Bab 3: Antara Nyawa dan Kode

1559 Words
Udara di dunia digital itu terasa berbeda bukan benar-benar udara, tapi semacam denyut energi yang menyentuh kulit seperti listrik statis. Kirana berdiri di tengah ruang putih yang kini mulai berubah menjadi kota yang tak asing baginya: Bandung, tapi dalam bentuk digital bangunan seperti hologram, langit berwarna keperakan, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya biru. “Ini... dunia kamu sekarang, Dit?” bisiknya pelan. Suara langkah terdengar dari belakang. Kirana menoleh cepat, bersiap dengan napas tercekat. Bukan Radit. Sosok pria dengan wajah Radit, tapi matanya kosong seperti kaca. Kulitnya tampak transparan, menampilkan serpihan kode di bawahnya. “Unit-1. Target: Kirana Prameswari,” suara datar itu bergema. “Lo bukan dia,” desis Kirana, melangkah mundur. “Lo cuma... tiruannya.” Unit itu mengangkat tangan, dan seketika gelombang energi biru meluncur ke arah Kirana. Ia berguling ke samping, hampir kehilangan keseimbangan. > [SINKRONISASI: 86%] Suara sistem bergema di udara, membuat d**a Kirana semakin sesak. Ia tahu, semakin tinggi persentase itu, semakin sedikit waktu yang tersisa sebelum Radit hilang selamanya. “Radit!” jeritnya. “Denger aku!” Tak ada jawaban. Hanya resonansi suara mekanis dari entitas yang terus mendekat. Kirana menatap liontin di dadanya, lalu menggenggamnya erat. “Aku nggak datang sejauh ini buat kalah.” Liontin itu menyala semakin terang, dan dari cahayanya muncul semacam medan pelindung, menangkis serangan energi berikutnya. Tapi energi itu bukan hanya pertahanan melainkan jembatan ke kesadaran Radit yang tersisa di dalam sistem. Tiba-tiba, suara lirih muncul di kepalanya. > “Kir... jangan... di sini bahaya...” “Gue nggak pergi sebelum lo pulang!” balas Kirana keras. “Lo denger gue, Dit? Lo harus lawan sistemnya!” Seketika, ruang digital di sekelilingnya bergetar. Sosok Unit-1 berhenti menyerang, matanya tiba-tiba berkedip seolah sesuatu di dalamnya terganggu. Dalam sekejap, ekspresi datar itu berubah menjadi... sedih. “Kirana?” suara Unit-1 bergetar. “Aku...” Kirana menatapnya, napas tercekat. “Radit?! Itu lo?!” “Terlalu... berat...” Suara itu pecah seperti interferensi sinyal. “Mereka... menyalin semua ingatan gue... mereka jadikan gue senjata...” > [SINKRONISASI: 90%] Lantai holografik di bawah mereka mulai retak. Suara alarm menggema di langit digital. Dan dari kejauhan, muncul Felicia bukan dalam bentuk fisik, tapi avatar digital berwarna perak dengan mata merah menyala. “Selamat datang di akhir permainan, Kirana,” ucapnya datar. “Kamu nggak bisa selamatin sesuatu yang sudah jadi milik kami.” “Lo udah gila, Felicia!” balas Kirana. “Radit bukan objek eksperimen lo!” Felicia tersenyum tipis. “Dia bukan lagi manusia. Dia kode. Dan kode tidak punya perasaan.” Tiba-tiba, Felicia menjentikkan jarinya. Puluhan tiruan Radit muncul di sekeliling Kirana, membentuk lingkaran rapat. Mereka bergerak serentak, seperti cermin yang terkoordinasi sempurna. Kirana menggigit bibir, keringat dingin menetes di pelipisnya. “Oke... kalau dunia ini cuma kode... gue juga bisa lawan lo dengan cara lo.” Ia menutup mata, mengingat suara Radit yang dulu sering bicara tentang "kode adalah bahasa pikiran". Dan saat ia fokus, liontin di dadanya bereaksi mengirimkan gelombang data biru ke seluruh ruang. Ruang digital mulai bergetar. Tiruan-tiruan itu terhenti, seperti program yang crash. > [Koneksi emosional terdeteksi] [Sistem mulai tidak stabil] Felicia memaki pelan. “Apa yang kamu lakukan, Kirana!?” Kirana membuka mata, pupilnya kini memantulkan cahaya biru. “Gue nggak cuma manusia biasa, Felicia. Gue koneksi terakhir yang dia percaya.” Felicia melangkah mundur. “Tidak mungkin...” Dari balik keretakan sistem, sosok Radit muncul lagi kali ini lebih jelas, dengan tubuh yang hampir utuh. Cahaya di sekelilingnya berdenyut lembut, menandakan sisa kesadarannya yang mulai kembali. “Kir... kamu... datang beneran...” suaranya serak tapi hangat. Kirana menahan air mata. “Aku janji bakal nemuin kamu, Dit.” Felicia menjerit, “Tidak! Sinkronisasi harus selesai!” > [SINKRONISASI: 97%] Radit menatap Kirana, lalu berbisik, “Kalau aku nggak bisa keluar... kamu yang harus keluar. Sekarang!” Kirana menggeleng keras. “Nggak! Gue nggak ninggalin lo!” “Terlalu terlambat!” seru Felicia. “Node Sigma akan ditutup dalam 60 detik!” Ruang digital mulai runtuh. Bangunan hologram ambruk, langit perak berubah menjadi pusaran hitam besar. Kirana berlari menuju Radit, tapi serpihan data beterbangan seperti badai. “Aku sayang kamu, Kirana!” teriak Radit, mendorongnya dengan kekuatan terakhirnya. Cahaya biru dari liontin menyala menyilaukan segalanya. > [KONEKSI TERPUTUS] [SINKRONISASI GAGAL 98%] --- Kirana terbangun di kursi logam di bengkel Gio, tubuhnya gemetar hebat. Alarm mesin berbunyi nyaring, dan Gio berusaha mencabut kabel dari kepalanya. “Lo gila, Kirana! Lo hampir mati!” serunya panik. Kirana menarik napas berat, air mata masih mengalir di pipi. “Dia masih di sana... tapi gue ganggu proses sinkronisasi. Radit belum sepenuhnya hilang.” Gio menatapnya khawatir. “Dan lo mau masuk lagi?” Kirana menatap liontin di tangannya yang kini redup, tapi masih berdetak pelan seperti jantung. “Ya,” katanya lirih. “Karena cinta gue belum selesai.” --- Kalimat penutup bab: > “Cinta yang sejati tak berhenti di batas dunia. Kadang, ia menembus jaringan dan waktu, mencari jalan untuk pulang.” Suasana bengkel masih kacau kabel berserakan, layar monitor berkelip-kelip menampilkan pesan kesalahan sistem. Gio berjalan mondar-mandir sambil menatap layar yang penuh dengan data mentah dan grafik menurun. “Lo sadar gak, Kirana? Proses yang barusan lo jalanin itu hampir ngebakar otak lo dari dalam,” katanya serius. “Otak manusia gak dirancang buat konek langsung ke jaringan hybrid kayak gitu.” Kirana masih terengah, tapi matanya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. “Gue gak peduli, Gio. Gue udah lihat dia. Gue udah dengar suaranya. Berarti dia masih di sana.” Gio menatapnya tak percaya. “Radit bukan cuma ‘di sana’. Kesadarannya udah terpecah di antara ribuan node sistem Felicia. Bahkan kalau lo masuk lagi, lo gak bakal tahu bagian mana yang masih bener-bener dia.” Kirana menggenggam liontin itu lebih kuat. “Gue bakal tahu. Gue selalu tahu.” Gio menghela napas berat, lalu duduk di kursi besi berderit. “Kadang gue bener-bener lupa, lo bukan cuma istri bos perusahaan teknologi paling jenius di negeri ini... lo juga sama gilanya.” Kirana tersenyum samar. “Cinta bikin orang ngelakuin hal gila, Gio.” Seketika suasana hening. Hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar. Di layar utama, tiba-tiba muncul satu baris teks berkedip: > [DATA FRAGMENT TERDETEKSI – IDENTITAS: R.KUSUMA] [LOKASI: NODE ALPHA_07] [STATUS: TERKUNCI] Gio menatap layar dengan mata membesar. “Tunggu, itu... Radit?” Kirana langsung berdiri. “Berarti dia masih hidup di sistem!” “Tapi Node Alpha_07 itu server paling dalam dari jaringan Felicia. Itu inti kontrolnya. Kalau lo nyentuh itu tanpa firewall kuat, lo bisa lenyap,” jelas Gio dengan nada panik. “Gue gak peduli,” jawab Kirana tegas. “Lo bantu gue nyiapin koneksi kedua.” “Kirana—” Gio mencoba menghentikannya, tapi perempuan itu sudah lebih dulu mengenakan kembali konektor di pelipisnya. Sebelum masuk lagi, ia menatap Gio dengan mata berkilat. “Kalau gue gak balik dalam satu jam, matiin semua sistem. Jangan coba selamatin gue.” “Lo sadar, ini bisa bunuh lo?” Kirana tersenyum kecil. “Nyawa gue udah setengahnya mati waktu Radit pergi.” --- Gelombang cahaya menyelimuti pandangannya lagi. Dunia digital menyambutnya dengan suara dengungan rendah seperti mesin raksasa yang hidup. Kali ini bukan Bandung holografik tapi ruang hitam tak berujung, penuh aliran data seperti sungai bercahaya. Langkahnya bergema. > [NODE ALPHA_07 – SISTEM TERTUTUP] [AKSES ILEGAL TERDETEKSI] “Lo pikir gue takut?” bisik Kirana pada sistem yang tak terlihat. Tiba-tiba, sosok hologram Felicia muncul lagi lebih besar, lebih kuat, nyaris seperti dewi data. Rambut digitalnya melayang, dan suaranya menggema dengan efek mekanis. “Kenapa kamu gak menyerah saja, Kirana?” ucapnya. “Setiap kali kamu masuk, kamu kehilangan sedikit ingatan. Nanti, kamu bahkan gak ingat siapa kamu.” Kirana melangkah maju, tanpa gentar. “Selama gue masih ingat siapa yang gue cintai, itu cukup.” Felicia mengangkat tangan, menciptakan badai energi yang membuat kode di sekitar Kirana beterbangan. Tapi liontin di d**a Kirana kembali menyala, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Dari dalam cahaya itu muncul bayangan Radit tidak sempurna, tapi cukup untuk membuat Kirana menangis. “Kir... kamu... beneran balik?” suara Radit lemah tapi nyata. “Gue janji gak bakal ninggalin lo sendirian di sini,” jawab Kirana lirih. Felicia menjerit kesal. “Dia bukan lagi Radit! Dia cuma potongan kode!” “Kalau cinta bisa nembus sistem lo, berarti dia masih manusia,” balas Kirana tajam. > [KONEKSI EMOSIONAL TERBENTUK – SISTEM TIDAK STABIL] [POTENSI REKONSTRUKSI KESADARAN: 32%] Radit berusaha mendekat, tapi tubuhnya pecah menjadi partikel cahaya. Kirana berlari, menggapai, dan kali ini, tangan mereka saling menyentuh untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai. Ledakan cahaya biru memenuhi ruang itu. --- Kirana terbangun lagi di dunia nyata. Napasnya terengah-engah, tapi kali ini matanya terbuka lebar menatap liontin di tangannya. Cahaya di dalam liontin itu tak lagi acak. Denyutnya stabil... seperti detak jantung. Gio memandang layar di depannya dengan wajah tak percaya. “Kirana... lo berhasil. Satu fragmen kesadaran Radit kebawa keluar.” Air mata mengalir di pipinya. “Berarti... dia masih bisa kembali, kan?” Gio menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Mungkin... tapi itu berarti perang baru bakal dimulai.” Kirana tersenyum, meski tubuhnya lemah. “Gue gak takut perang. Selama tujuannya buat bawa dia pulang.” --- Kalimat penutup tambahan: > “Kadang cinta bukan soal bertahan di dunia nyata. Tapi tentang berani melawan sistem yang berusaha menghapus maknanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD