Mika menggigit bibir dan menundukkan kepala, membiarkan tirai belaian rambutnya jatuh menutupi wajahnya yang saat ini tengah mati-mati kan agar tidak senyum kegirangan. Sebab jika tidak ditahan-tahan, mungkin Mika sekarang sudah jingkrak-jingkrak saking senangnya dipeluk dan akhirnya Marco Marco mau membuka perasaannya. Mika bedeham, lalu mengangkat wajahnya dan memasang wajah acuh tak acuh. “Ih, siapa juga yang pura-pura sakit? Orang aku beneran sakit. Nggak ada yang bilang kalau aku akan mati besok, kok.” Alih-alih merasa kesal lantaran dipermainkan oleh Mika—walau Mika belum juga mau mengakuinya, kalau boleh jujur Marco merasa sebenarnya ini sedikit lucu. Marco mulai mengendus kebohongan Mika ketika melihat roti-roti dari tokonya ada di meja kamar rawat Mika, jangan tanya bagaiman

