I'll Let You Feel It Later

1100 Words
Happy Reading . . . *** Noel memberhentikan motornya di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat terawat. Setelah Noel memarkirkan motornya, ia melangkahkan kaki memasuki bangunan tersebut dengan melewati sebuah halaman yang mungkin beberapa dari mereka sedang melakukan terapi penyembuhan yang ditemani oleh masing-masing perawat. Lalu Noel berjalan menuju kamar yang sudah sangat ia ingat di luar kepalanya krena Noel selalu mendatangi tempat itu setiap Minggunya. Namun, ketika Noel ingin memasuki kamar tersebut dari kejauhan ia melihat seseorang yang ingin ia temui sedang disuapi oleh seorang perawat di taman yang terletak di samping kamarnya. Dengan senyuman yang terbit di wajahnya, Noel segera menghampiri seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi roda itu. Ketika Noel sudah sampai, ia langsung meminta kepada perawat agar Noel saja yang menyuapi seseorang tersebut. Setelah perawat itu memberikan piring yang masih berisi makanan, perawat itu segera undur diri dan meninggalkan Noel. Setelah beberapa saat perawat itu pergi, Noel langsung menarik tangan yang terasa semakin kecil ke dalam genggamannya. "Apa kabar hari ini, Ma?" tanya Noel kepada wanita yang sangat ia cintai di hadapannya itu. Ya. Dia adalah Darla, Ibu kandung Noel Dimitri. Sosok wanita yang sangat berarti bagi Noel. Wanita yang selalu ceria, lemah lembut, ditambah lagi kecantikannya yang selalu terpancar membuat Darla menjadi seorang Ibu yang sangat sempurna bagi Noel. Tetapi itu dulu, sebelum Andrew yang menghancurkan Darla hingga tidak tersisa. Sampai pada akhirnya Darla berada di rumah sakit jiwa tersebut. Salah satu hal yang membuat Noel sangat membenci Ayahnya. Dan mengenai Darla yang mengalami gangguan jiwa, tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Sahabat Noel, kekasihnya, bahkan Andrew sendiri pun tidak mengetahui hal itu. Mereka semua menganggap jika Darla sudah pergi untuk selama-lamanya. Noel hanya tidak ingin jika orang-orang terdekatnya mengetahui hal itu, dia dan Ibunya justru dikasihani. Karena Noel tidak menginginkan hal tersebut, maka dengan sengaja ia menyembunyikan keberadaan Darla di sana selama 5 tahun lamanya. "Ma, Noel kangen banget sama Mama. Mama cepet sembuh ya. Noel kangen dimasakin sama Mama, Noel juga kangen dengar suara Mama yang selalu nasihatin Noel karena nggak bisa beresin kamar Noel sendiri. Noel kangen masa-masa itu, Ma. Memangnya Mama nggak kangen sama Noel?" seru Noel sambil mengelus tangan Darla. Kalimat itu selalu Noel katakan setiap ia mendatangi sang Ibu walau hanya untuk sekedar menjenguk atau pun melihat kondisi perkembangan Darla. Tetapi rasanya Noel sudah pasrah, kondisi Darla dari hari ke hari seperti sama saja. Tidak ada perubahan yang dialami Darla. Yang hanya dilakukan Darla hanyalah duduk dan selalu memandang ke arah atas dengan pandangan kosong. "Cepet sembuh ya, Ma. Noel selalu nungguin Mama buat sembuh," ujar Noel sambil mengusap pipi sang Ibu yang terlihat semakin tirus. Dulu pipi yang selalu Noel cium dan Noel usap tidak se-tirus seperti saat ini. Karena tekanan batinlah yang membuat Darla menjadi berubah, baik fisik dan jiwanya. Setelah melepaskan rasa rindunya, Noel kembali menyuapi sang Ibu. Walaupun menyuapi Darla membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi Noel tetap senang. Setidaknya Darla masih bisa menghabiskan satu porsi makanannya. Tidak lama setelah Noel memberikan suapan terakhir kepada sang Ibu, perawat yang mendampingi Darla datang kembali untuk membawa Darla masuk ke dalam kamarnya karena sudah waktunya Darla untuk beristirahat. "Ma, Noel pulang dulu ya. Besok kalau Noel nggak ada kegiatan tambahan di sekolah, Noel ke sini lagi. Cepat sembuh ya, Ma. Noel sayang Mama," ujar Noel lalu ia mencium kening dan kedua pipi Darla. Lalu perawat pun langsung mendorong kursi roda meninggalkan taman tersebut. Setelah Noel melihat sang Ibu sudah masuk ke dalam kamarnya, ia bergegas meninggalkan rumah sakit jiwa itu. Karena setelah ini ia sudah ada janji untuk bertemu dengan sang kekasih, Ally. *** Hujan pun berhenti, dan saat itu juga Jade melangkahkan kakinya keluar dari toko buku. Ia baru saja membeli sebuah buku yang berisi soal-soal latihan. Kurang dari satu bulan lagi Jade akan menghadapi ujian akhir yang akan menentukan ia akan lulus atau tidak dari sekolahnya. Maka dari itu Jade harus berjuang agar ia bisa lulus dan membanggakan sang Ibu yang dulu telah berjuang untuknya walaupun sudah tidak ada. Setelah pulang sekolah tadi, langit terlihat sedikit gelap seperti akan turun hujan. Jade sengaja membelokkan sepedanya ke arah toko buku karena ia tahu sebentar lagi akan turun hujan. Selagi ia menunggu hujan berhenti, ia juga sekalian ingin membeli buku soal-soal latihan. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan buku sesuai dengan keinginan, namun harganya yang juga sedikit miring. Itu pun Jade harus rela mengorbankan sedikit uang tabungan agar ia bisa melatih dirinya untuk menghadapi ujian yang akan datang. Setelah keluar dari toko buku, Jade segera melangkahkan kaki menuju sepeda miliknya yang terparkir di depan toko buku tersebut. Jade harus segera pulang karena hari sudah mulai gelap. Tetapi ketika Jade baru saja melangkahkan kakinya, dari kejauhan ia bisa melihat Ally yang sedang menggandeng tangan Noel sedang berjalan mendekatinya. "Ehh... ada upik abu. Ngapain lo di sini?" tanya Ally ketika ia sudah berada di hadapan Jade. "Aku habis beli buku." "Beli buku? Buku apaan? Liat dong." "Tidak perlu Ally. Aku cuma beli buku biasa saja. Jadi kamu tidak perlu melihatnya," balas Jade sambil menyembunyikan kantong plastik yang berisi buku itu di belakang punggungnya. "Pelit banget sih lo! Gue cuma pengen liat doang itu buku apaan," ujar Ally sambil mencoba merebut kantong plastik yang masih Jade sembunyikan di belakang punggungnya. "Tapi ini cuma buku biasa, Ally." "Sayang, udahlah ngapain sih kamu ngurusin banget dia beli buku apa." sela Noel saat melihat aksi Ally itu. "Sayang, aku tuh cuman pengen mastiin saja dia itu nyuri atau nggak?" "Aku nggak nyuri. Aku beli buku ini." "Yaudah, makanya sini gue liat dulu. Itu buku hasil nyuri atau bukan?" Ally tetap memaksa untuk merebut kantong plastik itu dengan menarik-nariknya. Hingga pada akhirnya kantong plastik yang ditarik pun sobek dan buku yang berada di dalamnya terjatuh ke dalam genangan air yang berada di dekat kaki Jade. "Akhirnya jatuh juga. Itu yang gue mau dari tadi," ujar Ally yang langsung menarik tangan Noel dan meninggalkan Jade yang masih diam terpaku atas keterkejutan kejadian itu. "Kenapa kamu begitu jahat, Ally?" bisik Jade dengan lirih sambil berjongkok dan mengambil buku yang sebagian sisinya sudah basah dan kotor. Setelah mengambil buku itu, Jade segera membawanya ke sepeda dan menaruh buku tersebut ke dalam keranjang depan sepedanya. Ia harus segera sampai di rumah agar bisa secepatnya mengeringkan buku itu di depan kipas angin. Ia hanya bisa berharap jika kertas di dalamnya tidaklah sobek dan tulisannya pun juga masih terlihat jelas. Jika harus membeli buku yang baru lagi, rasanya Jade harus berpikir dua kali untuk menggunakan tabungan miliknya. Karena ia tidak ingin membuang-buang tabungan miliknya yang tidaklah banyak. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD