I'm Victim Of Your Past

1428 Words
Happy Reading . . . *** Noel memarkirkan motor sport kesayangannya tepat di depan rumah. Noel selalu sampai di rumah setelah ia pulang dari sekolah saat hari sudah sedikit gelap. Ia memang sengaja melakukan hal itu walaupun sekolah tidak ada kegiatan sampai sore hari, Noel tetap memilih pulang ke rumah saat hari sudah gelap. Rasanya ia tidak ingin menginjakkan kakinya pada sebuah bangunan megah yang disebut sebagai rumah tetapi bagi Noel itu adalah neraka. Noel melangkahkan kaki memasuki rumah dengan malas. Biasanya ketika Noel memasuki rumah, ia selalu di sambut dengan kegelapan karena tidak ada satu pun lampu yang menyala. Itu semua karena di rumahnya tidak ada maid yang menjaga. Walaupun ada maid, para maid hanya akan dipekerjakan satu Minggu sekali untuk membersihkan rumah. Noel tidak suka jika di rumahnya terdapat banyak orang setelah kejadian masa lalu yang menimbulkan trauma sendiri bagi Noel. Tetapi hal itu tidak terjadi saat ini, Noel di sambut dengan lampu yang menyala di setiap sudut, terutama di ruang tamu. Noel tahu siapa yang datang ke rumah, pasalnya Noel sangat tahu jika seseorang yang sangat ia benci hanya ingat pulang ke rumah jika orang itu menginginkan sesuatu dari Noel. "Akhirnya kamu pulang juga. Papa sudah menunggumu sejak tadi. Kenapa pulangnya sore sekali? Apa ada kegiatan sampai sore hari di sekolah?" tanya seorang pria yang sangat dibenci Noel yang tidak lain adalah Ayah kandungnya sendiri, Andrew Dimitri. "Ada apa lagi? Sudah cepetan ngomong saja apa mau lo?" balas Noel dengan santai seakan-akan ia sedang berbicara dengan temannya sendiri. "Noel, saya ini Papa kamu. Apa di sekolah kamu tidak diajarkan sopan santun sehingga kamu berani berbicara seperti itu kepada orangtua kamu sendiri?" Setelah mendengar ucapan tersebut, Noel langsung tertawa dengan keras seakan-akan ia baru saja mendengar sebuah lelucon. "Gue kira lo sudah nggak nganggep gue sebagai anak lo." "Noel, sudah berkali-kali Papa minta kepadamu untuk melupakan hal itu?" "Sudah cepetan ngomong apa mau lo? Gue capek dan pengen cepet-cepet tidur." "Papa langsung ke intinya saja ya. Papa ingin memasukkan Noah ke sekolah yang sama denganmu." "Apa?" "Iya, Papa ingin kamu dan Noah bisa saling mengenal dan bisa lebih dekat lagi layaknya sesama saudara pada umumnya." Suasana hati Noel sedang tidak baik, ditambah lagi dengan kedatangan Andrew beserta seseorang yang bernama Noah. Orang itu adalah sasaran kedua yang akan Noel bunuh setelah Andrew, jika suatu saat nanti ia sudah kehilangan akal sehatnya. "Ngapain sih masukin anak haram itu ke sekolah yang sama kaya gue? Kaya nggak ada sekolahan lain aja. Lagian dia 'kan anak emas lo, masa mau disekolahin di tempat jelek kaya gitu. Kasihan, nanti dia alergi lagi." Sindir Noel sambil melihat Noah yang sedang tertunduk di sofa ruang tamu dengan pandangan malas. "Noel cukup! Papa tidak bisa mentolerir lagi jika kamu terus menerus berbicara tidak sopan seperti itu." "Trus kalo gue nggak mau ngomong dengan sopan lagi, lo mau apa? Mukulin gue lagi, ngunciin gue di gudang, atau mau coba bunuh gue sekalian?" "Noel kamu bisa dengar kata-kata Papa tidak?" "Gini ya. Kalo lo mau dihormatin sama orang yang lo sebut sebagai anak, seharusnya dulu lo ngasih contoh yang baik ke dia. Bukanya malah lo perlakuin kayak binatang peliharaan,". "Dan satu lagi, gue nggak mau anak haram itu masuk ke sekolah yang sama kaya gue. Dan gue nggak mau denger alasan apapun dari mulut lo itu. Jadi sekarang lo dan anak haram lo itu bisa pergi dari sini," balas Noel dengam cukup jelas lalu ia langsung meninggalkan Andrew yang masih terdiam. Flashback On... "Ampun Pa! Noel janji tidak akan mengulanginya lagi," pinta bocah berumur 7 tahun sambil berlinang air mata. "Sudah berapa kali Papa katakan? Jangan pernah mengganggu Papa dan masuk-masuk ke ruang kerja Papa!" seru Andrew sambil terus memukuli Noel dengan penggaris panjang yang terbuat dari kayu. "Noel hanya ingin meminjam pensil Papa," balas Noel dengan sambil memeluk dirinya sendiri. "Kamu tidak mengerti ucapan Papa. Maka dari itu kamu harus dihukum!" ujar Andrew yang semakin keras memukuli Noel hingga membuat tubuh anaknya itu bergetar ketakutan. "Andrew! Apa yang kamu lakukan?" seru Darla yang tiba-tiba datang dan membuka pintu ruangan itu dengan kencang. "Seharusnya hukuman-hukuman yang pernah kuberikan dapat membuat jera anakmu ini." "Kemarilah sayang," ujar Darla sambil menarik Noel ke dalam pelukannya dan menenangkan anaknya yang masih menahan kesakitan dan sesenggukkan. "Dia juga anakmu Andrew. Anak kandungmu, bukan anak haram-mu! Apakah kamu juga memperlakukan hal yang sama kepadanya seperti yang kamu lakukan kepada Noel?" sambung Darla. "Apa kamu tahu hal yang akan kamu dapatkan setelah dengan lancangnya kamu berbicara seperti itu?" tantang Andrew. "Aku tidak pernah takut denganmu!" balas Darla yang semakin menantang dan menatap tajam Andrew. Dan tanpa ragu lagi, Andrew langsung menampar dengan kencang kedua pipi Darla yang membuat Noel menjerit ketakutan. "Katakan sekali lagi!" "Kamu adalah pria terbajingan Andrew!" Andrew yang semakin ditantang pun langsung mendorong tubuh Darla hingga pelukannya dengan Noel langsung terlepas. Lalu pria itu tidak segan-segan juga untuk memukuli istrinya itu. Noel yang melihat itu berusaha untuk menghentikan aksi Ayahnya itu dengan menarik-menarik pakaian Andrew. Ia tidak ingin jika Ibunya itu sampai disakiti. "Pa, jangan pukul Mama. Pukul Noel saja, Pa!" "Diam kamu!" "Pa, pukul Noel saja Pa!" Mendengar rengekkan-rengekkan itu, Andrew pun melempar penggaris kayu yang ia pegang dan langsung menarik leher Noel. Pria itu menyeret tubuh bocah itu hingga membuat anaknya kesulitan bernafas. "Andrew! Hentikan itu!" teriak Darla dari belakang yang melihat tubuh anaknya yang sedang dicekik dan diseret keluar dari ruangan itu. Sedangkan Andrew yang mendengar teriakan-teriakan itu malah semakin mengeratkan cekikannya dan mempercepat langkahnya. Dan setelah sampai di gudang, Andrew langsung melempar tubuh Noel ke dalam gudang yang gelap dan menguncinya di dalam sana. Hal-hal seperti itulah yang Noel dapatkan jika ia tidak mematuhi setiap ucapan Andrew. Sedikit saja kesalahan maupun yang disengaja atau tidak, Noel akan selalu mendapatkan kekerasan dari Andrew. Pria itu terlalu keras dalam mendidik anaknya, hingga pada saat sudah beranjak besar anak tersebut tidak memiliki respect kepada pria yang bahkan orangtuanya sendiri. Flashback Off... *** Keesokkan harinya, Noel pun datang ke sekolah dengan perasaan yang sangat tidak bersemangat. Kejadian kemarin benar-benar membuat mood-nya sampai saat ini masih terasa sangat buruk. Di tambah lagi kekasihnya, Ally yang masih marah dengannya karena kejadian Jade yang terjatuh kemarin. Setelah Noel memarkirkan motornya, ia melangkahkan kaki menuju kantin yang jaraknya tidak jauh dari lapangan parkir sekolah. Setiap pagi Noel dan kedua sahabatnya mempunyai ritual tersendiri, yaitu mereka selalu singgah sebentar di kantin untuk sekedar sarapan atau pun ngobrol sebelum mereka masuk ke kelas. Namun baru saja Noel melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Jade muncul di hadapan Noah dan menghalangi jalannya. "Ngapain sih lo ngalangin jalan gue?" tanya Noel dengan ketus kepada Jade. "Hhmm... aku cuman mau balikin ini ke kamu," balas Jade sambil mengambil sapu tangan milik Noel dari dalam tas lalu langsung ia ulurkan kepada Noel. "Bukannya kemaren gue sudah bilang? Sapu tangannya lo buang aja. Apa masih kurang jelas?" "Iya aku tahu. Tapi ini 'kan punya kamu, lagi pula sapu tangannya sudah aku cuci dan sudah nggak ada darahnya lagi. Jadi, aku bisa balikin ke kamu." "Terserah lo!" balas Noel singkat lalu ia langsung meninggalkan Jade dan melanjutkan langkahnya kembali menuju kantin. Setelah Noel sampai di kantin, dari kejauhan ia bisa melihat kedua sahabatnya yang sudah duduk di sana. Dengan langkah malas Noel menghampiri kedua sahabatnya dan langsung mendudukkan dirinya di samping Conrad. "Kenapa muka lo? Kusut amat," tanya Conrad ketika melihat sahabatnya datang-datang dengan wajah kusutnya. "Biasa," balas Noel singkat. "Kenapa? Semalem nggak dikasih jatah sama Ally?" timpal Conrad asal. "Sialan lo! Emang gue c***l kaya lo." "Trus kenapa, upik abu lagi?" "Bukan. Ehh... bisa jadi." "Atau karena bokap lo?" "Itu lo tahu." "Yaelah, berantem mulu lo sama bokap. Sekali-kali baikan 'napa," timpal Jared dengan asal sambil memakan kacang kulitnya. Noel yang mendengar ucapan Jared langsung mengambil setumpuk kulit kacang yang tidak jauh darinya dan langsung ia lemparkan tepat di wajah Jared. "Rese lo! 'Ntar kalau muka gue yang udah kelewat tampan ini rusak, gimana?" "Najis! Muka kaya tapir gitu saja dibangga-banggain," balas Noel yang kembali melempar kulit kacang ke wajah Jared. "Lempar aja terus! Lama-lama males gue temenan sama lo pada." "Yaelah, si anjing laut pake segala ngambek. Sudah kaya cewek saja lo kebanyakan baper," cibir Conrad. "Udah ah.. gue pengen ke kelas," ujar Noel yang siap berdiri dari duduknya. "Yaelah si bos kaku amat. Jam pertama nggak enak pelajarannya, mending kita duduk-duduk santai di sini." "Lo saja sana sama keluarga lo, gue sih nggak mau kalo sampe nanti nggak lulus." Setelah itu Noel langsung meninggalkan Conrad dan Jared menuju kelasnya. *** To be continued . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD