"Mama kamu cantik sekali," puji Mika saat Marco menunjukkan foto mendiang mamanya sewaktu masih muda. "Pantas saja standar kamu tinggi." Marco spontan tertawa meningkahi celetukan Mika yang merasa dirinya tidak kalah cantik dengan Mama kandung Marco. "Itu bukan standar. Aku milih kamu karena cuma kamu yang mau menerima aku." "Hei, jangan ngomong begitu," sela Mika, mendecakkan lidah malas. "Kamu itu cuma nggak bisa dengar, tapi ada lebih banyak hal yang kamu punya tapi aku nggak punya," lanjut Mika tersenyum lebar. "Jadi, kapan kamu mau kenalin aku secara resmi ke keluarga kamu?" Mika menagih, sekaligus mengalihkan topik agar tidak melulu membahas kekurangan Marco yang sungguh tidak membebani Mika karena komunikasi mereka masih lancar seperti pasangan normal. "Hmm ... Kalau itu ak

