Pagi di Bandung terasa berbeda bagi Kirana. Udara dingin yang biasanya membawa ketenangan kini justru terasa menyesakkan. Ia duduk di meja makan, menatap liontin yang berkilau redup di telapak tangannya.
“Bu, kenapa Ibu bengong terus?” tanya Icha sambil menyendok serealnya. “Ada yang salah?”
Kirana tersenyum kecil. “Nggak, sayang. Ibu cuma lagi mikirin sesuatu aja.”
Tapi di balik senyum itu, pikirannya berputar cepat. Kata-kata dari hologram Radit masih terngiang “Carilah Node Sigma.”
Ia bahkan belum tahu itu tempat, kode, atau sesuatu yang hanya Radit pahami.
---
Setelah mengantar Icha ke sekolah, Kirana langsung menuju bengkel Gio lagi.
Pria itu sudah menunggunya dengan ekspresi lelah, tapi mata yang tetap waspada.
“Gue tahu lo bakal dateng pagi-pagi gini,” katanya sambil menyeruput kopi.
Kirana duduk tanpa basa-basi. “Gio, di file hologram Radit semalam, dia nyebutin nama Node Sigma. Lo pernah denger?”
Gio mengernyit. “Node Sigma? Gue inget... itu nama sistem percobaan terakhir di Kusuma Research. Tempat Radit nyimpen arsip kesadarannya.”
“Berarti... itu bisa jadi tempat dia sekarang?”
“Mungkin,” jawab Gio, menatap layar komputer di depannya. “Tapi untuk masuk ke Node Sigma, lo butuh koordinat digitalnya. Dan cuma satu orang yang punya akses waktu itu.”
Kirana menatap Gio penuh curiga. “Felicia, ya?”
Gio mengangguk pelan. “Dia kepala divisi keamanan proyek itu. Kalau Radit masih ‘hidup’ di sistem, Felicia juga pasti tahu.”
Kirana mengepalkan tangan. “Gue harus ketemu dia.”
“Kir, dengerin gue dulu.” Gio menatapnya tajam. “Felicia bukan orang biasa. Sekarang dia kerja di bawah perusahaan baru Ward Technova. Gue denger mereka ngerjain sesuatu yang berhubungan sama AI tingkat lanjut. Kalau lo nyari dia, lo bakal nyentuh dunia yang jauh lebih berbahaya dari yang lo kira.”
“Gue nggak peduli,” jawab Kirana tegas. “Kalau Radit masih di sana, gue bakal temuin dia.”
---
Malam itu, setelah menidurkan Icha, Kirana menatap laptopnya.
Ia membuka browser dan mulai mencari informasi tentang Ward Technova.
Ratusan artikel muncul, tapi satu yang paling menarik perhatiannya berita tentang pembangunan “Menara Sigma,” pusat data rahasia milik Ward Technova yang baru diresmikan bulan lalu.
> “...Menara Sigma, dibangun di atas reruntuhan bekas laboratorium Kusuma Research...”
Kirana terpaku.
Bekas laboratorium itu tempat Radit dulu bekerja.
---
Keesokan harinya, Kirana berdiri di depan gerbang besar bertuliskan Ward Technova – Sigma Tower.
Bangunan setinggi lebih dari 30 lantai itu menjulang seperti pisau kaca menembus langit.
Ia menyamar sebagai kurir dokumen, berbekal ID palsu hasil bantuan Gio.
Begitu masuk ke dalam, ia bisa merasakan hawa dingin buatan yang menusuk tulang. Lantai logam berkilau, dindingnya dihiasi layar hologram bergerak menampilkan data yang terus berubah.
“Tujuan Anda, Bu?” tanya resepsionis dengan suara datar.
Kirana tersenyum tipis. “Divisi riset. Ada paket untuk Dr. Ward.”
Wanita itu memindai ID-nya, lalu mengangguk. “Silakan ke lantai dua puluh tujuh.”
Langkah Kirana cepat tapi hati-hati. Setiap suara pintu otomatis membuatnya menegang. Begitu sampai di lantai 27, ia menatap sekeliling ruangan besar penuh tabung kaca dan salah satunya bersinar dengan warna biru lembut.
Cahaya yang sama seperti liontin di lehernya.
Kirana mendekat, tapi suara langkah sepatu menghentikannya.
Ia bersembunyi di balik rak logam, mengintip.
Felicia muncul dengan jas putih, rambutnya kini pendek sebahu. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam. Di belakangnya, dua pria berseragam hitam mengawal.
“Sinkronisasi tahap dua dimulai,” ucap Felicia. “Subjek Kusuma akan stabil dalam waktu tiga hari.”
Kirana menahan napas.
Subjek Kusuma... Radit.
Namun sebelum ia bisa mundur, liontin di lehernya tiba-tiba menyala terang.
Salah satu penjaga menoleh cepat. “Ada anomali di sektor tiga!”
Kirana berlari sekuat tenaga, tapi alarm langsung berbunyi. Lampu-lampu merah berkelap-kelip di sepanjang lorong. Ia sempat melihat sekilas layar komputer besar yang menampilkan pesan singkat:
> [IDENTITAS: KIRANA KUSUMA – TERDETEKSI] [AKSES NODE SIGMA TERBANGUN 35%]
“Dia aktifkan sistemnya!” teriak Felicia dari balik ruangan. “Tangkap dia hidup-hidup!”
Kirana terus berlari. Napasnya memburu, tapi ia tak berhenti sampai berhasil keluar dari menara itu dan melompat ke dalam mobil Gio yang sudah menunggunya di luar.
“Gila, lo hampir mati, Kir!” teriak Gio sambil menancap gas.
Kirana memegang liontin yang kini berdenyut hebat. “Nggak... gue nggak mati. Gue nemuin dia.”
---
Malam itu, di rumah, setelah Icha tidur, Kirana menatap liontin itu lagi.
Cahaya birunya kini lebih stabil. Dari dalamnya terdengar suara lemah — samar, tapi jelas.
> “Kirana... jangan... biarkan mereka... selesai...”
Air mata Kirana menetes. “Aku denger kamu, Dit. Aku janji... aku bakal nyelam ke sana dan bawa kamu pulang.”
Di luar rumah, angin malam berembus kencang, membawa bau logam dan ozon.
Dan di laboratorium Sigma Tower, Felicia menatap layar yang kini menampilkan wajah Kirana dalam rekaman keamanan.
“Selamat datang kembali di permainan, Kirana,” katanya pelan, dengan senyum yang tak lagi manusiawi.
> “Kau menyalakan kembali perang antara cinta... dan kekuasaan.”
---
Kalimat penutup bab:
> “Dalam dunia di mana cahaya bisa menipu, hanya hati yang mampu menemukan kebenaran.”
Kirana tidak bisa tidur malam itu. Suara Radit yang samar dari liontin terus terngiang, membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Ia duduk di lantai kamar, laptop terbuka di depannya, mencoba menganalisis kembali rekaman kamera tersembunyi yang diam-diam diambil Gio saat penyusupan tadi siang.
“Node Sigma... Subjek Kusuma... sinkronisasi tahap dua…” gumamnya. “Berarti Radit belum sepenuhnya kembali, tapi juga belum sepenuhnya hilang.”
Tangannya gemetar ketika menyentuh liontin yang kini menyala lembut — seolah merespons pikirannya. “Apa kamu bisa dengar aku, Dit?” bisiknya.
> [S...i...g...m...a...]
[H...a...n...c...u...r...]
Suara itu makin lemah, kemudian hilang sama sekali. Kirana menunduk, menahan air mata. “Tunggu aku. Aku bakal nyelam ke dunia lo, apapun caranya.”
---
Keesokan paginya, ia menemui Gio lagi. Pria itu tampak kelelahan, dengan lingkar mata yang makin gelap.
“Lo sadar nggak, Kir, yang lo hadapi sekarang bukan cuma Ward Technova. Ada tangan militer di belakang proyek ini,” kata Gio serius. “Mereka bukan sekadar bikin sistem AI. Mereka berusaha bikin kesadaran manusia digital—tentara yang nggak bisa mati.”
Kirana menatapnya tajam. “Dan Radit... dijadikan percobaan pertama?”
Gio mengangguk pelan. “Iya. Dia jadi blueprint-nya. Makanya Felicia nggak akan ngebolehin lo nyentuh sistem itu. Kalau Node Sigma aktif penuh, Radit bukan cuma ‘hidup’ lagi dia bisa jadi sesuatu yang nggak manusia.”
Kirana berdiri, menatap keluar jendela bengkel yang dipenuhi kabut pagi. “Kalau gitu, aku harus nyelam sebelum mereka nyelesaikan sinkronisasi tahap dua. Sebelum dia kehilangan dirinya sendiri.”
