Dari pakaian yang dikenakan Marco, Mika bisa melihat bahwa lelaki itu memang mempersiapkan makan malam ini. Mika tidak tahu apakah dirinya harus merasa lega, senang, atau semacamnya. Ekspresi di wajahnya masih sedatar sebelum Marco datang, kedua tangannya bahkan tidak berhenti memotong daging di piringnya dan mulutnya masih mengunyah pelan-pelan. "Oh, datang?" Marco menarik kursi di seberang Mika dan duduk di sana tanpa melepas tatapannya pada Mika barang sedetik saja. "Kamu kayaknya nggak terlalu berharap aku datang." Mika menghendikkan bahu acuh tak acuh. "Lebih tepatnya, aku nggak berharap kamu datang saat jam tujuh sudah lewat. Dan ini sudah jam ...." Mika menggantungkan kalimatnya, ia tidak benar-benar ingin tahu sudah jam berapa sekarang. Yang jelas, Marco terlambat. Semoga sa

