"Saya tidak tahu harus menyebut kamu bernyali atau tidak tahu diri, bagaimana bisa kamu tetap menemui anak saya setelah—" "Saya tuli." Marco tidak bermaksud lancang memotong ucapan orang, ia hanya memang tidak tahu Duta sedang berbicara lantaran posisi Duta yang membelakanginya. Marco mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan dua kata tersebut, dan begitu kat itu meluncur, Marco merasa lega. Lantas saja Duta membalikkan badan dengan wajah terkejut. "Kamu ... Apa?" "Saya tuli," ulang Marco dengan yakin dan tenang. Konon, mengakui kekurangan diri bukan hal yang bisa dilakukan oleh semua orang. Terlebih bagi Marco yang muak menerima tatapan kasihan orang-orang dan dipandang berbeda—cacat, katanya. Namun, meski membencinya, kekuaragan ini adalah bagian dari diri Marco sekarang.