“Nyelam?” Gio menatapnya kaget. “Lo nggak serius kan? Nyelam ke sistem digital? Itu sama aja kayak bunuh diri, Kir!”
“Tapi itu satu-satunya cara buat nyelamatin dia.”
---
Siang harinya, Kirana kembali ke rumah dan menatap Icha yang sedang bermain puzzle di ruang tamu. Hatinya mencelos. Ia tahu, keputusan yang akan diambilnya berbahaya.
“Icha, kalau nanti Ibu harus pergi sebentar, kamu jangan takut, ya?” ucapnya lembut.
Anak kecil itu menatapnya polos. “Pergi ke mana, Bu?”
Kirana tersenyum, berusaha menahan getar suaranya. “Ke tempat Ayah.”
---
Malam itu, di bengkel Gio, mereka menyiapkan alat yang disebut Neuro-Link Prototype perangkat lama peninggalan Radit yang dulu dibuat untuk eksperimen koneksi otak-ke-jaringan.
“Begitu kamu masuk, waktu berjalan beda di sana,” jelas Gio dengan nada berat. “Sepuluh menit di dunia nyata bisa berarti berjam-jam di dunia digital. Kalau kamu gagal keluar dalam waktu 30 menit, koneksi kamu bisa putus selamanya.”
Kirana hanya mengangguk. “Nggak ada pilihan lain.”
“Lo sadar, kan? Kalau Radit udah bukan orang yang sama—”
Kirana menatapnya tegas. “Dia suamiku. Gue bakal temuin dia, meskipun dia udah berubah jadi apapun.”
Gio menelan ludah. “Baiklah. Begitu sistem aktif, lo bakal masuk lewat gelombang sinkronisasi dari liontin itu. Itu pintu satu-satunya ke Node Sigma.”
Kirana berbaring di kursi logam. Perangkat berbentuk lingkaran dipasang di kepalanya, dan liontin diletakkan tepat di atas d**a.
“Hitung mundur dari lima,” kata Gio dari meja kontrol.
“Lima...” bisik Kirana. “Empat... tiga... dua... satu—”
Cahaya biru menyilaukan ruangan. Denyut jantung Kirana meningkat drastis, lalu tubuhnya perlahan kaku.
> [KONEKSI DIMULAI]
[AKSES NODE SIGMA: 68%]
---
Kirana membuka mata. Dunia di sekelilingnya berubah. Ia berdiri di sebuah ruang putih luas, tanpa ujung, dengan potongan kode yang melayang di udara seperti serpihan kaca.
“Di mana... ini?” suaranya menggema, tanpa arah.
Lalu dari kejauhan, sosok bayangan muncul. Tinggi, tegap, tapi dengan wajah kabur seperti manusia yang setengah terbentuk dari cahaya.
“Kirana...” suara itu bergema, pelan tapi berat.
Kirana menatapnya tak percaya. “Radit?”
Sosok itu tersenyum samar. “Kamu nggak seharusnya ke sini...”
“Lo masih hidup, Dit! Gue tahu lo denger gue!” seru Kirana. “Gue datang buat nyelamatin lo!”
“Terlambat,” jawab Radit. “Mereka sudah mulai menyalin kesadaranku. Sebentar lagi aku bukan aku lagi.”
Kirana maju, mencoba menyentuh tangannya, tapi tubuh Radit berubah jadi cahaya dan menghilang sesaat sebelum ia sempat mendekat.
> [SINKRONISASI: 82%]
“Radit! Jangan pergi!” teriak Kirana.
Namun ruang putih itu mulai retak seperti kaca, dan dari celah-celahnya muncul sosok-sosok lain tiruan Radit, dengan wajah dingin dan mata kosong.
“Unit 1-3 aktif,” suara Felicia terdengar dari atas, seolah berasal dari langit. “Sambut tamu kita, Kirana Kusuma.”
Kirana mundur, tubuhnya bergetar, tapi matanya menyala dengan tekad. “Kalau lo pikir gue bakal takut, Felicia, lo salah besar.”
Ia menggenggam liontin yang kini menyala semakin terang. “Selama cinta gue ke Radit belum padam, lo nggak akan menang.”
---
> “Cinta bisa jadi kekuatan... atau kutukan. Tapi bagi Kirana, cinta adalah jalan pulang.”