Dua Puluh Tiga: DETIK PEMBALASAN

1324 Words

Hahaha. Akhirnya dia diam juga. Huh, baiklah. Saatnya melanjutkan .... Aku tatap kembali wajah Andrew yang mulai pias karena kehilangan cukup banyak darah. Wajah itu tak menunjukan perlawanan. Ia sudah mengerti maksudku untuk hanya cukup diam, dan membiarkanku menyiksanya. Bagus. Kudaratkan tangan, mengelus wajahnya dengan lembut. Bibirku mengulas senyum seiring kesenangan bisa menguasainya malam ini. “Hei ... sudah pias, ya? Pusing?” Andrew menggeleng pelan. Mata indah beralis tebal itu menatapku. Dia mengangkat tangannya, bertumpu dari tangan kanan yang sudah kubersihkan. Sigap, kutempelkan pisau lipat ke tangan itu untuk mencegah apapun yang akan dia lakukan. Aku bukannya takut Andrew akan berbalik menyerangku. Tidak. Dia sudah terlalu lemah. Aku hanya ingin menggertaknya, tid

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD