bab 9. Permintaan Juleha

1072 Words
"Astaga, Kang. Maaf lupa. Saya gagal fokus. Duh, rasanya pingin nyemplung ke dandang ciloknya kang Mamat saja!" "Wah, jangan lah Mbak. Masak cantik-cantik masuk ke dandang cilok. Entar jadi siomay raksasa, Mbak." sahut kang Mamat tertawa. Dokter Marzuki pun tak urung juga ikut tersenyum simpul. 'Astaga Layla. Bikin malu saja. Kenapa sih harus gagal fokus.' "La, sudah belum beli ciloknya? Ayo pulang." Untung Bapak segera menyelamatkanku dari situasi yang canggung banget. "Ya sudah, Dokter. Saya pulang dulu. Adik cantik, mbak pulang dulu ya," pamitku lalu setelah dokter Marzuki dan anaknya mengangguk, aku segera berbalik dan melangkahkan kaki menjauhi gerobak kang Mamat. Tapi langkahku tertahan saat karena terasa ada yang menarik tali tas selempangku. "Dokter, tolong lepaskan tali tas saya," pintaku tanpa menoleh ke arah belakang. Duh, kok bisa sih dokter Marzuki sampai memegangi tasku. Apa dia masih ingin membicarakan sesuatu padaku atau memang tidak ingin berpisah dariku? Kepalaku penuh dengan pikiran berbunga-bunga. "Maksudnya apa Mbak Layla?" tanya dokter Marzuki seraya melewatiku. Aku mendelik. Loh, astaga! Jadi bukan dokter Marzuki yang memegangi tali tas selempangku? Lalu siapa? Aku menoleh ke belakang, dan tampaklah tali tas selempangku menyangkut pada paku yang tertancap di gerobak kang Mamat. Sementara itu si empunya gerobak cilok tampak mati-matian menahan tawanya yang ingin meledak. Astaghfirullah! Seandainya manusia bisa menyublim saja, aku pasti bisa mengatasi rasa maluku. *** "Hei, La. Sini aku mau ngomong!" Terdengar suara Juleha. Aku yang sedang menyalin tugas soulmate sebangku menoleh, "Apaan sih? Ganggu saja kamu." "Hm, sombong ya kamu. Mentang-mentang rumahnya paling dekat dengan dokter Marzuki aja belagu. Seharusnya kamu inget kemarin kamu nggodain Rangga!" 'Astaghfirullah.' Ingin rasanya aku ruqyah saja mulut si Julid itu. Eh, Juleha maksudnya. "Apaan sih Ju? Kalau kamu butuh ngomong sama aku, ya kamu yang kesini. Bukan aku yang kesana! Kesel amat dah!" Seruku keki. Juleha mencebik. Tapi tak urung juga dia mendekat padaku. Bersama soulmatenya, Ayu. Mereka berdua sudah persis panci dan tukang kredit. Tak pernah terpisahkan. Juleha menarik kursi dan duduk di hadapanku. "Aku mau minta tolong," katanya, terkesan galak dan judes. Aku mengalihkan pandanganku dari buku yang yang sedang kutulisi dan memandangnya. "Apaan sih? Nggak jelas banget! Apa seperti itu cara minta tolong?!" sindirku. "Eh La, jangan belagu deh kamu. Mentang-mentang jadi tetangga dokter Marzuki saja gayanya sok," timpal Ayu. Aku mendelik. Ingin berkata kasar tapi aku masih menjaga nama baik Bapak. "Eh, kalian enggak pernah diajari sopan santun ya? Kalian datang ke bangku aku, terus minta tolong dengan galak. Aneh banget. Tahu nggak sih? Terus dengerin ya, memang selama ini aku suka bercanda dan jarang marah, tapi kalau kalian sudah kelewatan, kalian akan tahu siapa Layla yang sebenarnya!" Seruku dengan tatapan membunuh. Ayu dan Juleha tampak kaget dan tak menyangka aku bisa galak. "Oh, oke. Sori deh La. Aku cuma mau minta tolong." Mendadak suara Juleha melembut seperti lelembut alias demit. "Ya sudah. Sekarang bilang saja. Kamu mau minta tolong apa?!" Juleha menjadi senyum-senyum. "Tolong comblangin aku sama dokter Marzuki." "Eh, ralat. Sama aku juga," timpal Ayu. Aku mendelik. "Eh, maksudnya gimana sih? Kalian berdua mau pendekatan sama dokter Marzuki? Yakin?! Atau kalian berdua mau jadi pacarnya secara bersamaan? Idih, kek nggak punya harga diri! Lagipula, yang naksir kalian kenapa aku yang jadi repot? Enak saja!" Ayu dan Juleha mendelik. "Bukan gitu! Maksudnya, kamu bilang saja ke dokter Marzuki agar memilih salah satu diantara kami. Ayu atau aku. Nanti biar dokter Marzuki sendiri yang menentukan dia akan memilih siapa diantara kami. Gimana?" Aku tertawa melihat dagelan ini. "Heh, usaha sendiri dong. Aku juga mau kok dekat dengan dokter Marzuki. Bukan cuma kalian saja. Dan ingat ya, bukannya kalian sudah punya pacar?! Ayu dengan anak kuliahan, dan Juleha dengan Rangga, ketua tim basket. Kenapa kalian menjadi garanganwati sekarang? Enggak cukup dengan satu hati?" tanyaku ketus. "Emang kalian kira gampang mendekati duda? Lihat aja, dokter Marzuki kan sudah punya anak. Aku jamin, anaknya nggak akan mau pada kalian yang berwajah ibu tiri jahat. Yasmin pasti lebih suka sama aku yang energik, lincah, dan ramah ini!" sahutku lagi. Ayu dan Juleha melengos. "Oh gitu ya. Jadi kamu pun naksir Dokter Marzuki? Oke fine. Mulai sekarang kita bersaing secara sehat. Awas saja kalau ada yang memanfaatkan koneksi keluarga sebagai perantara pendekatan!" Seru Juleha sambil pergi meninggalkanku yang tengah menyalin PR Amelia. Gegara kejadian jatuh dari pohon mangga, tragedi sapu, dan cilok, aku sampai lupa belum mengerjakan PR matematika hari ini. Mungkin aku juga yang salah. Enggak suka pelajaran matematika malah masuk kelas IPA. Duh, nasib. Ini karena bapak yang ingin aku masuk kuliah ke kebidanan. Padahal anak perempuannya ini ingin jadi biduan. Bukan bidan. Lagipula orang-orang sudah banyak yang mengakui bahwa suaraku itu merdu alias merusak dunia. Eh! "Itu, kenapa sih sama Juleha sama Ayu?!" tanya Amelia kepo. "Pagi-pagi udah kerasukan. Marah-marah dan minta tolong orang nggak jelas. Ya nggak?!" sambung Amelia lagi. "Ada dokter baru yang kerja di desa kami. Orangnya ganteng, simpatik, cerdas, humoris, tapi sayangnya sudah punya anak. Mereka sepertinya jatuh cinta sama dokter itu," jawabku. "Lah, kenapa bukan kamu yang jomblo dari lahir saja yang mepetin dokter itu? Mereka kan udah punya gandengan kek truk?" tanya Amelia. "Ya kan? Makanya jujur saja aku enggak mau kalau mereka minta tolong sama aku. Enak saja. Aku sendiri juga mau deket dengan dokter Marzuki," sahutku sambil mengembalikan buku Amelia. "Nih, bukunya. Makasih banyak ya sudah membantu masa depanku, Met," sambungku nyengir. "Iya sama-sama. Lagipula kamu aneh. Kalau enggak suka matematika, kok masuk kelas IPA sih. Sekarang keteteran sendiri kan?" tanya Amelia. "Dulu emang aku nggak suka matematika. Tapi sekarang dengan kekuatan cinta, aku akan mencintai matematika. Aku akan masuk kebidanan, dan unjuk gigi kemampuan pada dokter Marzuki, terus kita bisa kerja bareng. Nikah bareng, punya anak bareng, hihihi." Aku mencerocos sambil membayangkan menikah dengan dokter Marzuki. Amelia meletakkan punggung tangannya pada keningku lalu beralih pada pantatnya. "Suhunya sama. Pantas suka halu," tukas Amelia tertawa. "Asem, enggak bisa lihat teman lagi seneng," omelku. "Hahaha. Aku bercanda. Aku selalu berharap bahwa ...," "La, Layla! Bisa minta tolong sebentar?!" Terdengar suara Rangga yang tiba-tiba muncul dari pintu masuk kelas memotong pembicaraanku dan Amelia. Aku memandang Mamet, panggilan kesayanganku pada Amelia yang artinya soulmate dengan dahi mengernyit. "Aneh banget ya Met pagi ini, banyak banget yang minta tolong mendadak. Ada apa sih?" tanyaku bingung. Amelia mengedikkan bahu. "Entahlah. Meneketehek." "La, ayo ikut aku." Tiba-tiba saja Rangga memasuki kelas dan menarik tanganku keluar ruangan. Weh, pagi ini aneh banget. Hanya satu yang nggak aneh, yaitu aku tetap belum mengerjakan PR matematika. Itu saja! Next?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD