluar pelan. “Serius lo lupa?”
“Aksa, gue—”
“Lo pernah bilang mau jadi pacar gue.”
Hening.
Bener-bener hening.
Abel langsung nahan tawa kaget. “WOI—”
“Bel, diem,” potong Kayla cepat, matanya tidak bisa lepas dari Aksa.
“Itu becanda,” lanjut Kayla, suaranya sedikit lebih cepat.
“I know,” Aksa ngangguk pelan. “Lo becanda.”
“Ya udah.”
“Tapi gue nggak.”
Kayla langsung diam.
Aksa maju lagi sedikit, suaranya turun. “Dulu lo satu-satunya yang nganggep gue,” katanya. “Sekarang… gue mau lo nggak pura-pura lupa.”
Kayla mulai merasakan sesuatu yang aneh bergejolak.
“Aksa… itu beda.”
“Kenapa beda?”
“Karena sekarang—”
“Sekarang gue nggak cupu lagi?” potong Aksa.
Kayla langsung berhenti ngomong.
Aksa nyengir dikit. “Atau sekarang lo udah nggak kasian lagi sama gue?”
Kayla menelan ludahnya gugup.
“Tepatin janji lo,” katanya pelan. “Atau gue bakal terus ngingetin lo.”
Dan tanpa menunggu jawaban, Aksa pergi.
Langkahnya tetap tenang. Seolah dia tahu Kayla akan termenung di tempat. Sampai Abel akhirnya menyenggol lengannya.
“Kay.”
“Hm?”
“Gue serius nanya ya…”
Kayla menoleh pelan.
Abel tersenyum canggung, tapi matanya masih belum percaya.
“Kenapa dia bisa seganteng itu sekarang?”
Kayla tidak menjawab pertanyaan absurd dari sahabatnya itu. Karena bukan hanya itu yang ada di kepalanya sekarang.