"Arvin, kau dimana?!" Seloroh Brian dengan nada yang panik dari seberang sana.
"Di rumah. Ada apa? Kau terdengar panik." Sahutnya.
"Cepat ke rumah sakit!!"
"Rumah sakit? Ada apa?" Kali ini Arvin mulai mengerutkan kening sebab ada rasa penasaran juga sedikit kekhawatiran kala mendengar kata rumah sakit. Apa Brian mengalami kecelakaan?
"Kau baik-baik saja bukan, Brian?" Tanya Arvin lagi memastikan.
"Bukan aku, Arvin, tapi Mirza dan Darel!" Serunya. "Mirza melakukan percobaan bunuh diri! Sekarang sedang kritis, Darel berusaha menyelamatkannya dia juga sedang dalam penanganan!"
Deg.
Pranggg
Jantung Arvin seketika mencelos, bahkan gelas kaca yang ada di genggamannya meloloskan diri begitu saja mendarat ke atas lantai menjadi serpihan-serpihan beling. Kalimat Brian terngiang di kepalanya "Mirza melakukan percobaan bunuh diri…."
Raut wajah Arvin langsung berubah drastis, dengan setengah rasa tidak percaya, serta antara khawatir dan bingung, semuanya berkecamuk dalam batinnya.
"Kenapa, Kak? Ada apa?" Sergah Nevan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"M-mirza…" ucap Arvin dengan terbata, pandangannya lurus ke depan.
"Mirza kenapa??"
"M-mirza…" Belum sempat dirinya memberi penjelasan lebih lanjut, ponsel Nevan keburu berdering yang Arvin tahu pasti itu Brian, yang akan memberi kabar tidak mengenakan barusan kepada Nevan. Sebelum Nevan menjawab teleponnya, lelaki itu sempat menatap Arvin bergantian dengan layar ponselnya.
"Kau akan segera mengetahuinya." Ujar Arvin.
Benar dugaannya, panggilan telepon itu berasal dari Brian. Lantas raut wajah Nevan juga ikut berubah seketika. Setelah mendapat kabar dari Brian kalau Mirza baru saja melakukan percobaan bunuh diri, ia lantas meluncur ke rumah sakit bersama Nevan. Namun, sebenarnya sejak Arvin menerima panggilan suara dari Brian itulah, jiwanya serasa sudah tidak lagi bersamanya. Sebab itu sepanjang jalan maupun setelah tiba di rumah sakit, Arvin lebih banyak diam tidak seperti Nevan dan Aksa yang kelihatan panik. Ada satu hal yang berhasil mengusik pikiran Arvin. Yakni tentang percobaan bunuh diri. Entah kenapa sebaris kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya.
***
2 jam sudah mereka terduduk di ruang tunggu. Bahkan Aksa nampak terlelap di kursi seberang sana. Sedang Arvin, lelaki itu masih masih berputar dalam pikirannya sendiri.
"Benar, Kak. Sebaiknya kau beristirahat di rumah bersama Kak Arvin, biar aku dan Kak Brian yang menunggu di sini." Mendengar namanya disebut dalam penuturan Nevan barusan, lamunan Arvin pun terpecah dan melempar pandangannya seketika ke arah Nevan. Kemudian ia beralih menatap Aksa yang bangkit dari duduknya.
"Baiklah... Kalau begitu aku akan pulang bersama Arvin, segera beritahu aku tentang perkembangan mereka." Katanya, seraya melangkahkan kaki mendekat ke arah Arvin yang terduduk di atas kursi roda. Sdah hampir setahun Arvin menggunakan kursi roda sebab kondisi syarafnya tidak stabil, dirinya kerap kali terjatuh tiba-tiba kala tengah melakukan aktifitas. Pun Aksa meraih pegangan kursi roda yang ditempati Arvin dan mendorongnya untuk meninggalkan rumah sakit.
Mereka kembali ke rumah dengan menumpangi taksi. Aksa begitu telaten menjaga Arvin meski dirinya juga mesti menahan kantuk. Membantu Arvin menaiki taksi serta melipat kursi rodanya dan menyimpannya di bagasi. Begitu juga ketika taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di tempat tujuan. Dengan sigap Aksa berlari ke arah bagasi untuk menyiapkan kursi roda Arvin.
"Biar aku saja." Ucap Aksa ketika supir taksi baru saja membuka bagasinya.
Pun dengan sangat hati-hati Aksa membantu Arvin untuk turun dari taksi dan mendudukkannya di kursi roda. Setelah menyerahkan beberapa lembar uang kertas, Aksa segera mendorong kursi roda Arvin memasuki kediaman mereka.
Lagi-lagi, dengan begitu hati-hati Aksa membantu Arvin menapaki anak tangga satu persatu sampai lelaki itu sampai di kamarnya bahkan terduduk di atas ranjang. Hal itu membuat terbesit rasa tidak enak hati dalam diri Arvin. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke rumah, Arvin memerhatikan lekat-lekat wajah Aksa yang jelas terlihat menahan kantuk. Namun lelaki itu masih dengan tulusnya membantu Arvin sampai ke kamar.
Dalam bantinnya, Arvin merutuki dirinya sendiri yang selalu merepotkan rekannya yang lain. Seolah kehadiran dirinya ini hanya menambah beban bagi mereka.
"Jika kau butuh apa-apa, telepon saja aku. Pasti aku akan bangun." Ujar Aksa, sebelum dirinya meninggalkan kamar Arvin.
Mendengar hal itu, Arvin menyunggingkan senyumnya ke arah Aksa. "Beristirahtlah." Ucapnya. Arvin tahu lelaki itu sangat butuh istirahat sekarang.
"Terima kasih, Kak Aksa. Aku tidak akan merepotkanmu lagi." Batin Arvin, bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar.
Sedetik setelah pintu kamarnya tertutup, menyisakan hanya dirinya seorang yang berada di dalam kamar, senyum Arvin yang semula terukir luntur seketika. Perlahan jemarinya meraih figura yang disimpannya dalam laci nakas, menampilkan potret kebersamaannya bersama rekan-rekannya yang lain.
"Mirza…" Desisnya sembari mengusap bagian wajah Mirza, yang di sana terpampang sedang memamerkan senyum kotaknya, terlihat begitu tulus. Namun belakangan ini Arvin tidak lagi pernah melihat Mirza menampakan senyum itu.
"Maafkan aku kalau selama ini terlalu tak acuh padamu, aku sama sekali tidak tahu sebesar dan seberat apa masalahmu tapi… apa bunuh diri menjadi satu-satunya jalan?"
Selanjutnya Arvin menoleh ke arah jarum jam yang berdetik, sudah memasuki waktu bagi dirinya untuk minum obat. Karena Nevan tidak ada, jadi dirinya akan melakukannya sendiri tanpa bantuan Nevan yang seperti biasanya. Pun lelaki itu meraih tiga botol obat yang diletakkan di atas nakas. Sebelum membuka tutupnya satu persatu, Arvin memandanginya dengan lekat selama beberapa detik.
"Nevan, kau tidak perlu lagi repot-repot mengurusku yang sudah tidak akan pernah sembuh dari penyakit sialan ini. Penyakit yang aku sendiri tidak mengerti." Ucapnya sambil mengeluarkan pil-pil obat itu ke telapak tangan. Namun, Arvin tidak hanya mengeluarkan satu buah pil melainkan mengeluarkannya dalam jumlah banyak dan tidak hanya dari satu botol tapi tiga botol sekaligus. Bahkan pil-pil tersebut sampai berserakan di ranjangnya.
Lelaki itu memejamkan matanya, sebelum pada akhirnya, pil dalam jumlah banyak yanga ada di telapak tangannya itu didaratkan semua ke dalam mulut. Menelannya tanpa bantuan air barang seteguk. Dalam hitungan detik, kepala Arvin mulai berat, semua benda yang ada di sekitarnya mulai memutar.
Brukkkk
Arvin ambruk di atas ranjangnya sendiri. Kedua matanya masih terbuka, wajahnya nampak begitu pucat. Kemudian, pada detik berikutnya Arvin mulai mengalami kejang-kejang. Semakin lama kejangnya itu semakin parah. Serta mulutnya juga mengeluarkan busa berwarna putih yang lama-lama semakin banyak hingga menutupi seluruh bagian bibirnya.
Kejang-kejangnya itu semakin tak terkendali, ranjangnya sampai bergoyang cukup kencang bahkan bantal, guling, sprei, selimut juga botol-botol obatnya itu berjatuhan ke atas lantai. Sebelum kejang-kejangnya berhenti, tubuh Arvin bagian d**a nampak terangkat sampai cukup tinggi, barulah Arvin kembali ambruk. Dengan mata yang masih terbuka dan mulut dipenuhi busa, Arvin terkapar tak berdaya di atas ranjangnya sendiri.
Perlahan Arvin bangkit dari rebahnya dan melihat kondisi sekitar ranjang yang berantakan. Lantas segera bangkit dan memandangi raganya yang telah terkapar dengan mata terpejam dan mulut dipenuhi busa. Arvin sadar, arwahnya sudah terpisah dari raganya sendiri. Perlahan ia melangkahkan kakinya, yang mana sudah tidak lagi terasa nyeri pada syarafnya. Arvin sudah terbebas dari rasa sakit yang selama ini membelenggunya. Ia melintasi pintu kamarnya begitu saja tanpa harus membukanya. Berjalan ke arah kamar Aksa, yang penghuninya sedang terlelap di sana.
"Kak Aksa, aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Ponselmu terus berdering, sepertinya tidurmu nyenyak sekali." Ucap Arvin.
Tak lupa ia juga mengunjungi rekannya yang masih berada di rumah sakit. Yang pertama dicarinya adalah Mirza, lelaki itu masih terbaring di atas ranjang dengan peralatan medis yang melilit tubuhnya.
"Mirza… jangan terlalu lama terbaring di sini, ya. Aku pergi dulu, maaf kita tidak sempat bertemu." Ucapnya, kemudian Arvin melangkah pergi dari sana. Kali ini kamar Darel yang menjadi tujuannya. Namun, ketika baru saja dirinya sampai di depan pintu, kakinya serasa terpaku kala melihat ada Nevan juga di dalam sana. Ada sedikit perasaan bersalah yang terselip dalam batinnya, sebab harus pergi begitu saja tanpa mengucap pamit yang benar-benar pamit pada Nevan yang selama ini selalu sabar dalam membantu serta mengurusnya.
"Bahkan membayangkan reaksi Nevan ketika mendengar kabar kematianku saja sudah terasa begitu menyesakkan bagiku," ujar Arvin. "Nevan, maafkan aku. Tapi kurasa ini yang terbaik untukku, juga untuk kalian semua. Terima kasih banyak atas ketulusan hatimu. Sekali lagi terima kasih, dan maaf."
Ketika baru saja Arvin menyelesaikan penuturannya. Dirinya dibuat terkejut dengan sosok Mirza yang baru saja menembus pintu kamar tempat Darel dirawat dari dalam. Arvin belum terlalu menyadari, sampai Mirza menghentikan langkah dan membalikkan tubuh ke arahnya.
"Kak Arvin?" Mendengar namanya disebut lantas Arvin pun menoleh.
Betapa terkejutnya ia kala mendapati Mirza berdiri di hadapannya. Dan bagaimana bisa Mirza melihatnya? Sebentar, Mirza? Bukankah baru saja Arvin melihat lelaki itu tengah terbaring di ruangannya tak sadarkan diri? Itu artinya, yang berada di hadapannya ini…
"Eh, kau bisa melihatku?" Tanya Mirza yang juga keheranan.
Menyadari kalau dirinya tengah berhadapan dengan arwah Mirza, lantas Arvin segera melarikan diri.
"Kak Arvin, tunggu!!"