8. Kang Cilok

959 Words
Juleha dengan wajah yang pias meletakkan piringnya di bawah kursi. Lalu dia segera berdiri dan menuju ke arah meja dan bergegas mengambil segelas teh. "Wah, Alhamdulillah ya. Bukan aku yang ambil lengkuasnya tadi. Pasti rasanya manis-manis gitu," sahutku penuh kemenangan saat Juleha melewati tempat dudukku. Juleha mendengus sebal dan sambil menghentakkan kakinya kembali ke tempat duduknya semula. *** "La, mau kemana? Main kabur saja? Kalau mau makan, ya harus mau beresin dong!" Tegur suara ibu saat aku ketahuan tengah mengendap-endap untuk pulang. "Ah, ibu. Kan ada ibu-ibu yang lain. Lagian itu Juleha dan Ayu kok boleh pulang?! Layla sudah ngantuk, Bu!" Protesku pada ibu saat melihat Juleha dan Ayu yang berboncengan motor sedang menjulurkan lidah padaku. "Mereka tadi sudah bantuin masak ibu-ibu. Sekarang kamu yang bantuin ibu-ibu beresin bekas makan prasmanan kita. Ayo." Aku mendengus sebal saat dengan terpaksa aku mengikuti langkah ibu untuk mencuci piring dan mangkok yang kotor. Aku memandang dokter Marzuki yang tengah tertawa dan mengobrol dengan para pengurus desa. 'Huft, nggak apa-apa deh aku ikut beres-beres. Setidaknya ada vitamin A dosis tinggi di sini. Semangat Layla!' Aku lalu mendekat ke arah kerumunan bapak pengurus desa dan mulai mengambil piring kotor mereka. "Permisi Dokter, saya mau mengambil piring bekas makan tadi." Aku mengulurkan tangan ke kursi di dekat Dokter Marzuki. Dokter Marzuki tersenyum. 'Ya Allah, itu manusia atau takjil puasa sih? Kenapa senyumnya seger amat, bisa menghilangkan rasa kantuk.' "Wah, rajin banget ya Mbak Yulia. Yang semangat bantuin para ibu ya," tukas dokter Marzuki seraya mengulum senyum. Aku mengangguk dan secepat kilat menumpuk dan memindahkan piring kotor ke sumur belakang balai desa. *** Akhirnya selesai juga tugas bersih-bersih piring dan teman-temannya. Aku segera keluar dari ruang tengah balai desa dan menghampiri Rama yang sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Berniat untuk mengajak Rama pulang, tapi urung karena terlihat Abang cilok sedang mangkal di luar pagar balai desa. "Dek, ada cilok tuh! Yuk beli!" Seruku sambil menunjuk kearah Abang penjual cilok yang gerobaknya berwarna biru. Rama mendelik. "Mbak, istighfar Mbak." Kini giliran aku yang mendelik keheranan. "Loh, kenapa aku harus istighfar, Dek?" tanyaku bingung. "Lah Embak pura-pura lupa? Setelah salat magrib, Mbak makan di rumah. Terus barusan makan di balai desa. Dan sekarang Mbak mau beli cilok? Aku aja yang laki-laki masih bisa kenyang lo. Masyaallah Mbak. Itu perut manusia apa alien sih?" Aku berkacak pinggang. "Eh, kok kamu yang protes sih?! Yang mau cilok Mbak, kok kamu yang protes? Kalau enggak mau ya udah, Mbak beli sendiri." tukasku manyun. "Entar gendut lo. Sekarang kan badan Mbak sudah gendut," ledek Rama yang memang bertubuh kutilang alias kurus tinggi langsing. "Enak saja gendut. Badan Mbak tuh seksi kek Ariel Tantrum, tahu nggak. Ya sudahlah, sekarang Mbak mau beli cilok sendiri," tukasku sambil melangkah ke Abang penjual cilok. "Bang, beli ciloknya 10 ribu," tukasku setelah sampai di depan gerobak cilok berwarna biru itu. "Mau campur tahu sama gorengan atau cilok saja, Mbak?" tanya penjual itu ramah. "Campur saja sekalian bumbunya dan sambel yang banyak," tukasku sambil menyerahkankan selembar uang warna ungu. "Oh, iya. Ditunggu ya." Abang cilok menerima uangku dan mulai memasukkan bulatan lezat dari kanji tersebut saat aku merasakan bahuku dicolek. "Mbak." Aku menoleh dengan cepat seraya langsung mengomelin adikku. "Apa colek-colek? Katanya nggak mau beli cilok? Sekarang colek-colek lagi?!" Dan sedetik kemudian aku terpana karena yang mencolek bahuku bukan Rama, tapi Dokter cintaku. Eh, dokter Marzuki! Di samping nya, Yasmin, anak dokter Marzuki memandangiku dan tukang cilok bergantian. "Pa, Yasmin mau cilok." Duh, andai bisa aku nyemplung ke dalam baskom tukang cilok. Aku mendelik sementara dokter Marzuki tampak terbengong dan memandangku kaget. Mungkin tidak menyangka kalau aku bisa mengomelinya. "Oalah. Maaf Dokter. Saya kira adik saya. Soalnya tadi saya ajak beli cilok kesini tidak mau, eh sekarang malah colek-colek. Jadi saya damprat. Ternyata saya salah sasaran," sahutku sambil memandang dokter Marzuki yang telah melepas jas putihnya dan menyampirkannya ke tangan kanan. Duh, semakin menambah kharismanya, Cuy! "Mbak Layla suka cilok juga? Saya dan Yasmin juga mau beli. Biasanya tengah malam, saya suka lapar," sahutnya. Aku terbengong. Waduh, makanan kesukaan favorit saja kok bisa sama ya? Fix, jodoh! "Suka Dok, suka banget sama Dokter. Eh, Astaghfirullah. Salah, maksud saya suka makan cilok," sahutku cepat. Aduh, mulut ini nggak bisa bohong dikit! Dokter Marzuki tertawa. "Semenjak saya mengenal Mbak, saya juga semakin sering belajar kok," tukasnya tersenyum. Aku melongo. "Kok bisa Dok! Emang apa hubungannya sama saya?" tanyaku bingung. "Ya ada dong hubungannya. Karena semenjak kenal dengan Mbak Layla, saya harus semakin sering belajar. Belajar jadi muda dan abege lagi," sahut dokter Marzuki tersenyum simpul. "Cie ... Mbak Layla berbunga-bunga." Elah, penjual cilok langgananku di SMA itu menyemangatiku. Aku tertawa canggung. Tentu saja untuk menutupi suara jantungku yang berdetak semakin cepat. "Ini ciloknya, Mbak." Aku menerima plastik cilok itu dengan bahagia lalu membayar cilok pesanannku. "Sekarang Pak Dokter mau beli yang mana?" tanya kang Mamat, abang penjual cilok itu ramah. Aku memandangi dokter Marzuki yang tengah serius menatap barisan cilok di hadapannya. "Cilok campur dengan tahu walik dan tahu mercon 15 ribu," jawab Dokter Marzuki. "Kamu mau beli yang mana, Sayang?" "Aku mau ciliknya saja, Pa. Nggak pedes." "Dengan cilik saja lima ribu rupiah, Bang." "Siap Dokter, ditunggu ya." Kang Mamat dengan cekatan melayani permintaan Dokter Marzuki. "Ini Dokter, sudah siap ciloknya." Kang Mamat mengulurkan plastik cilok pada dokter Marzuki. Dokter Marzuki pun menyerahkan uang warna hijau pada kang Mamat dan beranjak pergi dari tempat kejadian perkara. "Lo, mbak Layla kok masih di sini?" tanya kang Mamat heran. "Iya Kang, saya nunggu kembalian," sahutku. Kening kang Mamat langsung berkerut-kerut. "Maaf Mbak, uangnya tadi tidak ada kembaliannya. Uang yang Mbak berikan pada saya pas!" Seru kang Mamat. Dokter Marzuki tersenyum simpul. "Astaga, Kang. Maaf lupa. Saya gagal fokus. Duh, rasanya pingin nyemplung saja ke dandang ciloknya kang Mamat saja!" Next?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD