ICHYL:22 - Satu Perasaan

1905 Words

Jam tujuh pagi, Mika sudah bnagun dan dandan cantik. Siap untuk pergi ke tokonya Marco kapanpun Marco menghubungi. Ia juga telah menyetel dering ponsel keras-keras agar bisa langsung menjawab pada deringan pertama. Sayangnya, dari sarapan hingga makan siang, Mika masih di rumah. "Hah yang benar aja?!" Mika membanting ponsel di atas ranjang kamarnya sambil marah-marah. "Terus maksudnya mau ngedeketin itu gimana coba kalau telepon atau chat aja enggak?! Masa mesti gue lagi yang mulai, sih." Mika bisa saja menunggu untuk mempertahankan gengsi, tapi kalau di sana Marco tidak ada pergerakan entah karena malu atau juga ingin mempertahankan gengsi, terus mau sampai kapan jalan di tempat begini? Mika yang tidak tahan lagi. Persetan dengan gengsi, dalam suatu hubungan memang selalu harus ada p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD