Tiga cowok ganteng ternyata tidur satu kamar. Maklum mereka agak sulit dipisahkan karena sekawan, sekamar, seperjuangan sejak di New York. Mereka berteman dari sejak zaman perjuangan S2 di sana.
Rencana awal Riko mau naena bareng cewek cantik, nyatanya mereka malah karokean dan berakhir menginap di rumah Deon. Rumah sebesar ini sepi sekali karena yang menghuninya hanya satu orang.
Rumah bekas kejadian perampokan sudah di musiumkan, Deon membangun rumah baru hasil keringatnya sendiri.
Malas rasanya tinggal di tempat yang begitu meninggalkan banyak luka dan kenangan. Luka akibat goresan saudara-saudari keluarga ayah dan ibunya, kenangan dari kepergian keluarga inti Deon yang menyakitkan hati.
Deon dan Andreas tidur di kasur bawah sedangkan Riko yang tidurnya tak bisa diam memilih untuk di atas karpet saja ditemani dua guling dan satu bantal.
Selama Deon berkuliah di Indonesia, dia sangat sibuk dan tinggal di asrama, tak lagi menumpang di rumah Endang. Setelah pindah dan tinggal di New York, dia kehilangan kontak Endang karena nomor handphone ibu angkatnya itu tak aktif lagi. Usut punya usut, handphone Endang dibawa lari oleh copet.
Saat Deon pulang, ternyata Endang tak lagi tinggal di rumah lama. Endang kesulitan uang hingga menjual rumah dan pindah ke rumah yang lebih kecil dan berada di wilayah agak kumuh pinggiran kota.
Tuhan mempertemukan mereka kembali. Memang dasarnya sudah ditakdirkan bersama. Lama tak jumpa akhirnya bertemu juga.
Deon saat itu butuh pembantu untuk membersihkan rumahnya. Kebetulan pembantunya keluar tiba-tiba karena orang tuanya sakit. Deon mendatangi agen penyedia jasa asisten rumah tangga. Pada hari itu dia menapakkan kaki di kantor ART officer.
"Anda butuh yang seperti apa, Tuan?" tanya ibu-ibu bertubuh besar dan menggunakan sanggul.
"Yang tidak muda, tidak juga terlalu tua untuk bersih-bersih rumah saja." Tidak ada anak kecil yang mengotori atau penghuni se-RT, toh hanya dia saja dan para penjaga rumah. Makan pun Deon jarang di rumah, kebanyakan beli di luar saja sambil nongkrong. Iya kalau keburu makan, kadang saking sibuk kerja suka lupa makan.
"Silahkan ini>Milia sudah mau masuk kuliah dan adiknya Munaf duduk di bangku SMP. Endang butuh banyak uang untuk menyekolahkan kedua anaknya. Milia memang punya beasiswa, tapi untuk sewaktu jaga-jaga jika beasiswa tiba-tiba dicabut nanti bisa apa jika tidak ada uang sendiri.
Saat Deon membuka dan membaca setiap lembarnya, dia pun melihat foto wanita yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Data dirinya pun sama saat ia baca. Alangkah senangnya Deon karena berhasil menemukan belahan jiwanya lagi.
Deon pun meminta untuk bertemu dengan Endang lalu dikabulkan. Pria ini menunggu dengan setia dan membatalkan setiap janjinya dengan klien.
"Ada apa panggil saya, Bu. Apa ada yang mau mempekerjakan saya?" tanya Endang pada bosnya setelah ia masuk dan menyapa dulu.
Sang bos melirik ke arah Deon yang sedang duduk di sofa. Pria berumur dua puluh delapan tahun itu kehabisan kata, dia menatap punggung Endang dari belakang, wanita yang dulu tegak berdiri kini sedikit membungkuk mungkin karena tak muda lagi. Rambutnya juga sudah banyak ditumbuhi uban, tak hitam lagi. Pelukan wanita ini dulu yang menguatkannya di kala susah dan senang.
Deon pun bangun dan bersujud di kaki Endang seperti sangat menghormati orang tuanya sendiri ketika sudah lama tidak bertemu.
"Ibu …. Ibu kemana saja?" tanya Deon sambil mendongakkan kepalanya. Senyuman merekah terukir dari wajah Deon, terlihat manis sekali bagai gulali. Jarang-jarang Deon mau senyum jika bukan ke orang terdekat saja.
"Siapa, ya? Berdiri, Nak. Jangan duduk di bawah." Jelas Endang tidak mengenali Deon karena pria yang ia asuh ini sudah banyak berubah, lebih putih, tubuhnya lebih atletis, modis pula. Dulu terakhir bertemu kan masih mahasiswa yang dekil dan belum berduit.
"Ini Deon, Bu." Deon pun kali ini senyum dengan memperlihatkan gigi gingsulnya yang manis. Ciri khas dia dari dulu adalah memiliki gigi yang imut seperti marmut. Endang pasti mengenali.
"Deon? Deon anak ibu. Kamu sudah pulang, Nak?" Endang kira Deon sudah terlalu betah di luar negeri dan tak mau pulang ke Indonesia.
"Sudah lama Deon cari ibu kemana-mana tapi nggak ketemu." Mereka berdua pun saling berpelukan.
"Ibu pindah rumah, Nak." Membesarkan anak sendiri dan anak orang lain dengan cara berhutang, jadi rumah yang lama dijual untuk bayar hutang dan beli rumah baru. Saat Deon tinggal bersamanya, keluarga Deon tak memberikan sepeserpun uang. Mereka menyangka Endang akan memanfaatkan Deon, Endang pun membuktikan dia bisa membesarkan anaknya dan Deon dengan uangnya sendiri. Kebetulan uang milik Deon juga dikuasai oleh keluarga dari mendiang papanya.
"Ayo mampir ke rumah ibu!" Daripada melepas rindu di sini, jadi Endang ajak saja ke rumahnya, agar Deon tau juga, dimana dia tinggal sekarang. Kalau mau main sudah tau alamat barunya.
Dalam tiga puluh menit, mereka pun sampai di rumah Endang yang baru, bukan baru tapi bekas orang. Bangunan terlihat sudah lama dan lebih kecil, hanya ada tiga kamar, ruang tamu juga sempit, kayu-kayu jendela dan pintu sudah mulai lapuk dimakan usia. Lingkungannya pun agak kumuh dan pinggiran kota.
"Ibu tinggal di sini?" Sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat dengan rumahnya tinggal. Deon heran, kenapa bisa Endang tinggal di sini, lantainya pun masih kuning, keramik model lama, bukan yang putih bening.
"Iya rumah yang lama udah dijual." Endang menunduk. Dia tak mau bahas yang lalu-lalu. Perjuangannya membesarkan Deon biar dia saja yang tahu, keluarga Deon tak memberikan uang biar juga hanya dia yang tahu. Memberi bukan berarti meminta balasan dan untuk mendapat sebuah pujian. Dia ikhlas lillah hita'ala.
"Ibu nggak usah kerja, Ibu juga jangan tinggal di sini lagi. ibu tinggal di rumah aku aja, ya!" Deon tak tega, di masa tuanya Endang harus menderita dan tinggal di lingkungan seperti ini, tidak baik untuk kesehatan, apalagi dia mau kerja.
"Tinggal di rumah kamu buat kerja?" Endang berharap bisa mengurus Deon dan rumahnya lagi seperti dahulu, seperti Deon kecil yang bahagia dan hari-harinya diisi dengan keceriaan.
"Enggak, enggak buat kerja, cuma nemenin aku aja." Mana mungkin dia pekerjakan Endang yang sudah tua dan sudah ia anggap ibunya sendiri.
"Enggak mau, enggak mau." Endang sadar diri dia bukan siapa-siapa, hanya mantan pembantu yang ingin membesarkan dan melindungi anak majikannya sesuai pesan dari ibu Deon beberapa hari sebelum kejadian, seperti sudah ada firasat mau meninggal.
"Kan ibu, ibunya aku." Deon tetap memaksa, dia ingin Endang tinggal di tempat yang layak.
"Nggak ah, enggak. Ibu lebih baik tinggal di sini saja, kalau ibu tinggal di sana untuk jadi karyawan kamu baru ibu mau." Nanti apa kata keluarga Deon jika seorang pembantu ikut tinggal di rumah majikan tanpa bekerja. Endang sempat tidak sejalan dengan keluarga ayahnya Deon.
"Ibu sudah tua, saatnya ibu beristirahat, biar yang kerja di rumahku pegawai yang lain saja. Ibu tinggal di rumahku istirahat dan menghibur diri saja." Sudah saatnya dia berbakti pada Endang yang ia anggap ibu sendiri.
"Tidak, Nak. Ini rumah ibu, disinilah ibu tinggal." Dia tak mau hidup menumpang di orang lain, meskipun orang itu sudah ai anggap anak sendiri.
"Aku pengen balas budi ke ibu makanya pengen ibu tinggal di rumahku, di sana aku hanya tinggal sendirian." Bukannya tak tega Deon tinggal sendiri, Endang benar-benar tak mau menumpang.
"Tidak mau, tidak usah membalas budi, Nak. Ibu ikhlas membantu kamu dari dulu hingga sekarang. Kamu sudah ibu anggap anak sendiri." Kasih sayang dari Endang ke Deon, ke Munaf atau Milia sama saja, sama rata dan tidak pilih kasih.
"Tapi Bu-" Endang menyetop protes Deon dengan menutup mulut pria itu menggunakan telunjuknya.
Endang pamit sejenak untuk membuatkan Deon teh, tak lama dia kembali dengan satu cangkir teh hijau yang sangat disukai Deon untuk menenangkan hatinya.
Deon langsung berbicara lagi setelah meminum satu gelas air teh hingga tandas. "Aku ingin sekali membalas budi pada ibu sebagai orang tua sambung ku." Deon tetap bersikukuh.
Endang pun berpikir sejenak. Dia kemudian mengambil jalan tengahnya saja. "Kalau begitu itu bawa saja anak ibu, Nak." Perkataan Endang sontak membuat kening Deon mengerut.
"Anak Ibu?" Dia lupa anak Endang yang mana karena dulu masih kecil-kecil. Beda umur dengan Milia delapan tahun dan itupun hanya sekali dua kali saja ketemunya.
"Anak ibu ada yang pertama seorang perempuan, nikahi saja dia dan buat dia bahagia, maka ibu akan ikut bahagia." Kebahagiaan anaknya adalah kebahagiaannya juga.
"Tapi dia belum siap menikah." Deon rasa umurnya masih muda untuk ukuran seorang pria.
"Di usia dua delapan belum siap menikah?" Zaman dulu dia menikah dengan suami masih belasan tahun.
"Kalau ibu yang minta kamu tidak akan keberatan, kan?" Ekspresi Endang jelas membuat Deon tak enak hati untuk menolak permintaan itu.
"Hmmmm ….."
"Besok datanglah untuk makan malam, nanti kenalan lagi sama anak ibu."