“Hiks …. Hiks.” Deon yang tengah tidur mendengar suara tangisan lumayan kencang. Bukan suara tangis kunti atau suster ngesot, ternyata yang menangis ini Milia. Deon langsung mengubah posisinya yang semula menindih Milia kini menjadi duduk, barangkali Milia kesakitan tidur dengan posisi tadi. Tanpa sadar Deon terlalu nyaman tidur dalam posisi seperti tadi, bahkan kepalanya dia tenggelamkan ke ceruk leher Milia. “Kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya Deon agak bersalah, habis terlalu nyaman sampai kelupaan kalau Milia masih sakit. “Hiks.” Gadis ini tidak menjawab, dia malah terus menangis hingga air mata membasahi pipinya, tatapan Milia juga kosong. Deon menatap sambil mengelus pipinya. “Kenapa Mil? Perutnya sakit? Kepalanya sakit?” Dia mengusap perut Milia juga barangkali mulas lagi. “Ata

