Pukul 00.00. Ambar baru saja di lepaskan. Namun, tidak dengan Kuswan. Entah apa yang di perbuat tentara Belanda pada pemuda yang tergolong tampan itu. Mungkin saja, bermain-main dengan tubuh Kuswan. Atau, bermain bola sodok. Yap, beberapa ada yang menyukai permainan itu.
Ambar berjalan dengan tergopoh kembali ke rumah. Tahu betul, Bapak dan Ibunya pasti belum tidur. Menunggu dia kembali. Dan, benar saja.. saat dia membuka pintu kayu, yang bagian bawahnya terdapat celah satu jengkal, Risman sudah melotot dengan menghisap rokoknya.
"AMBAR!" pekik Risman.
Ningrum bergegas mendekati Ambar. Berusaha melindungi putri semata wayangnya itu dari amukan Risman.
"Kau dari rumah Arrum, nak? Kenapa pulang mu malam sekali? Tak baik, seorang gadis pulang malam-malam begini. Sekarang, cepat kamu istirahat," kata Ambar.
Saat kaki kanan Ambar mengayun, Risman kembali memekik. Usai mengeluarkan sisa asap yang ada di dalam mulutnya. Lantas, membuang rokok, dan menginjaknya.
"Jangan pergi sebelum aku bicara!"
"Pak, pelan kan sedikit suaramu. Nanti tetangga mendengar kita. Atau, jika ada tentara Belanda lewat, semua akan jadi kacau."
"Biar saja! Biar semua orang tahu. Aku memiliki anak gadis yang binal! Tak bisa di atur. Main dengan siapa kau?! Kau pasti menceritakan imajinasi bodoh mu itu!"
Ambar yang semula takut, kini menjadi kesal.
"Pak.. Apa aku begitu rendah di mata Bapak? Apa kami! Para perempuan tidak dapat mengutarakan hak nya?! Apa kami para perempuan, tidak dapat melakukan yang kami inginkan?!"
"Tugas perempuan itu hanya di dapur! Dan, melayani suaminya!"
"Itu-itu lagi! Ambar sudah muak mendengar hal semacam itu! Kenapa kalian semua memandang rendah perempuan?! Bahkan, para tentara Belanda saja kagum dengan ceritaku. Dan, mendengarkan ceritaku sampai selesai!"
"Tunggu.. kau, pergi ke markas mereka? Untuk menceritakan imajinasi konyol mu itu? Sampai larut malam?"
Ningrum yang merasa terkejut, menatap Ambar.
"Ambar.. benarkah itu, nak? Kau, pergi ke sana?"
Ambar hanya diam. Nafasnya menggebu. Menahan amarah. Bola matanya bergerak gelisah.
"Dasar anak murahan!"
Tangan Risman mendarat tepat di pipi Ambar, yang kini tertegun menengok ke kiri, karena tamparan tersebut.
"Mulai sekarang, kau jangan pernah ke luar rumah! Kalau bisa, jangan keluar kamar! Tidak usah makan! Tidak usah minum! Mati saja sekalian!"
Nafas Ambar semakin cepat. Menatap Risman dengan mata merahnya. Berjalan pergi. Dan, masuk ke dalam kamarnya.
"Pak.."
"Apa?! Kau, juga mau melawan ku?!"
Ningrum hanya mampu menggeleng. Serta, mendesah panjang. Sedangkan, Ambar merebahkan diri dengan perasaan sakit yang luar biasa. Bukan karena tamparan Risman. Melainkan, karena perkataan Risman, yang menjatuhkan harga dirinya.
Alih-alih bertanya apa yang sudah terjadi pada anaknya, Risman justru menuduh yang tidak-tidak. Begitulah, jika amarah bermain terlebih dahulu. Masalah kecil, akan menjadi runyam.
**
2 Hari sebelum kedatangan Jepang
Angin dingin menembus dari berbagai arah. Terdengar suara air yang di tuangkan pada bak mandi. Tanda sekarang sudah pukul 04.00 pagi. Ningrum sudah mulai dengan aktifitasnya.
Ambar yang sejak semalam tidak terpejam sama sekali, hanya bersandar pada tembok di atas ranjang. Kalimat-kalimat Risman, masih terngiang di telinganya. Air matanya sudah mengering.
"Bapak kenapa jahat sama aku? Kenapa Bapak tidak menanyakan apa yang terjadi denganku kemarin. Pak.. Anakmu ini hampir saja kehilangan kesuciannya," kata Ambar dalam hati.
Ambar mendesah panjang dan berat. Beringsut turun dari ranjang. Mendekati pintu. Ketika akan membuka pintu, ia teringat lagi kata-kata Risman, yang tidak memperbolehkan nya keluar dari kamar. Desahan kembali terdengar dari Ambar. Kini lebih singkat.
"Tapi, Ibu akan kelelahan kalau aku tak membantunya," ucap Ambar.
"Ah, masa bodoh sama Bapak!"
Ambar keluar kamar. Menengok ke kanan dan kiri. Takut-takut kalau ada Bapaknya. Ia kemudian berjalan cepat ke arah kirinya. Dan, sampai di dapur. Terlihat Ningrum tengah meniup-niup ke arah tungku.
"Bu, biar aku saja."
Ambar bergegas mendekati. Ningrum menengok. Lantas, berdiri.
"Ambar.. kenapa keluar kamar? Nanti kalau Bapakmu tahu, bisa-bisa kau akan di pukul."
"Biarkan saja, Bu. Toh, itu sudah biasa."
Ambar jongkok di depan tungku. Mulai meniup-niup api kecil. Di gerak-gerak kan beberapa kayu bakar yang tertumpuk.
"Tapi, Ibu tak tega melihatnya, Ambar."
"Jangan dilihat, Bu. Saat aku dipukuli, Ibu di dalam kamar saja."
"Ambar! Kenapa kau menjadi seperti ini? Kau, sudah tak peduli lagi dengan Ibumu?"
Ambar lagi-lagi mendesah panjang. Berdiri kemudian.
"Bu.. aku sudah lelah. Harus menurut sama Bapak. Yang katanya perempuan tak boleh begini. Tak boleh begitu. Harus di rumah. Harus masak. Aturan dari mana itu, Bu?"
"Itu sudah tradisi sejak zaman dulu Ambar. Kodrat perempuan itu memang hanya memasak, melahirkan, dan melayani suami."
"Lalu, kita tak boleh meraih cita-cita kita? Tak boleh bersekolah?"
"Untuk apa perempuan sekolah Ambar? Kalau pada akhirnya juga akan menjadi Ibu rumah tangga."
"Banyak, Bu. Perempuan juga bisa melakukan pekerjaan laki-laki."
"Lantas, kau ingin mengatakan jika kau lebih hebat dari Bapak?"
Risman tiba-tiba muncul dari arah belakang keduanya. Membuat Ambar dan Ningrum berjengit kaget. Memutar badan seketika.
"Bapak-"
"Kau diam saja, Ningrum. Aku ingin tahu, apa jawaban dari anak kesayanganmu ini."
Wajah Ningrum sudah gugup tidak karuan. Merapatkan bibirnya.
"Tidak begitu, Pak. Tapi, perempuan juga bisa bekerja, kan? Mereka juga mempunyai otak untuk berpikir. Impian. Dan-"
"Lalu, apa kau pikir mudah untuk melakukan itu semua? Negara kita saja belum merdeka, Ambar. Kita masih di kuasai oleh Belanda itu. Bagaimana kau bisa mencapai cita-citamu. Omong kosong!"
"Kalau begitu, kita harus mencari cara agar terlepas dari jeratan para Belanda itu, Pak. Mau sampai kapan kita akan menunduk pada mereka?!"
"Kau memiliki untuk melawan mereka? Senjata? Tentara? Atau.. kau mengusir mereka dengan dongeng bodoh mu itu?"
Ambar diam.
"Baru saja, Kunto teman Bapak datang. Dia menemukan 2 mayat pemuda desa kita di pematang sawah."
Ambar tampak tak terkejut. Berbeda dengan Ningrum.
"Entah, apa yang mereka perbuat. Sehingga, para Tentara itu menembaknya. Lalu.. apa kau masih ingin mengatakan kita harus mengusir mereka? Sebelum kau berucap di hadapan mereka, peluru akan menembus tubuh mu. Kau pasti segera jadi mayat."
Ambar tak dapat menjawab. Hanya mendesah cukup panjang.
"Sekarang, kau ikut Bapak ke depan."
"Mau kemana, Pak?" tanya Ningrum.
"Ada Pak Slamet mencari Ambar. Kau juga ikut, Ningrum. Biar kau tahu, kelakuan anak gadis yang selalu kau manja itu."
Ketiganya lantas menuju ke ruang tamu. Di mana Slamet—Ayah Kuswan. Begitu melihat Ambar muncul, Slamet segera berdiri.
"Dasar perempuan kurang ajar! Beraninya, kau menyeret anakku pergi ke markas Tentara Belanda itu!"
Slamet dengan rambut sedikit gondrongnya, menunjuk Ambar dengan kesal.
"Pak Slamet.. tenang dulu. Aku ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Biar Kuswan cerita," kata Risman.
Kuswan yang lusuh dan berwajah pucat, hanya berdiri dengan menundukkan kepala.
"Kuswan! Ceritakan semuanya pada mereka! Bagaimana saat kau menolong perempuan tak beradab itu!"
Ambar mengernyitkan dahi.
"Menolongku? Dia membalikkan fakta rupanya," kata Ambar dalam hati.
"Kuswan baru saja pulang ke rumah. Sejak kemarin siang, ia tak pulang. Kondisinya seperti ini saat di depan pintu. Celana bagian belakangnya penuh darah! Para tentara itu sudah melakukan hal buruk kepada anakku! Dan, semua gara-gara Ambar!"
Ambar terbelalak. Terkejut, akan yang di lakukan oleh para tentara itu pada Kuswan.
"Kuswan! Jangan diam saja. Cepat cerita!"
"Aku, Jatmiko dan Ismanto bermain di pematang sawah siang kemarin. Lalu, kami melihat Ambar akan mencuri tanaman padi di lahan sawah Belanda itu. Tak lama setelah itu, beberapa tentara Belanda melintas. Dan, memergoki Ambar. Kami bertiga, berusaha membantunya. Tapi, Jatmiko dan Ismanto di tembak di tempat. Lantas, aku dan Ambar di bawa ke markas."
"Lalu, bagaimana Ambar bisa pulang terlebih dahulu?" tanya Risman.
"Dia menggoda para Tentara Belanda itu."
Risman mengernyitkan dahi.
"Maksudmu.. dia menawarkan tubuhnya?"
Kuswan mengangguk tanpa rasa takut. Sementara, Ambar hanya terbelalak dan geram. Apalagi Risman. Dia menatap wajah Ambar dengan penuh amarah. Ningrum hanya bisa menangis.
"Kau.. benar-benar perempuan tak tahu malu, Ambar!"
Risman menampar pipi Ambar. Kali ini, cukup kencang.
"Tak cukup jika hanya dengan tamparan, Risman. Kau harus memasung anak perempuan itu," kata Slamet.
"Pak Slamet.. maafkan aku. Karena, anak ini.. Kuswan jadi terkena imbasnya."
"Jika saja kita bukan kawan, mungkin anakmu sudah aku habisi."
Ambar yang tak kuat menahan itu semua, akhirnya menjerit sambil menangis.
"Kenapa kalian dengan mudahnya menyimpulkan itu hanya dari cerita Kuswan?!"
"Bagaimana dengan ceritaku? Aku korban di sini!"
"AMBAR!"
"KUSWAN! DIA BERUSAHA MELUCUTI PAKAIANKU! KESUCIAN KU HAMPIR HILANG KARENA DIA DAN KAWAN-KAWANNYA!"