Beri Kesempatan

1031 Words
****** FLASHBACK END ******* Kayla masih menatap ke depan, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Sementara Aksa menyandarkan punggungnya ke kursi, wajahnya sedikit menoleh ke arah Kayla. Beberapa detik terlewat begitu saja tanpa tidak dak ada yang bicara. Sampai akhirnya “Jadi?” suara Aksa pelan, tapi jelas. “Sekarang lo mau pura-pura lupa lagi?” Kayla menghela napas panjang, kepalanya sedikit menunduk. “Gue gak pura-pura lupa, Sa…” “Terus?” Kayla menoleh. “Gue cuma gak ngerti kenapa lo harus bawa itu lagi sekarang, itu udah lewat, yaudah.” Aksa langsung ketawa kecil. “Kejadian itu nggak pernah lewat di gue Kay, asal lo tau." Wanita itu menatapnya, matanya mulai menunjukkan kelelahan. “Kita cuman one night stand kayak di drama-drama jadi yaudah,” katanya pelan. “Dan itu juga… kondisi gue gak normal.” Aksa langsung menoleh penuh. “Lo mau bilang itu gak berarti apa-apa?” Kayla terdiam sejenak. Satu detik terasa terlalu lama untuk laki-laki itu. Dan itu cukup buat dia memahami situasinya. “Nice,” gumamnya sambil mengangguk pelan. “Berarti gue yang salah ya? Gue yang nganggep itu lebih.” “Aksa—” “Gue yang mikir itu awal sesuatu,” lanjut Aksa, nadanya mulai naik. “Gue yang mikir gue harus tanggung jawab.” Kayla langsung mengernyit. “Tanggung jawab apaan sih?” Aksa menatapnya tajam. “Lo serius nanya itu?” “Iya!” Kayla mulai ikut naik nadanya. “Gue gak minta apa-apa dari lo!” “Bukan soal lo minta atau enggak!” “Terus apa?!” Kayla balas cepat. Aksa menghembuskan napas kasar, tangannya mengusap wajahnya sendiri. “Gue cowok, Kay,” katanya lebih pelan sekarang. “Gue gak bisa pura-pura itu gak terjadi.” Kayla langsung menjawab, “Gue juga gak pura-pura.” “Tapi lo pergi,” potong Aksa cepat. Kayla terdiam. “Lo literally hilang besoknya,” lanjut Aksa. “Tanpa ngomong apa-apa. Tanpa ngasih gue kesempatan buat ngerti apa yang terjadi.” Kayla menggigit bibir bawahnya pelan. “Gue waktu itu panik,” katanya akhirnya. “Gue gak siap.” “Terus sekarang lo siap?” Aksa langsung nembak. Kayla tidak menjawab. Karena ia sendiri pun tidak tahu. Aksa menatapnya lama. “Gue nyari lo, Kay,” katanya pelan. “Gue beneran nyari lo.” Kayla mengangkat kepala, matanya sedikit melebar. “Tapi lo malah ke luar negeri dengan tenang kuliah, hidup normal. Seolah gak ada apa-apa.” "Lo serius bilang kayak gitu? Hidup gue juga susah!" Kayla menggeleng pelan. “Itu bukan ‘seolah gak ada apa-apa’…” “Terus apa?” Aksa memotong. Kayla menarik napas dalam. “Itu cara gue biar bisa move on,” katanya. “Gue gak mau stuck di satu kesalahan.” “Kesalahan??” suara Aksa langsung naik. Kayla langsung tersadar. Ia menarik nafasnya panjang. “Bukan gitu maksud gue, Sa—” “Lo nyebut itu kesalahan?” ulang Aksa, suaranya lebih rendah sekarang, tapi jauh lebih tajam. Kayla menutup mata sebentar. “Gue gak tahu harus nyebutnya apa, Sa…” Aksa tertawa kecil, tapi kali ini lebih sinis. “Iya sih. Buat lo mungkin itu cuma momen random.” “Enggak,” Kayla langsung menyangkal. “Terus apa?” Aksa menantang. Kayla terdiam yang malah membuat Aksa semakin tidak habis pikir. “Gue tau dari awal,” katanya pelan. “Gue tau lo deketin gue bukan karena lo mau.” Kayla langsung menoleh cepat. “Aksa—” “Lo kasihan,” lanjut Aksa tanpa jeda. “Karena gue dibully. Karena gue gak punya siapa-siapa.” Kayla menatapnya, napasnya sedikit terputus. “Okey, emang alasan gue buat lindungan lo dan itu gak sepenuhnya salah, Tapi—” katanya pelan. “Nah.” Potongnya dengan cepat. Aksa tersenyum miring yang dimana makin memperlihatkan kekecewaannya. “Tapi bukan berarti gue nggak tulus, Sa,” Kayla buru-buru menambahkan ucapannya yang sebelumnya terpotong. “Gue beneran mau temenan sama lo.” “Temenan?” Aksa mengulang. “Atau project sosial lo?” Kayla langsung terdiam. “Aksa, bahasa lo udah kelewat sih,” katanya akhirnya. “Gue?” Aksa mengangkat alis. “Lebih kelewatan mana coba? Gue yang jujur sekarang, atau lo yang dari dulu kabur?” “Gue gak pernah kabur! Gue cuman panik, gue tau lo juga bingung.” “Lo bilang mau jadi pacar gue!” Aksa membalas cepat. “Lo inget itu gak?” “Itu becanda!” “Gue gak ketawa,” jawab Aksa datar. Sunyi. Kayla memalingkan wajahnya, tangannya mulai mencengkeram ujung bajunya sendiri. “Aksa… gue gak pernah niat nyakitin lo,” katanya pelan. “I know,” Aksa mengangguk. “Masalahnya… lo tetep nyakitin.” Kayla menutup matanya sebentar. “Apa yang lo mau sekarang?” tanyanya akhirnya. Aksa tidak langsung menjawab. Ia menatap Kayla lama, seolah memastikan sesuatu. “Gue mau deket lagi sama lo,” katanya akhirnya. Kayla langsung mengernyit. “Hah?” “Gue gak peduli dulu lo mulai karena apa,” lanjut Aksa. “Kasihan kek, iseng kek, apa pun itu.” “Aksa, ini gak—” “Gue cuma mau tau sekarang,” potong Aksa. “Lo masih bisa kan deket sama gue tanpa alasan itu?” Kayla benar-benar terdiam. Pertanyaan itu lebih sulit dari yang ia kira. “Aksa…” suaranya melemah. “Gue gak tahu.” "Kita bisa mulai semuanya dari awal, gue nggak papa Kay. Gue udah tungguin lo, nyariin lo selama ini." Tapi Kay tetap terdiam. Takut ucapannya hanya semakin menyakiti laki-laki itu. "Pas lo pergi gue pikir lo malu sama gue, gue pikir lo takut rumor tentang gue bakal ngerusak popularitas lo jadi gue nggak berani ngusik kehidupan lo di luar negeri." Tangan Aksa bergerak menggenggam tangan wanita itu. "Tapi sekarang Lo nggak harus malu, Kay. Gue udah beda dari yang dulu, gue udah bisa jadi pacar seorang Kayla yang terkenal." "Gue takut tambah nyakitin lo, sumpah. Gue beneran anggap lo temen gue.. Gue nggak bisa kasih apa yang lo mau." "Cukup kasih gue kesempatan, kalau gitu lo bisa kan?" Kayla menggigit bibirnya kelimpungan. Ia menunduk menatap tangannya yang di genggam laki-laki itu. Kepalanya berpikir keras agar tidak melakukan perbuatan impulsif lagi seperti dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD