Bab Empat

1013 Words
3 Hari sebelum kedatangan Jepang "Ambar! Ambar!" Seorang pemuda yang mengenakan kaus putih, juga celana putih pendek berlari ke arah Ambar, yang tengah duduk di bawah pohon bersama Arrum dan kawan yang lain. Siang yang terik membuat hidung, mata, serta dahi Ambar berkerut. Menatap pemuda yang seumuran dengannya itu. "Ada apa?" tanya Ambar. Begitu pemuda itu sampai di hadapan Ambar. Membungkukkan badan. Kedua tangannya bertumpu pada lutut. Napasnya tersengal. "Bapakmu.." Mata Ambar melebar seketika. Pasti ada sesuatu yang buruk terjadi. "Ada apa dengan Bapak? Tentara Belanda membawanya lagi?" Sebelumnya, Risman pernah di seret oleh beberapa Tentara Belanda. Karena, Risman membela seorang warga yang tengah di tuduh mencuri. Dan, Risman berakhir babak belur. "Ya! Mereka membawanya ke pematang sawah! Kau, harus bergegas kesana." "Ambar! Lebih baik jangan kesana. Bapakmu pasti tidak suka kalau kau ikut campur," pinta Arrum. "Tapi, bagaimana kalau kali ini mereka menghabisi Bapak?" "Bapakmu pasti baik-baik saja, Ambar." "Kau tak ingat terakhir kali pergelangan tangan Bapak harus di ikat dengan kain untuk waktu yang lama?" "Ya, tapi mereka tidak akan melakukan hal yang terlalu jauh, Ambar. Percayalah." "Kau bisa dengan mudah mengatakan itu, karena bukan Bapakmu yang mengalaminya!" Arrum terdiam kemudian. "Ayo cepat. Tunjukkan jalannya," kata Ambar pada pemuda sebelumnya. Pemuda hitam manis itu berlari kemudian. Diikuti oleh Ambar. Hingga, tiba di pematang sawah. Di mana tanaman padi sudah agak panjang. Ambar menghentikan langkah, begitu pemuda itu juga berhenti. Nafasnya tersengal. Masih mengerutkan dahi. "Man.. Mana Bapak?" tanya Ambar. Parman nama pemuda itu. Rumahnya hanya berjarak beberapa langkah dengan Ambar. "Ambar.. Maaf ya," kata Parman seraya berbalik badan. "Kenapa kau minta maaf?" "Wah, Parman! Terima kasih, ya! Sekarang cepat pulang, atau kalau tidak aku juga akan menghabisi mu di sini," kata seorang pemuda berambut pendek. Memakai celana pendek, dan tidak mengenakan atasan. Selaras dengan 2 temannya yang lain. Parman buru-buru pergi setelah itu. Meninggalkan Ambar dengan ketiga pemuda, yang terkenal bengal di antara pemuda-pemudi di desa ini. Mereka selalu berlagak kuat. Sok. Dan, menjengkelkan. "Jadi, kenapa kau menjebak ku, Kuswan?" tanya Ambar. Berkacak pinggang. "Aku dengar.. kemarin kau mengacau lagi di gudang penyimpanan beras kita?" tanya Kuswan. Turut berkacak pinggang. "Oh, tidak seperti itu ceritanya. Para tentara Belanda itu ingin mengambil jatah beras kita. Lalu-" "Lalu, kau datang dan ikut campur. Dan, akhirnya kita tetap kehilangan beras kita. Begitu?" "Mereka mengacungkan senjata pada Bapakku. Kalau itu Bapakmu, apa kau kan diam?" "Jika itu membuat jatah beras aman, kenapa tidak?" Ambar mendengus. "Jadi, kau rela Bapakmu di tembak hanya untuk sekantung beras?" "Mereka hanya mengacungkan senjata, kan? Tidak menembak. Apa salahnya?" "Harga diri kita, Kuswan!" "Harga diri kita sudah mati, Ambar! Yang kita butuhkan hanya beras itu untuk bertahan hidup! Lagipula, untuk apa kau keluyuran ke sana kemari?! Perempuan itu seharusnya di rumah. Masak. Dan, membuka bajunya saat kita minta!" 2 teman yang lain tertawa mendengar gurauan kurang ajar dari Kuswan. "Ah, Ibu mu seperti itu juga?" Tertawa Kuswan berhenti karena itu. Kini menjadi kesal. "Jangan bicara buruk tentang Ibuku." "Oh, aku tidak bicara buruk. Kau yang bicara begitu. Bukankah, kau tadi mengatakan jika perempuan hanya masak dan membuka baju saat di minta lelaki? Ibumu.. pasti juga perempuan, kan?" Kuswan diam. Memicing tajam pada Ambar. "Cepat pegang erat-erat gadis kurang ajar itu," perintah Kuswan. 2 kawan Kuswan berjalan mendekati Ambar kemudian. Masing-masing memegang erat tangan Ambar, yang kini meronta. "Apa yang kalian lakukan? Lepaskan tanganku. Kalian mau aku panggilkan Bapakku?!" "Teriak saja, kalau bisa. Mereka pasti sekarang ada di rumah. Tidak ada siapa pun di sini, Ambar." "Apa yang ingin kau lakukan, Kuswan? Kau sudah hilang akal?!" "Aku akan memberimu paham. Kenapa perempuan seharusnya di rumah saja." Ambar terbelalak. Masih berusaha melepaskan genggaman erat kedua kawan Kuswan. Sementara, Kuswan berjalan mendekati Ambar. Membuka kancing celananya. Menurunkan resletingnya. "Kuswan! Hentikan! Kau ini benar-benar hilang akal?!" Kuswan menyeringai. "Sudah lama, aku mengincar mu Ambar. Selain menjengkelkan, kau juga sangat manis sekali. Sehingga, aku ingin mencicipi mu." "Kuswan, jangan. Aku mohon. Jangan lakukan itu padaku." Jarak Kuswan hampir dekat dengan Ambar. Jika saja, tak mendengar suara letusan peluru, mungkin Ambar sudah kehilangan kesuciannya. Kuswan kini jatuh terduduk. Melihat tanah berlubang di depannya, karena peluru sebelumnya. 2 orang tentara Belanda, yang melintas melihat kejadian itu. 2 kawan Kuswan melepaskan Ambar. Lantas, berlari. Namun, peluru salah satu tentara melesat 2 kali ke arah mereka. Sehingga, mereka tersungkur di tanah. Ambar terbelalak. Tak bisa bergerak. Terlalu gugup. Takut-takut jika ia di tembak. Kuswan menggelak ludah ngeri. Ingin bergerak dan lari. Tapi, juga terlalu takut. Dua tentara Belanda itu melompat turun. Mendekati Ambar. Mengacungkan senjata pada Ambar. Juga pada Kuswan, yang kini berlutut memohon ampun. "Jangan tembak aku. Tolong." Keduanya lalu di bawa ke markas para tentara. Di paksa berlutut. Kapten mereka yang tengah menikmati kopi hitam, sembari menekuk satu yang di topang kan pada kaki yang lain, menatap Ambar dan Kuswan yang tengah ketakutan. "Kenapa kau membawa mereka kemari?" tanya Kapten, dalam bahasa Belanda. Yang tak di mengerti oleh Kuswan. Tapi, di mengerti oleh Ambar. Ia cukup cepat dalam mempelajari sesuatu. "Mereka sedang berada di sawah. Sepertinya, akan memperkosa gadis ini. 2 lainnya sudah aku tembak," jelasnya. Kapten menatap wajah Ambar, dengan kernyitan di dahi. "Hei, bukankah itu anak Risman?" "Entahlah, aku juga tak tahu." "Benar. Itu anak Risman. Dia terkenal dengan panggilan lopen radio," bisik tentara, yang berdiri di sebelah Kapten. "Ah, jadi dia gadis yang pandai bercerita itu? Katakan kepadanya, jika ingin pergi dari tempat ini dengan selamat, dia harus menceritakan sesuatu yang menarik untukku," kata Kapten. Di jelaskan oleh tentara yang pandai berbahasa Indonesia. Ambar pun menelan ludah gugup. Mendorong udara keluar melalui mulut. "Tenang, Ambar. Ceritakan saja, apa pun yang melintas di pikiran mu," kata Ambar dalam hati. Ambar pun berdiri. Namun, tentara yang membawanya kembali mengacungkan senjata. Secara refleks, Ambar mengangkat kedua tangannya ke atas. "Hei, turunkan senjata mu," perintah Kapten. Dilakukan oleh tentara itu. "Kau harus membuat cerita yang menarik untukku. Jika tidak, peluru akan menembus kepala mu. Paham?" Ambar mengangguk takut. Dan, dengan cepat memikirkan satu cerita yang membuat Kapten dan tentara yang lain menyukainya. Tentu saja, harus meletakkan mereka dalam cerita tersebut. Harus mengunggulkan mereka. Itu satu-satunya cara agar selamat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD