Mobil hitam itu melaju kencang di jalanan yang lengang. Si pengemudi seperti sedang berpacu dengan angin, siapa dulu yang lebih sampai di tempat tujuan. Decitan suara gesekan antara ban mobil dengan aspal menandakan bahwa mobil itu baru saja direm secara mendadak, tepat di depan pintu gerbang rumah Duta. Si pengemudi yang tak lain adalah Marco, berlarian memasuki rumah. Terburu-buru hingga tersandung keset penyambut tamu. Sadin yang sudah menunggu menyuruhnya berhati-hati, diiringi dengan suara tangisan Mika yang samar-samar terdengar oleh mereka yang bisa mendengar. Kalau saja Marco bisa mengarnya, barangkali pria itu tak hanya terpeleset tapi juga tercebur kolam renang karena saking paniknya. "Mika dimana, Bun?" Tanyanya tak sabaran. Telunjuk Sadin menunjuk lantai dua. "Ada di kamar--

