"Laura?" Sungguhan, aku tidak tuli. Aku mendengar teguran perhatian Wilson padaku. Aku juga tidak buta. Aku melihat raut wajah mempertimbangkan dan perhatian milik Rue yang dapat membuatku pecah setiap saat. Wanita kulit langsat berambut mullet itu menatapku hangat. "Jika kau tidak siap menceritakannya ... atau tidak ingat ... tidak apa-apa." Ajaib---atau bolehkah aku menyebutnya begitu---aku mendengkus tertawa. Tertawaan yang sinis, tidak ditujukan pada siapa-siapa selain diriku sendiri. Sialannya, aku terisak setelah itu, duduk di ujung ranjang tanpa mempedulikan tanggapan mereka berdua atas gestur atau ekspresiku. Aku merasa tak bisa mengontrol emosiku, entah kenapa. Kian naik menuju marah, si pitam membuatku melirik ke sembarang arah dengan ketus. Aku menyeka ingusku yang baru s

