bc

Di Balik Topeng Kekejaman

book_age18+
6
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
badboy
kickass heroine
mafia
gangster
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
campus
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Lea Ananda Putri, mahasiswi seni yang ceria, dipaksa menikah dengan Rian Putra Wijaya, pengusaha yang ternyata adalah penguasa dunia gelap yang kejam. Awalnya hanya perjanjian bisnis, namun kehadiran Lea perlahan mengubah hati Rian yang tertutup. Di tengah bahaya dan intrik, benih cinta tumbuh membuat Lea menyadari ada kelembutan tersembunyi di balik topeng kekejaman suaminya.

chap-preview
Free preview
Perjanjian Berdarah
Langkah kaki Lea Ananda Putri terasa berat saat ia menapaki lantai marmer mengkilap di lobi perusahaan ayahnya. Gedung pencakar langit yang dulu selalu membuatnya bangga, kini terasa seperti penjara raksasa yang dingin dan menyesakkan. Di tangannya, Lea mencengkeram erat tas kanvas kecil berisi alat gambar dan buku sketsa satu-satunya hal yang selalu memberinya ketenangan, namun kini rasanya benda itu pun tak lagi sanggup menenangkan detak jantungnya yang kacau. Usianya baru dua puluh tahun. Ia masih mahasiswi semester tiga di Fakultas Seni Rupa, menjalani hari-hari dengan warna-warni cat minyak, kanvas kosong, dan imajinasi yang tak terbatas. Dunianya selama ini hanyalah keindahan, kebebasan, dan hal-hal yang menyenangkan mata. Namun hari ini, dunianya yang indah itu runtuh seketika, dihancurkan oleh kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di ruangan rapat besar di lantai paling atas, suasana terasa tebal dan menekan. Lea berdiri di samping ayahnya, Pak Hadi, yang tampak jauh lebih tua dan lelah dari biasanya. Wajah ayahnya yang biasanya selalu ceria kini pucat pasi, matanya menunduk tak berani menatap lurus ke arah sosok yang duduk di ujung meja besar itu. Dan di situlah ia berada. Rian Putra Wijaya. Nama itu sudah cukup membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri. Di atas kertas dan di mata publik, Rian hanyalah seorang pengusaha muda paling sukses, kaya raya, dan berpengaruh di negeri ini. Pewaris tunggal grup perusahaan Wijaya Corp yang jangkauan bisnisnya merambah ke mana-mana. Tampan, cerdas, dan berkuasa. Namun Lea tahu seluruh keluarga besarnya tahu bahwa di balik kemewahan dan nama besar itu, Rian adalah raja di dunia kegelapan. Ia adalah pemimpin organisasi terbesar yang menguasai jalur perdagangan gelap, perjudian, hingga urusan yang tak pernah tersentuh hukum. Ia adalah sosok yang ditakuti, dihormati, dan juga dibenci oleh banyak orang. Konon, tangan Rian penuh darah, dan ia tak pernah ragu menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Balas dendam adalah prinsip hidupnya, dan kekejaman adalah senjatanya. "Lea..." suara ayahnya bergetar pelan, tangan tua itu menggenggam lengan Lea seolah meminta dukungan, padahal akulah yang seharusnya dilindungi. "Ini satu-satunya jalan, Nak. Hanya Tuan Rian yang bisa menyelamatkan perusahaan kita, menyelamatkan nama baik keluarga kita... dan menyelamatkan kita dari hutang yang menumpuk ini." Lea mengeratkan genggaman pada tali tasnya. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tapi Yah kenapa harus aku? Kenapa harga penyelamatan itu harus aku? Aku hanya mahasiswi seni, aku tidak mengerti bisnis, aku" "Kau adalah aset paling berharga yang kami miliki, Lea." Potong suara berat, rendah, dan dingin dari ujung ruangan itu. Lea mendongak, matanya bertemu dengan sepasang manik hitam yang tajam dan menusuk. Rian duduk bersandar santai di kursi besarnya, satu kakinya menyilang di atas kaki yang lain. Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan, kemeja putih yang kancing atasnya terbuka sedikit, memberikan kesan berwibawa namun tetap memancarkan aura bahaya yang nyata. Wajahnya tampan, sangat tampan bahkan, namun ada kekakuan di sana seperti sebuah topeng sempurna yang menyembunyikan apa pun yang ada di baliknya. Kekejaman, ambisi, dendam... semuanya tersimpan rapat di balik tatapan dingin itu. Rian berdiri perlahan, suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba terasa sunyi senyap. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa berat dan penuh tekanan, seolah udara di sekitarnya ikut bergetar. Ia berhenti tepat di hadapan Lea, menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan pandangan yang membuat Lea merasa seperti binatang buruan yang sudah terperangkap. "Kau bertanya kenapa kau?" Rian berbicara pelan, namun kata-katanya terasa seperti cambuk yang memecah keheningan. Ia mengangkat satu tangannya, jari-jarinya yang panjang dan kekar menyentuh lembut dagu Lea, memaksanya mendongak dan menatap lurus ke dalam mata hitam itu. "Karena ayahmu tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan padaku. Uang? Aku punya berkali-kali lipat lebih banyak dari itu. Kekuasaan? Aku sudah memegang kendali atas hampir separuh kota ini. Satu-satunya hal yang kurang adalah seorang istri. Dan kau, Lea Ananda Putri, adalah persembahan yang cukup pantas untukku." Jantung Lea berdebar kencang, bukan karena rasa suka, melainkan karena ketakutan yang murni. Sentuhan tangan Rian di dagunya terasa panas, namun tatapan pria itu sedingin es. Di mata Rian, ia tidak melihat cinta, tidak ada rasa kasih sayang. Lea hanya melihat kepemilikan, ambisi, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap dan berbahaya. "Jadi ini hanyalah transaksi," gumam Lea, suaranya nyaris tak terdengar. Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat lemah di depan pria ini. Ia ingat betul apa yang sering didengarnya tentang Rian. Bahwa pria ini membalas setiap kesalahan dengan sepuluh kali lipat rasa sakit. Bahwa baginya, balas dendam adalah keadilan mutlak. Dan sekarang, entah mengapa, Lea merasa dirinya terjebak di tengah pusaran dendam yang entah sudah berapa lama disimpan Rian. Rian tersenyum tipis, senyum yang tak pernah sampai ke matanya. Senyum yang menakutkan. "Tepat sekali. Kau cerdas, sepertinya tidak sia-sia ayahmu memberikannya padaku. Ini adalah pernikahan bisnis, Lea. Sebuah perjanjian untuk menyatukan dua keluarga, dan memperkuat posisiku. Kau akan menjadi Nyonya Wijaya. Kau akan hidup mewah, mendapatkan segala kemewahan yang tak pernah kau bayangkan tapi kau juga harus ingat satu hal." Rian mendekatkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Lea, membuat gadis itu menahan napas. "Kau adalah milikku. Tubuhmu, waktumu, namamu semuanya menjadi milikku. Dan jangan pernah berpikir untuk mengkhianatiku, atau menyembunyikan sesuatu dariku. Karena apa pun yang kau simpan, apa pun yang kau rasa aku akan mengetahuinya. Dan percayalah, Lea musuhku selalu mendapatkan balasan yang setimpal. Kejam, menyakitkan, dan tak pernah berakhir baik." Nada bicaranya rendah, namun penuh ancaman terselubung. Lea bisa merasakan getaran bahaya yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di balik pesonanya, di balik kekuasaannya, Lea melihat samar-samar bayangan masa lalu yang kelam, rasa sakit yang mendalam, dan api dendam yang masih menyala di d**a Rian. Ayahnya maju selangkah, wajahnya penuh permohonan. "Lea, tolong terima saja. Demi kami, demi masa depan keluarga kita. Rian akan menjagamu, aku yakin itu." Lea menatap ayahnya, lalu kembali menatap Rian. Pria itu masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Lea tahu, tidak ada jalan keluar lain. Ia dijual demi menyelamatkan nama baik dan harta benda keluarganya. Ia, gadis yang menghabiskan waktunya bermain warna dan keindahan, kini harus masuk ke dalam dunia hitam yang penuh darah, senjata, dan intrik. Dunia di mana hukum yang berlaku hanyalah kekuatan dan balas dendam. Namun, di tengah rasa takut yang melumpuhkan itu, ada sesuatu yang lain yang tumbuh di hati Lea. Sesuatu yang tak terduga. Saat ia menatap mata Rian yang dingin itu lebih lama, Lea melihat sekilas luka yang tersembunyi di balik topeng kekejaman itu. Dan entah kenapa, rasa takut itu perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu, bercampur dengan rasa sakit hati karena diperlakukan seperti barang dagangan. Lea mengangkat dagunya, berusaha menegakkan dirinya di hadapan pria yang begitu jauh di atasnya itu. Ia mengusap pelan tas sketsanya, satu-satunya bagian dari dirinya yang masih tersisa. "Baiklah," jawab Lea pelan namun tegas. "Aku bersedia." Rian melepaskan dagu Lea perlahan, seolah baru saja selesai memeriksa barang dagangan yang baru ia beli. Ia berbalik, berjalan kembali ke kursi kerjanya dengan langkah tenang dan penuh percaya diri. "Bagus," ucap Rian singkat. Ia mengambil selembar kertas dokumen dari meja, lalu mendorongnya ke arah ayah Lea. "Pernikahan akan dilaksanakan minggu depan. Secara tertutup. Tidak ada pesta mewah, hanya saksi-saksi penting. Mulai hari ini, Lea akan tinggal di kediaman utamaku. Kau tidak boleh lagi mengunjunginya atau menghubunginya tanpa izin dariku. Dia milikku sekarang." Kalimat itu terdengar begitu mutlak, begitu dingin. Lea merasa hatinya teriris. Ayahnya hanya mengangguk patuh, menandatangani dokumen itu seolah baru saja menyerahkan jiwa anaknya sendiri. Saat mereka meninggalkan ruangan itu, Lea menoleh sekali lagi ke arah Rian. Pria itu sudah kembali sibuk dengan berkas-berkas di mejanya, seolah keberadaan Lea hanyalah hal kecil yang tidak terlalu penting, namun cukup berguna untuk rencana besarnya. Namun, sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Lea menangkap sepotong kalimat yang terucap lirih dari mulut Rian, cukup pelan sehingga hanya dirinya yang bisa mendengarnya. "Dan lihat saja perlahan tapi pasti, aku akan membuat semua orang yang pernah menyakitiku merasakan hal yang sama. Kau mungkin awalnya hanya bagian dari rencanaku, Lea tapi siapa tahu, kau bisa menjadi senjata terbaikku untuk menghancurkan mereka semua." Pintu ruangan tertutup rapat. Lea berjalan menyusuri koridor panjang gedung itu, diapit oleh dua orang pengawal berbadan besar yang kini bertugas mengawasinya. Di dadanya, rasa sakit, kekecewaan, dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu. Ia tahu hidupnya berubah total mulai hari ini. Ia akan masuk ke sarang naga, hidup bersama pria yang konon tidak punya hati nurani. Namun di sisi lain, Lea juga bersumpah dalam hatinya. Jika Rian mengira ia hanya gadis polos yang bisa diatur sesuka hati, ia salah besar. Lea mungkin lembut, mungkin menyukai keindahan, tapi ia punya harga diri. Dan jika Rian hidup dengan prinsip balas dendam dan kekejaman, Lea berjanji pada dirinya sendiri ia akan bertahan. Ia akan mencari tahu apa yang tersembunyi di balik topeng kekejaman itu. Dan jika ia terluka, jika ia dikhianati Lea juga akan belajar cara membalasnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
724.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
960.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.8K
bc

Not just, the Beta

read
342.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook