bab 10. Akal-akalan Laila

906 Words
"Kenapa ngajak aku kesini?" tanyaku saat Rangga berhasil 'menyeretku' ke tengah lapangan. Rangga menatapku lama. "Kamu enggak pernah diajarkan pelajaran kurang-kurangan di kelas ya?" tanya Rangga. Rangga yang mempunyai tinggi 180 senti itu membuatku harus mendongak menatapnya karena tinggiku yang 158 senti. "Hei kamu aneh. Salah makan? Atau kesurupan? Tiba-tiba tanya pelajaran matematika di lapangan basket? Ada apa sih?" tanyaku bingung. Rangga tersenyum. Dia manis. Ada lesung pipinya. Tapi entahlah, rasanya di hatiku sekarang sudah tertulis nama lain. Dulu aku memang sering memimpikannya menjadi kekasih. Tapi sekarang jelas berbeda. Rangga mau saltopun di hadapanku. I don't care anymore. "Tinggal jawab saja apa susahnya sih?" tanya Rangga memandangiku. Aku mendengus sebal. Nggak penting banget. "Aku diajari seluruh pelajaran matematika. Termasuk kurang-kurangan. Ada apa sih?" "Kamu jangan bohong La. Kamu bilang kamu diajari kurang-kurangan, tapi bagiku kamu tidak ada kurangnya tuh!" Aku melongo. Kan, ini aneh. Kemarin-kemarin mengucapkan selamat pagi, terus kemarin pergi. Ternyata pacaran sama Juleha. Kenapa sekarang dia jadi garangan lagi? "Oh ya. Aku seneng banget loh dirayu dengan laki-laki yang paling tampan di dunia," sahutku. Hidung Rangga sampai memerah dan kembang kempis. "Wah, beneran? Kamu menganggapku paling tampan di dunia?" tanyanya penasaran. Aku mengangguk. "Iya. Tentu saja. Tapi bukan di dunia yang aku tinggali!" sahutku lalu ngeloyor pergi meninggalkan Rangga. "Tunggu La, kamu mau kemana?" tanya Rangga menarik lenganku. Aku menoleh ke arahnya. "Bukannya kamu sudah punya pacar? Aku nggak mau jadi pelakor. Eh tapi aku pelakor sih sebenarnya. PEnyuka LAgu KORea. Lepasin Ngga. Aku nggak mau kalau sampai Juleha tahu." Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman tangan Rangga. "Aku sudah putus dari Juleha dan aku tahu kamu yang terbaik untukku. Aku tahu kamu mencintai aku kan?" Aku memutar bola mata jengah. Pede amat sih bocil satu ini. "Enggak tuh." "Bohong kalau kamu enggak mencintai aku, buktinya kamu dulu selalu kirim chat w******p tiap hari? Jadi izinkan aku jadi imam kamu, La?!" "Hahaha. Nggak usah jadi imam. Aku lagi menstruasi soalnya," sahutku sambil melepaskan tanganku dari tangan Rangga. "La, tapi tunggu La!" Rangga segera menghadang langkahku. "Apa sih mau kamu? Sebentar lagi masuk kelas nih! Aku harus belajar. Belajar mencintai matematika!" "Enggak. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu mau enggak jadi pacarku?!" tanya Rangga memaksa. "Kita temenan saja ya, Ngga?!" tawarku. Enak saja. Sekarang dia mendekatiku setelah dicampakkan oleh Juleha? Oh tidak semudah itu Fergusso! "Tapi temanku sudah banyak, La! Aku mau kamu jadi pacarku!" "Tapi pacarku juga banyak. Eh, nggak ding!" Aku menutup mulutku menyadari salah bicara. "Apa pacar kamu banyak? Tapi sepertinya kamu jomblo dari lahir sampai sekarang?" Sindir Rangga. "Aku memang jomblo. Tapi setidaknya aku tidak suka memPHPin orang lain. Lagipula kamu nembak aku untuk manas-manasin Juleha kan? Aku tahu dengan pasti. Kalau kamu mau manas-manasin, jangan sama aku, tuh sama oven!" "Kenapa kamu enggak mau jadi pacar aku?!" Aku berpikir sejenak. "Karena kamu terlalu baik, untukku!" "Aku bisa kok jadi begal!" Aku mendelik. "Kalau gitu, aku semakin enggak mau!" Aku berkacak pinggang lalu pergi meninggalkan Rangga yang terdiam di pinggir lapangan. "Ada apa sih Rangga tadi manggil kamu?" tanya Amelia kepo. "Mau tahu aja atau mau tahu bulet?" tanyaku nyengir. Amelia cemberut. "Ih, si Mamet jangan cemberut dong. Nanti cepet tua," tukasku lalu menceritakan apa yang Rangga katakan padaku di ruangan basket. "Wah, enggak tahu malu banget ya. Habis diputusin si Juleha mau nemplok ke kamu." Aku mengangguk dan sebelum sempat membuka mulut, bel tanda masuk kelas berbunyi. Kelas menjadi hening, saat pak Tarno, guru matematika memasuki kelas. "Baiklah, sekarang buka halaman 35!" Instruksi pak Tanto setelah membagikan buku PR kami. Aku dan Amelia pun melakukan perintah pak Tarno. "Sssst ... Sssst ...," bisik Amelia saat mengulurkan secarik kertas padaku. Aku menerimanya perlahan dan membukanya. Ternyata Amelia masih penasaran dengan dokter Marzuki. [Emang kamu kenapa gak mau lagi sama Rangga? Dulu kayaknya suka banget. Apa gara-gara dokter Marzuki?] [Iya. Dia itu muara cinta terakhirku.] Aku balik memberikan kertas Amelia seraya menoleh pada pak Tarno. Memastikan beliau tidak melihat aku dan Amelia yang saling bertukar nasib, eh bertukar kertas. [Memang dia seganteng apa sih? Kapan-kapan ajak ke rumah kamu ya. Terus ke puskesmas tempat dokter Marzuki kerja.] [Oke. Pokoknya dokter Marzuki itu wajahnya mirip Rey Mblayang. Biyuh sip.] Amelia tersenyum saat membaca tulisan balasanku. "Jadi berapa jawabannya X dan Y? Siapa bisa menjawab?" tanya pak Tarno dari arah depan kelas. "Siapa yang bisa jawab? Itu kenapa Amelia dan Layla cengar-cengir saat pelajaran saya?" Pak Tarno mendelik dan memandang kami. "Berapa jawabannya?" Aku dan Amelia berpandangan dan gugup. "Ayo Layla maju! Coba kerjakan di papan tulis!" Aku maju dengan berdebar. 'Gimana bisa mengerjakan, kalau aku dari tadi nggak memperhatikan," keluhku dalam hati. Dengan perlahan aku maju ke dekat papan tulis. Melihat angka-angka di depan kok rasanya enggak paham. Fiuh. Bingung. Ah, aku ada ide. Aku memegangi kepala yang memang merasa pusing karena soal matematika, lalu aku memejamkan mata dan berakting seolah pingsan. Brughhh. 'Duh, maafkan aku pak Tarno!' ** "Kok bisa sih kamu pingsan saat pelajaran matematika? Kamu sakit ya? Makanya sarapan dulu sebelum sekolah?!" Ibu mengomel panjang pendek sambil menyuapiku makan. Aku melirik ibu dengan takut-takut. Tentu saja aku memilih untuk berangkat pagi dan tidak sarapan agar tidak telat menyalin PR Amelia. "Sekarang kamu harus nurut sama ibu! Ayo ikut ke puskesmas. Periksa sama dokter Marzuki. Kalau perlu kamu harus suntik vitamin. Awas kalau gak mau. Ibu nggak mau ngasih uang ja...," Ucapan ibu terputus karena aku yang meloncat dari ranjang sambil memasang jilbab instan dan jaket. "Yuk, ke puskesmas sekarang, Bu!" Next?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD