Pagi itu datang dengan langit yang masih tertutup kabut tipis, seolah mencerminkan suasana hati yang masih diliputi ketidakpastian. Sejak dini hari, Rian dan Lea tidak bisa tidur lelap. Pikiran mereka terus melayang pada pesan ancaman yang diterima semalam, membayangkan apa yang akan dikirimkan Bayu sebagai senjata berikutnya untuk merobek kepercayaan yang baru saja mereka bangun kembali. Di ruang makan, suasana hening terasa menyesakkan. Tidak ada obrolan santai seperti biasanya; setiap orang sibuk dengan pikiran masing‑masing. Lea hanya menyentuh sedikit makanannya, matanya tampak sayu dan pandangannya sering kosong menatap ke luar jendela. Rian yang duduk di sampingnya sesekali melirik, merasakan jarak yang perlahan mulai tercipta meski mereka masih duduk berdampingan. “Jangan terlalu

